Saudara Lunarko, Kalau anda berminat bertanya atau mempertanyakan yang ditulis dalam undangan, maka silakan datang saja ke diskusi tersebut. Jangan seperti ketika diskusi istilah Cina atau Tionghoa, yang banyak bacot di milis malah gak nongol.
Hormat saya, Yongde --- In [email protected], Albertinus Lunarko <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dengan hormat, > > Terimakasih atas infonya. > Saya sekedar ingin memberi saran, mohon maaf jika kurang berkenan. > > Dalam menyebarkan sebuah teori, kita harus benar-benar berhati-hati. > Karena jika salah maka berarti tanpa sadar kita telah menyesatkan umat. > > Misalnya soal pertanyaan: > > T: Apakah dengan Ji Xia, Bodhisatwa Tian Jun dapat mencabut karma buruk kita? > J: Para Bodhisatva, Tian Jun tidak dapat mencabut karma buruk kita. > > Jawaban diatas bisa diartikan: > 1. Para Bodisatwa tidak bisa mencabut karma buruk kita hanya dengan Ji Xia > 2. Para Bodisatva tidak punya kemampuan / kekuatan untuk memcabut karma buruk. > > Pertanyaannya adalah, apakah teori diatas BENAR ? Darimana kita bisa tahu ? > Apakah dari tafsir buku ? Buku itu sendiri referensinya dari mana? Bukankah buku tersebut (apapun namanya) adalah juga teori / hasil pemikiran seseorang di masa lalu ? > Bagaimana jika teori yang tertulis di buku itu salah? > > Teori tentang kehidupan dan kegaiban tidak gampang dimengerti karena keterbatasan kemampuan kita! > > Terlebih lagi 'kemampuan bodhisatva & Dewa, darimana kita bisa 'mengukur' ? > > Bagaimana cara kerja karma ? > Bagaimana cara kerja Ci Swak ? > Siapa yg bisa tahu ? > > Apakah semua yg terjadi karena karma? > Apakah tidak tercipta karma baru? Jika tidak, kenapa karma tidak 'habis' ? > Jika selalu muncul karma baru darimana pemicunya? > > Hati-hati dalam berteori, apalagi jika menyangkut hal-hal yg berada diluar batas deteksi indera kita. > > Sekali lagi saya mohon maaf jika ada yg kurang berkenan. > > Salam hormat, > Lunarko > > > > > Hendri Irawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dengan hormat, > > Forum Diskusi Budaya Tionghoa dan Sejarah Tiongkok dengan ini > mengundang saudara-saudari sekalian untuk menghadiri diskusi dengan topik: > > Serba-Serbi Budaya JiXa / Ciswak / Kias / Tolak Bala > > waktu: hari minggu, tanggal 9 Maret 2008 pukul 13.00 WIB s/d selesai > lokasi: jl. Pangeran Jayakarta, Kompleks Ruko 46 (sebelah Honda/Imora > Auto Plaza) No D-14 > > Pembicara: Ardian Cangianto > > Sedikit tentang JiXa, budaya ini eksis di masyarakat Tionghoa, > biasanya dalam rangka tertentu. Seperti tahun baru atau event-event > lainnya yang penting menurut penanggalan Tionghoa. Diskusi akan > mencoba menyoroti sebenarnya apa itu JiXa, termasuk segi kontroversi > JiXa mulai dari komersialisasi dan penipuan. Tanya jawab di bawah > adalah pertanyaan-pertanyaan yang biasanya muncul terhadap budaya ini. > > T: Apakah dengan upacara JiXa(menyembayangi kesialan) > ,Bodhisatva atau TianJun ataupun Dewa-Dewi bisa mencabut karma buruk > kita ? > j: Para bodhisatva atau TianJun ataupun Dewa-Dewi TIDAK bisa mencabut > karma buruk kita. > > t: Jadi apa gunanya kita memohon kepada mereka jika > dalam kesulitan ? > j: Walau mereka tidak bisa mencabut karma buruk kita , > tapi mereka memiliki kemampuan utk menunda karma buruk > kita agar tidak berbuah dengan cepat atau membuat > karma baik kita berbuah pada saat karma buruk berbuah. > Jadi fungsi jixa(ciswa/kias) adalah bentuk permohonan > dari kita agar para TianJun berkenan menunda > berbuahnya karma buruk. Tapi itu juga tergantung > kepada kita sendiri pada saat mengalami penundaan itu. > Jikalau kita tidak bisa memanfaatkan moment dengan > sebaik2nya , niscaya karma buruk juga tetap akan > menimpa diri kita dan pada saat karma buruk berbuah > tidak ada karma baik yang berbuah