Waduh kok masih bawa-bawa suku khe (geleng - geleng kepala dech) Lim Wiss lebih banyak menemukan beberapa orang tua masih kolot entah dari suku hokkian, suku khe, suku Jawa, suku Batak, dll.
Lim Wiss melihat beberapa orang tua itu seperti tidak rela anak laki-laki dimonopoli oleh orang lain. Soalnya Lim Wiss sendiri pun mengalami dimana mertua komplain ke suami lantaran suami lebih perhatian pada anak & istri. Akhirnya yach orang tua cenderung mencari - cari perhatian dengan cara menegur mantu atas pekerjaan yang mereka lakukan. Lucunya anak perempuan mereka bangun siang & tidak melakukan pekerjaan apapun tidak masalah di mata mereka :-) Bagaimana pula Lim Wiss bisa menganggap mertua sebagai orang tua sendiri? Jika saat suami mengantar adik Lim Wiss pergi ke tempat les trus ibu mertua memarahi suami karena mengantar orang lain. Jadi mertua masih menganggap Lim Wiss & sekeluarga sebagai orang lain (geleng - geleng kepala). Ini dilema yang dihadapi semua mantu jika tinggal serumah dengan mertua. Lim Wiss memperhatikan hubungan mertua & mantu lebih akur jika tinggal terpisah. Walau kelihatan di mata orang lain hubungan mertua & mantu tidak masalah tetapi antara mertua dgn besan tidak saling bicara, bahkan Lim Wiss menemukan mereka tidak saling tegur sapa seperti orang yang bermusuhan :-) Ini berbeda jika orang tua tinggal bareng dengan anak perempuan. Mengapa? Suami lebih jarang berada di rumah, pulang pada malam hari dimana semua orang sudah siap-siap untuk tidur. Pagi-pagi sudah berangkat bekerja. Akibat frekuensi pertemuan yang jarang menyebabkan jarang ribut antara mantu laki-laki dengan mertua :-) Selain itu orang tua lebih pengertian atas anak perempuan mereka yang sudah capek bekerja di luar daripada mantu perempuan :-) Sekali lagi ini sudah merupakan sifat orang, bukan milik suatu suku. Rgds, Lim Wiss _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of ChanCT Sent: Friday, November 14, 2008 3:17 PM To: [email protected] Subject: Re: [budaya_tionghua] Merasa Tenang Juga Nih. (Was: Pria suku Khe) Bung Ophoeng yb, Haha, baru kembali dari Surabaya, nih, ... ada satu lagi makanan di Surabaya yang masih saya ingat/terkenang sampai sekarang, kupang. Waaduuuh, mestinya sih binatang laut juga, yang bentuknya panjang-panjang tapi. Wuuaalaaah, dikasih sambel petis lagi. Sedaaap. Udah itu rujak cingur-nya juga uueeenak banget. Tapi, ... kenapa orang Surabaya bisa suka sama Hua-jiao (mungkin bunyinya lebih tepat tanpa h, jadi hua ciao), apa dinamakan juga shi-chuan paper? Saya mah nggak suka, yang terkadang bisa bikin lidah semutan. Hehehee, ... Lalu, apa itu kapulaga? Jenis makanan baru, ya? Rupanya bung Ophoeng tergolong suku Khe, ya. Seandainya tradisi Khe-nya masih kuat dan ketika berkeluarga sudah tiada orang-tua, jadi tidak mengalami keruwetan yang mungkin terjadi. Dan bersyukurlah bisa menampung ibu mertua, apa juga dari suku Khe? Kalau iya lebih beruntung lagi. Katanya, kalau punya istri dari Khe senang sekali, karena rajin sekali dia ngurusin rumah. Itu tadi, tradisi mereka, semua tetek-bengek urusan rumah harus dikerjain istri, suami nggak boleh turun-tangan. Tapi, saya nggak tega membiarkan istri (dari suku Khe) yang juga bekerja kalau pulang dirumah juga masih harus banting tulang ngurusin rumah sendirian, jadi, ... kami berdua sejak kawin hidup bersama, melakukan kerja-sama yang harmonis. Sekalipun harus terpontal-panting karena semua harus dikerjakan sendiri, tapi deengan demikian terasa lebih dekat dan hasil kerja bersama yang sangat