Betul sekali,mas Agung.

Fenomena diskriminasi adalah sebuah masalah yang

a) multi-dimensional
b) religio-kultural
c) historis politis

a) Adalah keliru menganggap diskriminasi adalah fenomena yang satu 
dimensional. Diskriminasi sering berjalan dua arah. Dari arah 
penduduk lokal terhadap pendatang, ataupun pendatang terhadap 
penduduk lokal. perlakuan yang anda gambarkan, adalah satu sisi 
dimensi, namun juga ada keluhan pegawai penduduk lokal yang berkerja 
di perusahaan Tionghoa, dan merasa dibatasi tingkat kenaikan 
pangkatnya. Ini dikeluhkan bukan semata oleh "orang kecil" tetapi 
beberapa manager, seperti misalnya seorang kenalan di Lippo, BCA dan 
Astra beberapa belas tahun silam. 

Sebaliknya saya alami dari masa kecil, ada dokter RSUP datang dari 
Shanghai tahun 50an akhir, andal sekali, tetapi dia selalu menjabat 
orang kedua atau ketiga.

b) Seperti anda paparkan, posisi budaya dan agama dapat mempengaruhi 
intensitas diskriminasi atau pembedaan etnis. rata rata di Indonesia 
timur, dimana budayanya Non Islam, pembauran lebih baik, contoh 
utama: Minahasa. Contoh yang anda gambarkan juga menguatkan these ini.
Dikalangan komunitas Katholik Roma, saudara saudara Tionghoa secara 
ueberproportional (bahasa Indonesianya apa ya?) sangat aktif, baik 
dalam kancah politik, seperti misalnya PMKRI, CSIS dan Partai 
Katholik, maupun dalam hirarki gereja. Juga dalam komunitas Buddha 
Mahayana, Tantrayana, maupun denominasi Buddhisme yang lain.

c) Peran golongan Tionghoa dalam politik juga berbeda dari wilayah ke 
wilayah. Ada yang langsung terjun ke kancah perjuangan seperti 
laksamana John Lie, pak Tonny Wen, pak Siauw, pak Yap, namun tak 
kurang dari mereka yang selalu berada diluar kejadian politis, ini 
terutama dikuatkan dengan adanya politik Tionghoa orde baru. Sikap a-
politis banyak saudara saudara Tionghoa sering menunjang rasa 
antipati banyak penduduk lokal.

Conclusio: feniomena ini adalah hal multidimensional, yang harus kita 
atasi secara multidimensional pula. Jadi, arus diskrimansi datang 
dari dua arah, yang harus ditanggulangi dari dua arah. Pendekatan 
interaktif.

Apakah orang Tionghoa kebetulan kebanyakan mewakili the Haves, 
sedangkan penduduk lokal mewakili the Have Nots, harus dibuktikan 
statistically. Kalau benar demikian, maka garis pemisah berjalan 
tepat dititik etnis, ekonomis dan finasial. Ini menambahkan 
kerunyaman. Irihati sosial.

Membahas masalah ini emotionally tak membawa manfaat, apalagi kalau 
kubu yang berhadapan sinis satu dengan yang lain. Mengakui adanya 
fenomena ini dalam masyarakat kita adalah kejujuran historis. pasti 
ada perkecualian, seperti di-mana mana, tetapi, seperti pepatah 
Jerman, "ein paar Moewen zeigen noch lange keinen Sommer an", 
beberapa burung camar yang (mulai) tampak belum menandakan datangnya 
musim panas, mengatakan, beberapa kasus perkecualian TIDAK meniadakan 
kasus standard atau yang banyak terjadi.