secara bersamaan > sehingga mungkin kita akan lebih sulit lagi > menghadapinya. > > t: Apakah JiXa itu harus dengan upacara megah ? > j: Apa arti upacara jika tidak disertai 4 pilar ? > JiXa bagaikan kita menunda ulangan agar kita bisa > lebih siap lagi. Para TianJun atau Bodhisatva bagaikan > teman yang membawa lentera untuk menemani kita > melewati lorong gelap dan penuh lubang. Dan jalan itu > tetap harus kita lalui. > > t: Bukankah itu juga melanggar prinsip dingli (hukum > yang tetap)dan daoguo (hukum karma/ying guo ) dengan adanya > bantuan dari para Bodhisatva atau TianJun ? > j: Prinsip dingli itu memang ada tapi dingli sendiri > akan lepas jika kita memahami hakekat dari > YiJing(kitab perubahan). Karma juga mengikat diri > kita, tapi seperti yang dijelaskan diatas , bahwa > tanpa 4 pilar itu maka para TianJun/Bodhisatva tidak > bisa membantu banyak. Artinya tetap diperlukan usaha > kita juga dalam mengikis karma buruk. Para TianJun > atau Bodhisatva adalah teman setia yang menemani kita > dalam keadaan menderita.Nasehat2nya dapat kita baca > dalam ujar2 mereka dan diresapi oleh diri kita sebagai > sarana penghiburan. > > t: Apa 4 pilar itu ? > j: 4 pilar itu adalah > 1.menyesali perbuatan2 kita yang kita lakukan secara > sadar maupun tidak sadar > 2. mengubah semua sifat2 buruk yang melekat dalam diri > kita > 3. berdana baik dana dalam bentuk pengajaran , > keamanan maupun materi dan tenaga > 4. memahami hakekat dhamma serta guiyi(tisarana)dan > menerima sila2 dasar. > Mungkin dalam agama yang sedang popular juga ada 4 > pilar itu bagi mereka yang tertimpa musibah, yakni > pertobatan , menjadi manusia baru (baptis), menyokong > mereka yang kekurangan , iman dan menghayati kitab > sucinya. > Jadi pada hakekatnya upacara JiXa itu sia2 jika tidak > ada 4 pilar. Sayangnya banyak yang tidak memahami 4 > pilar penyangga JiXa. > Dengan memahami dan melakukan 4 pilar itu maka upacara > JiXa tidak diperlukan lagi. > > t: Bukankah kita juga mengenal prinsip bahwa "Takdir > berada ditangan kita bukan ditangan TIAN"? > Jadi apa perlunya kita memohon ? > j: Adalah manusiawi jika kita dalam keadaan kesulitan > meminta perlindungan dari yang lain. > Seperti kita waktu masih kecil dan diganggu oleh org > lain , tentunya kita memohon bantuan dari org lain > agar bisa bebas dari gangguan. > Begitu pula manusia kebanyakan yang masih perlu > perlindungan dan disitulah para Bodhisatva dan TianJun > berperan. > Tidak semua manusia bisa bertindak mandiri dalam > mengatasi gelombang kehidupan. Banyak dari mereka yang > memerlukan kawan , sahabat maupun para bodhisatva. > Yang diperlukan adalah kawan setia , sahabat sejati > dan pemahaman apa itu bodhisatva. > Jika anda tidak memiliki kawan setia dan sahabat > sejati jadikanlah para bodhisatva itu kawan setia anda > yang selalu mendampingi anda dalam suka maupun duka. > Penyesalan , perubahan diri kita , beramal dan > mempelajari hakekat dhamma itu adalah kita yang > melakukannya sendiri. Para Bodhisatva dan TianJun > tidaklah melakukan hal2 seperti itu atas nama kita. > Diri kita sendirilah yang membuat suatu perubahan > dalam hidup kita sendiri. > Semboyan "Ming Zai Wo Bu Zai Tian"(takdir ditangan > kita bukan ditangan Tuhan) dapat diartikan suatu > kritikan para sesepuh yang mengkritik perilaku > kebanyakan masyarakat yang beranggapan bahwa dengan > menyogok para dewa dan TianJun bisa membebaskan mereka > dari karma2 buruk dan mereka yang menyelewengkan > hakekat JiXa itu sendiri untuk kepentingan pribadi. > Bisa juga diartikan adalah sikap mandiri dalam > mengatasi segala gelombang kehidupan. > > Terima kasih. > > > > > > > --------------------------------- > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > > [Non-text portions of this message have been removed] >