membahagiakan. Adiil, dirasakan. Salam, ChanCT ----- Original Message ----- From: Ophoeng <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: budaya_tionghua@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com Sent: Friday, November 14, 2008 2:10 PM Subject: [budaya_tionghua] Merasa Tenang Juga Nih. (Was: Pria suku Khe) Bung Chan CT, Bu Lim Wiss, Bu Dewi dan TTM semuah, Hai, apakabar? Sudah makan simping? Simping itu sejenis kerang, kulit atau cangkangnya lebar dan tipis, persis seperti logo perusahaan minyak Shell itu. Katanya sih khas Surabaya, sebab di laut Surabaya itu banyak bisa ditangkap. Kemarennya saya ke Pasmo BSD, eh, kebetulan ada yang jual. Jadi saya beli ajah setengah kilo, dapat 17 keping dengan bonus beberapa keping kecil-kecil anak-anak simping itu. Barusan saya coba masak pake bawang bombay, pake jahe, bawang putih, cabe merah dan... hoa-chiao. Hoa-chiao-nya tentu bukan Chinese overseas, melainkan Szi-chuan pepper. Kalau anda nemu di pasar, boleh coba sesekali masak simping saus hoa-chiao ini. Aromanya khas agak-agak langu, kata asisten saya mah mirip kapulaga. Rasanya? Hehehe..... sekali coba pasti anda gandrung punya, di lidah ada kesan kebas, di perut jadi hangat punya. Cocok sekali dimakan pas di musim hujan begini. Kalau mau yang sudah mateng tinggal makan, anda bisa pilih masak saus padang, lada hitam atau saus tiram, di Resto Pondok Kemangi di BSD City. Ooops, sorry, agak panjang cerita soal makannya. Nimbrung dikit soal pria suku khe ini, saya pikir memang benar kata anda semua, soal begitu bukan karena orang itu suku apa, tapi cuma kebiasaan orang per orang pribadi. Saya lega juga bahwa anda semua berpendapat begitu, soalnya papa saya berasal dari golongan berdialek Khe juga. jadi saya pikir ndak masalah saya masih keturunan orang Khe ya. Hehehe....... Untunglah isteri saya tidak punya mertua lagi sejak kami menikah. Jadi kami tidak merasa ada 'intervensi' yang membuat saya kikuk, ke sini isteri, ke sana mama dan papa. Jadi, selama ini sih kami aman-aman saja, tidak ada aturan mesti pro sana atau pro sini. Kami pro keluarga sendiri ajah dah. Menghadapi orangtua, memang kudu banyak sabar. Saya sih anggap mertua sama seperti orangtua sendiri. Sekarang kami tinggal bersama papa mertua saya sejak mama mertua meninggal dunia, tapi ya aman-aman saja. Ndak ada pertengkaran atau rasa kesal, sebab kami saling menjaga dan hormat. Ada batas-batas yang kami jaga bersama, mana yang boleh intervensi dan mana yang tidak. Anak-anak kami juga tidak merasa dimanja engkongnya. Benar sekali bahwa mesti ada saling pengertian di antara anak-mantu dengan orangtua-mertua. Karena, bagaimanapun juga menantu adalah 'orang luar', ya tetap ndak bisa seperti anggap anak sendiri benar-benar, bisa seenaknya diomelin seperti waktu masih kecil dulu toh? Mungkin juga mesti agak-agak cuek sedikit, supaya hal-hal kecil tidak usah diperpanjang atau diperdebatkan. Begitulah saja kira-kira. Salam simping saus hoa-chiao, Ophoeng BSD City, Tangerang Selatan -- In budaya_tionghua@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com, "ChanCT" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Lim Wiss yb, Maaf, sekalipun menduga, tapi sampai sekarang masih belum yakin betul saya sedang bicara deengan seorang perempuan. Kira-kira betul, ya?! Saya jadi mengerti sekarang, pernyataan anda beberapa hari ini hanyalah merupakan reaksi dari kenyataan hidup yang dihadapi, nenek-nya sendiri. Dan saya bisa setuju deengan kesimpulan yang dibuat kali ini. Bahwa itu hanyalah