Selamat berdiskusi

danardono







--- In [email protected], "F.X.J. Agung Wijaya, S.T." 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maaf, saya jadi ingin nimbrung nih. Biasanya saya cuman ikutan baca 
diskusi aja, tapi skrg jadi ingin ikutan bicara.
> Tentang diskriminasi, mungkin perlu ditegaskan bahwa yg dimaksud 
adlh diskriminasi di Indonesia thd org Tionghoa.
> Saya dibesarkan di perkampungan di Surabaya, di mana saya sering 
diteriaki "China....China....China...!" saat pulang sekolah. Saat 
bermain, saya sering diancam teman2 bermain saya, "Kamu China, jangan 
macam2, nanti kami pukuli ramai2, tahu rasa kamu !"
> Saat SMP, saya pindah ke kampung yg lain, sebagian warganya org 
Jawa Kristen, & saya jarang mendengar kata2 "China" disebut2.
> Tetapi di SMP saya (SMP Katholik yg mayoritas siswanya Tionghoa) 
ada guru (kebetulan Muslim) yg pernah selama 1 jam pelajaran memaki2 
Tionghoa krn salah satu teman saya ngobrol saat dia menerangkan 
pelajaran. Dia bilang : "Kalian Singkek jangan macam2, di Indonesia 
kalian cuma numpang hidup, kalau tidak suka di Indonesia kalian bisa 
pulang ke negara kalian !!"
> Kejadian masa kecil saya itu adalah kenangan yg menyakitkan bagi 
saya. Di Surabaya saya juga pernah dimintai uang lebih banyak saat 
membuat KTP, petugasnya terang2an bilang tarif utk Tionghoa lebih 
mahal (tapi itu sih, masalah kecil sekali, tidak ada artinya 
dibandingkan yg lain2 yg pernah saya alami).
> Sekitar thn 2000 saya bertugas di Flores, tepatnya di kota Ende. 
Saya mendengar cerita, saat kerusuhan Mei 1998, kota Ende juga hampir 
terbakar. Saat itu kaum Muslim dari pantai bergerak ke kota, tetapi 
dihadang oleh para pemuda gereja yg turun dari bukit2 sekitarnya. 
Akhirnya hanya beberapa toko di dekat pantai yg terbakar habis, 
sementara yg agak jauh dari pantai semuanya aman2 saja.
> Di Flores, rasa kesukuannya masih tinggi sekali, tetapi itu bukan 
rasa anti Tionghoa. Mereka bisa aja bilang : Dasar kamu China pelit. 
Tetapi itu adalah justru makian antara sahabat. Kaum Tionghoa 
dilindungi di sana.
> Sekitar thn 2004 saya bertugas di kota Kupang, dan saya juga tidak 
merasakan rasa anti Tionghoa di sana, meskipun rasa kesukuan mereka 
tinggi (mereka terdiri dari banyak suku : Sabu, Rote, Sumba, Timor, 
Alor, Bajawa, dll).
> Sekitar thn 2005 saya bertugas di Bali. Saya menemukan fenomena yg 
lain lagi. Orang Bali jauh lebih welcome thd org Tionghoa drpd thd 
org Jawa, apalagi sesudah Bom Bali. Sahabat saya yg org Jawa Katholik 
dan sudah lama tinggal di Bali, bilang kalau dia stress thd perlakuan 
org Bali, krn org Bali menganggap kebanyakan org Jawa adalah Muslim, 
yg ujung2nya dianggap sbg tukang bom, pencuri, perampok, pelacur, 
dll. Fenomena lainnya, di Bali, org Tionghoa kebanyakan adalah Buddha 
& Khonghucu, beda dgn di Jawa yg kebanyakan adalah Kristen. Di Kuta, 
Kelentheng hrs mengirim group barongsai ke Pura Hindu tiap ada 
upacara Hindu, sebaliknya Pura Hindu juga hrs mengirim group 
gamelannya ke Kelentheng tiap ada perayaan Khonghucu. Di Pura Besakih 
ada tempat sembahyang leluhur Tionghoa (patungnya dgn pakaian china & 
mata sipit) & Hiolo (tempat menancapkan hiosua khas china) di mana 
org Bali juga ikut sembahyang di sana. Tiap hari raya Galungan ada 
arak2an Barong Landung (spt ondel-ondel di jakarta) di mana patung 
prianya hitam (personifikasi raja Bali) & patung wanitanya kuning 
bermata segaris/sipit (personifikasi putri china).
> Lalu saya bikin KTP di Bali. Ternyata ngurusnya tidak sulit, 
biayanya tidak lebih mahal, samasekali tidak dipersulit, tidak 
dimintai surat ini itu, cukup surat keterangan pindah & KTP lama aja. 
Alangkah senangnya, ternyata saya diperlakukan sama dengan org Bali 
