Dibawah ini adalah komentar dari Prof. Amin Soebandrio dari bagian
Microbiology dari FK UI ("How true is it?"). Saya berpendapat yg.
sama bahwa kemungkinan sekali tuduhan thd. AS dan WHO ini tidak benar
dan cuma utk. membuat sensasi dari Menkes (kalau Menkes memang benar
membuat tuduhan tsb. dibawah) sebab:

1) AS telah ikut menanda tangani di Convention on the Prohibition of
the Development, Production and Stockpiling of Bacteriological
(Biological) and Toxin Weapons and on their Destruction pd. tahun
1972.
2) kalau tuduhan memang benar pasti pasti akan ada protes dari Rusia
atau China sebab akan membahayakan mereka. Tetapi saya setahu tidak
ada reaksi apapun dari Rusia atau China.
3) Tindakan Menkes sering menjadi bahan "lelucon" di milis Kedokteran
Indonesia. Antara lain, misalnya: waktu merayakan perkawinan anaknya,
Menkes mendapat sumbangan beberapa miljar dari pabrik obat, yg.
terang tidak etis sebab conflict of interest yg. bisa bisa merugikan
masyarakat/pasien2.

BH Jo


RE: [Dokter_Indonesia] Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu
Burung

How true is it?

Amin Soebandrio

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Selamet Hidayat
Sent: Monday, February 25, 2008 10:25 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]
Subject: [Dokter_Indonesia] Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi
dari Flu Burung


E-mail dari rekan megha bung di milis unorc-ias.
Mudah-mudahan bermanfaat.

Jumat, 22-02-2008
Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung
Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan du nia itu
dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian
influenza (H5N1).
Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha
an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan
harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah!
Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

---cut---


--- In [email protected], "@};-PurpleRose};--" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ada info lanjut tentang ini?
> 
> Julia
> -------- Original Message --------
> Subject:      [cefil12] teroris beneran (dari milis tetangga), ttg 
Siti 
> Fadhilah Supari
> Date:         Thu, 28 Feb 2008 23:07:32 -0800 (PST)
> From:         iftah shiddiq <[EMAIL PROTECTED]>
> Reply-To:     [EMAIL PROTECTED]
> To:   Alumni Pondok <[EMAIL PROTECTED]>, 
Mailinglist 
> alumni_cefil <[EMAIL PROTECTED]>, wartawan alkisah 
> <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> 
> Saatnya kita membuka mata dan mengetahui siapa terorisme dunia
> sesungguhnya. ...
>  
> Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health 
> Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah 
berhasil 
> menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam 
mengembangkan 
> senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1). 
Setelah 
> virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an 
dari 
> negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga 
mahal 
> di negara berkembang, termasuk Indonesia .
>  
> Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! 
Tangan
> Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa 
Indonesia, 
> Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris 
dengan 
> judul It's Time for the World to Change.
>  
> Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan 
cara 
> mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu 
burung. 
> "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung 
> dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda 
> Network di Jakarta, Kamis (21/2).
>  
> Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan 
> mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan 
senjata 
> biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan 
> memproduksi senjata biologi.
> Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes 
dari 
> petinggi WHO.
>  
> "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo 
mawon. 
> Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, 
> tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas 
kita, 
> lewat WTO, lewat Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada 
kita 
> sudah kaya," ujarnya.
>  
> Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 
> 1.000eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa 
Inggris. 
> Total sebanyak 2.000 buku. "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam 
> waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. 
Kalau 
> cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, 
saya 
> sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar," katanya.
>  
> Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 
> 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. "Saya sedang 
menulis 
> jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana 
> pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya 
> dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus 
yang 
> saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," 
ujar 
> menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
>  
> Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang 
> Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. "Bukunya 
sudah 
> habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya 
> bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa 
> Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi 
menarik 
> buku dari peredaran.
>  
> Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer 
berupa 
> senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku 
setebal 
> 182 halaman itu.
> Mengubah Kebijakan Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah 
sudah 
> membikin sejarah dunia.  Gara-gara protesnya terhadap perlakuan 
> diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah 
> kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.
>  
> Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai 
terjadi 
> di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan 
Fadilah 
> sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan 
dunia 
> dari dampak flu burung. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah 
memilih 
> senjata yang terbukti lebih
> berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi 
ancaman
> virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.
>  
> The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi 
> pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga 
terkena 
> endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus 
ada. 
> Namun aneh, obat tersebut justru
> diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Di 
tengah 
> upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan 
diagnosis, WHO 
> melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong 
memerintahkannya 
> untuk menyerahkan sampel spesimen.
>  
> Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta 
> laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata 
sama. 
> Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong? Fadilah 
merasa 
> ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. 
Sampel 
> virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke 
WHO 
> CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat 
bibit 
> virus.
>  
> Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan 
fakta, 
> pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara 
maju, 
> negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari 
> Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa 
izin. 
> Tanpa kompensasi.
>  
> Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat 
> negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global 
Influenza 
> Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah 
> menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih 
dari 
> 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa 
> menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak 
memprosesnya 
> menjadi vaksin.
>  
> Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa 
para 
> ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang 
disimpan WHO 
> CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty 
di New 
> Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang 
dari 
> WHO, selebihnya tak diketahui.
>  
> Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab 
inilah 
> dahulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk 
> vaksin atau senjata kimia? Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia 
minta 
> WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh 
> hanya dikuasai kelompok tertentu.
> Ia berusaha keras. Dan, berhasil.
>  
> Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang 
selama 
> ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The 
> Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi 
transparansi. 
> Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar 
> mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan 
di 
> Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
>  
> Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta 
pertukaran 
> virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan 
dengan 
> cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, 
selama 
> mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan 
dunia. 
> Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan 
> dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang 
> Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International 
Government 
> Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, 
yaitu 
> sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.
> 
> --------------------------------------------------------------------
----
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. 
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
>


Kirim email ke