merupakan kasus khusus saja. Dan semua terjadi tergantung dari sifat/watak orang bersangkutan. Saya juga pernah ketemu seorang sahabat mengeluh dengan perlakuan ibunya, yang bukan saja cerewet tapi terlalu ikut campur urusan anak-anak yang sudah dewasa. Yaitu menghendaki anak lelaki dirumah tidak ikut campur urusan dapur dan tetek-bengek rumah-tangga, semua harus ditangani istrinya, ... lha itu dijamannya, dimana istri bisa jadi nyonya rumah yang tidak usah kerja, lalu ada pembantu-rumah tangga, ... hidup di HK kan harus suami-istri bekerja baru bisa menunjang ongkos hidup, mana bisa semua harus dikerjakan istri, yang juga sudah capek pulang dari kerja? Jadi, bagaimanapun juga sang suami harus ikut ambil bagian, bahkan bagian kerja yang lebih berat dari istri. Itu biasa dan sebaiknya begitu. Kalau putranya ikut beresin ranjang, selimut juga diomongin, lalu ngomel istrinya dibilang nggak ngerjain apa-apa, kan jadi ribut, ... dan dia nggak pikir, begitu istrinya ribut dengan ibunya, hati putranya itu saaakiiit. Menjadi lebih susah mengatur ibu macam ini, yang ternyata berpegang teguh pada tradisi TIonghoa, orang-tua harus ikut anak lelaki. Tapi, begitu juga dianak laki yang ke-2 dan ke-3, ribut melulu dengan mantu-nya, sampai mereka kewalahan. Anak perempuan yang juga mau nampung dia, ibu ini berkeras nggak mau. Baru setelah ibu ini tidak bisa jalan sendiri, 1/2 tahunan terakhir hidupnya diusia 88, meninggal deengan penuh ketenangan dirumah anak perempuan. Ya, Lim Wiss saya tetap berpendapat kasus demikian tentu harus diperlakukan secara khusus, itu hanya karena sifat/watak orang bersangkutan yang agak aneh. Saya yakin, hati ibu macam ini tetap baik-baik, hanya pengertiannya saja agak kuno, kurang memperhitungkan segi lain. Berkeras pegang pada tradisi, tanpa melihat perubahan jaman. Terimalah apa adanya, tidak perlu berbenturan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Berilah toleransi lebih tinggi dan terimalah orang-tua macam itu sebagai orang-tua yang tetap harus dihormati. Berilah penerangan dengan lebih sabar, tanpa harus menyamber omelannya dengan marah-marah. Bisa, dong. Heheheee, ... Salam, ChanCT ----- Original Message ----- From: Lim Wiss To: budaya_tionghua@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com Sent: Thursday, November 13, 2008 4:19 PM Subject: RE: [budaya_tionghua] Pria suku Khe Kesimpulan : Kita tidak bisa komplain atas sikap mertua terhadap mantu wanita. Yang bisa kita lakukan, hanya janganlah kita seperti mereka. Janganlah kita sebagai orang tua mendikte anak & mantu kita. Saat mereka melawan, trus kita ucapkan kata-kata "Put Hao" atau "Anak tak tahu balas budi" dan sejenisnya. Kita harus ingat dalam dunia ini ada ikatan jodoh sehingga kita bisa bertemu, berkumpul bahkan menjadi keluarga. Banyak orang tua suka mengeluh anak & mantu tidak pedul tapi mereka tidak pernah sadar jika mereka pernah melukai perasaan anak & mantu mereka. Mereka hanya tahu perasaaan mereka saat tidak seorangpun anak & mantu yang peduli dengannya. Semua orang yang baru menikah tentu senang berkumpul dengan dua belah pihak keluarga. Tapi orang tua tidak pernah sadar mengapa setelah anak & mantu mereka menikah sekian lama menjadi tidak peduli dengan mereka. Sekedar renungan... Soalnya Lim Wiss melihat nenek Lim Wiss dulu pernah memperlakukan anak laki-laki dengan perempuan secara tidak adil. Akhirnya kini nenek Lim Wiss harus tinggal sendirian. Bukan kita sebagai anak muda tidak peduli tapi coba kita renungkan jika kita dimaki & dimarahi