lainnya, tidak ditanya ini itu, tidak dibebani syarat ini itu.
> Thn 2006 ayah saya meninggal dunia. Orangtua saya tinggal di 
perumahan di pinggiran Surabaya. Kebetulan pas ayah saya meninggal, 
ketua RT datang ke rumah. Begitu tahu ayah meninggal, langsung 
beritanya disiarkan lewat corong Masjid. Bayangkan !! Padahal mereka 
tahu kami keluarga Tionghoa & bukan Muslim. Dan tidak lama kemudian 
rumah kami penuh dgn tetangga yg datang melayat.
> Kesimpulan / pertanyaan saya :
> 1. Diskriminasi thd Tionghoa hanya ada di daerah tertentu atau 
orang2 tertentu saja, yg sudah terkontaminasi paham2 tertentu.
> 2. Daerah tertentu tsb hanya sebagian saja yg rasis, buktinya pd 
Mei 1998 banyak org Tionghoa yg dilindungi oleh penduduk.
> 3. Sebagian rasis karena faktor ekonomi, merasa org Tionghoa lebih 
mudah diperas.
> 4. Tiap etnis pasti mempunyai rasa kesukuan dengan kadar tertentu.
> 5. Rasa kesukuan hrs dibedakan / tidak sama dgn rasis anti Tionghoa.
> 6. Sejak reformasi, diskriminasi thd org Tionghoa semakin sedikit, 
org Tionghoa semakin dihargai, lebih bebas berbudaya, yang ada 
sekarang adalah rasa kesukuan, bukan rasis anti Tionghoa.
> 
> Salam damai,
> agung
> 
> 
>   ----- Original Message ----- 
>   From: harry alim 
>   To: [email protected] 
>   Sent: Saturday, May 10, 2008 12:37 AM
>   Subject: Re: [budaya_tionghua] Diskriminasi, sebuah diskusi tak 
berujung
> 
> 
>    
> 
>   ali heng,
> 
>   membicarakan diskriminasi memang seyogyanya akan lebih pas kalau 
spesifik. apakah pembicaraan adalah pada tataran peraturan, tataran 
pelaksanaan peraturan atau tataran persepsi masyarakat. dan yang juga 
penting pada kurun waktu yang mana?
> 
>   kalau mengutip apa yang dituliskan oleh ali heng, terlihat benar 
bahwa ali heng ingin bicara pada tataran persepsi
> 
>   untukbicara pada tataran persepsi, jelas bahwa orang yang 
mempunyai pendapat seperti ali heng ada beberapa. tentu yang jadi 
pertanyaan adalah berapa persenkah yang mempunyai persepsi seperti 
itu.
> 
>   tidak dapat disangkal bahwa ali heng mewakili sekelompok orang 
tionghua yang mempunyai persepsi sama.
> 
>   itulah yang sebenarnya saya usulkan dalam tulisan sebelum ini, 
pada tataran persepsi seharusnya perlu dipelajari sebaran persepsi 
orang tionghua yang di indonesia tentang diskriminasi itu sendiri. 
apakah terdistribusi normal atau skewed.
> 
>   pendapat yang disampaikan oleh ali heng adalah wajar2 saja dan 
memang menggambarkan salah satu persepsi orang tionghua sendiri, 
tentu saja untuk mengklaim bahwa pendapat ali heng adalah mewakili 
persepsi seluruh masyarakat tionghua yang ada di indonesia perlu 
didukung dengan data.
> 
>   dan semuanya oke2 saja
> 
>   salam,
> 
> 
>   harry alim 
> 
>     From: ALIANTONY ALI 
>     Subject: Re: [budaya_tionghua] Diskriminasi, sebuah diskusi tak 
berujung
> 
> 
>     ini lor kok kita orang tionghoa merasa ngak nyaman di negeri 
ini....ini yang mau kita tanyakan .... semua orang udah tahu di 
negeri ini diskriminasi ama orang tionghoa... sejauh mana tionghoa 
ini berperan di negeri ini.kok harus korbanya orang TIONG HOA...kok 
orang TIONGHOA yang selalu di kambing hitamkan. jadi kalau lu bahas 
diskriminasi aja mah ... sampai bau tanah lu pun ngak ngerti ngerti 
juga....jadi jangan bahas DISKRIMINASI apa itu? artinya apa?.... 
semua yang di sini udah ngerti lor gitu... yang ngak di mengerti 
adalah DISKRIMINASI ALA NEGERI PAMAN CAK ini.sekarang ada tionghoa 
yang merasa di diskriminasi dan ada yang tidak, di negeri paman cak 
ini.kan udah jadi dua kubuh kan antar yang pro dan kontra... so 
inilah yang menarik kita bahas..jadi jangan topik DISKRIMINASI LAGI 
LAH... tapi PRO dan KONTRA dikriminasi di indonesia ingat 
DISKRIMINASI INDONESIA.
> 
>     ___
>


Kirim email ke