apapun yang kita lakukan apakah kita masih mau peduli terhadap orang tsb? Dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai anak perempuan harus terima kenyataan jika orang tua kita tidak peduli pada diri kita saat kita susah, bahkan menutup pintu mereka rapat-rapat karena merasa anak perempuan setelah menikah adalah milik keluarga laki- laki atau mertua tidak peduli terhadap mantu perempuan yang sakit. Kejadian ini bukan hanya menimpa suku khe tetapi semua suku. Permasalahannya bukan pada suku tetapi pada sifat orang. Rgds, Lim Wiss From: budaya_tionghua@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Dewi Chandra Sent: Thursday, November 13, 2008 2:28 PM To: budaya_tionghua@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com Subject: [budaya_tionghua] Pria suku Khe Dear rekan 2x semua Saya setuju pendapat rekan Lim Wiss di bawah ini : "Tetapi yang Lim Wiss lihat dalam kehidupan sehari-hari cenderung anak laki-laki dituntut memperhatikan & membela keluarga laki-laki. Wanita yang sudah menikah, harus memperhatikan keluarga laki-laki pula. Ini yang Lim Wiss rasa tidak adil dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa ada ketidakadilan dalam antara laki dan perempuan, bahwa masih ada keluarga laki yang menuntut dan menanamkan "dokrin" bahwa menantu perempuan harus ikut pihak laki2x (dalam arti harus mengutamakan,memperhatikan) Bila mertua pihak laki2x nya pun care pada pihak menantu, saya pikir tidak ada masalah karena toh setelah menikah seharusnya ortu tua pihak laki atu pr adalah orang tua anak/menantunya juga.Tapi bila sebaliknya bila pihak ortu laki terkesan sikap "gila hormat" maksudnya kita harus hormat2x dengan mereka,padahal kita sebagai menantu (bila bertemu) dianggap (diajak bicara) pun tidak, bisa dibayangkan bagaimana perasaaan menantu perempuan?Dalam hal ini sebagai suami pun "tidak bisa apa2x" menuruti kehendak ortunya Saya kok melihat justru laki2x di luar suku khe tidak begitu.bhakan begitu sayang pada keluarga istrinya. Saya berusaha tidak menyamakan semua lakix suku khe begitu,(mohon maaf bila ada yg tersinggung yah)tapi begitula yang terjadi. Jadi, ungkapan lebih baik punya anak perempuan lebih baik pun dalam hal ini tidak berlaku, bagaimana bisa berlaku (jangankan untuk tinggal /dirawat) bila orang tua /saudara pihak ce datang ke rumah anak/menantunya saja tidak dianggap/tidak diajak bicara? Sedangkan bila orang tua/saudara pihak laki datang, wah, bagaikan mengadakan pesta. Bisa dibayangkan bgm perasaan pihak perempuan?? Jadi, saya masih berpikir ada budaya orang tua dulu yang masih KOLOT dan TIDAK ADIL, ini SUSAH DIUBAH,karena ini seakan sudah menjadi prinsip hidup.Terkadang saya berpikir, apa mereka yang sudah sepuh itu & KOLOT, tidak berpikir bagaimana bila anak perempuan mereka yang diperlakukan seperi itu??? Rgds Dewi ------------------------------------ .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Website global http://www.budaya- <http://www.budaya-tionghoa.net> tionghoa.net :. .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups. <http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua> yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg. <http://iccsg.wordpress.com> wordpress.com :. Yahoo! Groups Links (Yahoo! ID required) mailto:budaya_ <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] _____ Internal Virus Database is out of date. Checked by AVG - http://www.avg. <http://www.avg.com> com Version: 8.0.173 / Virus Database: 270.8.5/1757 - Release Date: 2008/10/30 _U__ 02:35
