Kalau melihat situasi spt ini, melihat tingkah laku begundal2 yg bersorban
ingin rasanya kembali kejaman pimpinan pak harto.. tapi dilain pihak inilah
harga dari sebuah proses demokrasi yg hrs dibayar, semua orang berhak
mengutarakan pendapat berhak menentukan sikap.. polisi pun sedang menuju ke
arah perbaikan, mudah2an selaku aparat penegak hukum mereka semakin bisa
menjalankan tugas, yg mana yg berbuat anarkis ya dilibas saja.

salam
seng goan
 
-------Original Message-------
 
From: [email protected]
Date: 12/09/08 10:22:36
To: budaya tionghua
Subject: [budaya_tionghua] Desakan FPI dan LSM Proyek Patung Naga Dihentikan
 
Refleksi: Bagaimana kalau proyek patung Naga diganti dengan proyek unta atau
pohon korma, apakah bisa demikian? Kalau saya  disuruh pilih saya akan ambil
pohon korma, sebab bisa berbuah dan bila banyak berarti  tidak perlu impor
dari tanah gurun pasir  untuk konsumsi pada hari-hari besar,  kalau  pohon
korma bisa banyak seperti kelapa sawit, hasilnya  bisa  mencukupi konsumsi
dengan produksi dalam negeri, kwalitasnya  pasti lebih  manis dan juicy
serta berkhasiat kencang  urat otot..
 
 
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0812/09/sh02.html


Desakan FPI dan LSM
Proyek Patung Naga Dihentikan


Pontianak - Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengakui Kapolres Kota
Singkawang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Parimin Warsito telah mendesak
Wali Kota Hasan Karman (Bong Sau Fan) menghentikan sementara waktu proyek
pembangunan Patung Naga, sebagai salah satu daya tarik wisata.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Kalbar AKBP Suhadi kepada SH, Minggu
(7/12) mengatakan, desakan kepolisian itu menanggapi demonstrasi
besar-besaran Front Pembela Islam (FPI), Forum Pemuda Melayu (FPM) dan
Lembaga Swadaya Masyarakat Perintis, menentang kelanjutan pembangunan Patung
Naga di Singkawang, Jumat (5/12).

Suhadi mengungkapkan, surat desakan Kapolresta Singkawang kepada Wali Kota
Singkawang, bernomor B/3284/XII/2008 ditembuskan kepada Kapolda Kalbar, dan
unsur Muspida Kota Singkawang. Intinya Kapolresta Singkawang mengharapkan
tercapainya situasi keamanan yang kondusif supaya pembangunan di berbagai
aspek bisa berjalan sesuai harapan.

Anggota DPRD Provinsi Kalbar Tobias Ranggie di tempat terpisah menilai aksi
penolakan kelanjutan pembangunan Patung Naga di Singkawang, mesti ditanggapi
dengan hati dan kepala dingin, tetap menghargai keberagaman sebagai bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Ini karena implikasi permasalahannya sudah berada pada ranah yang sangat
sensitif.
Menurut Tobias, ”insiden Singkawang” sama dengan penolakan kelompok
masyarakat terhadap rencana pembangunan patung bernuansa bukti fisik
keberadaan kelompok tertentu di Batam beberapa tahun lalu. ”Saran saya
implikasi sosial di balik kelanjutan pembangunan Patung Naga di Singkawang,
jangan sampai terkesan dianggap sepele,” ujar Tobias.

Tobias meminta Wali Kota Bong Sau Fan bersikap arif dan bijaksana, harus
mampu mengakomodasi kepentingan berbagai pihak, supaya keharmonisan
antarmasyarakat bisa berjalan sesuai harapan. ”Saya bukan pada posisi setuju
atau tidak setuju, tapi lebih kepada melihat implikasinya di masyarakat.
Peran Bong Sau Fan Hasan sebagai Pamong Praja yang mesti mampu jadi pengayom
dan pelindung semua komponen masyarakat tengah diuji,” ungkap Tobias.

Diungkapkan Tobias, ide pembangunan Patung Naga sudah diluncurkan sejak 2002
ketika Wali Kota Singkawang dijabat Awang Ishak yang kebetulan dari etnis
Melayu beragama Islam. Waktu itu pun setelah akan direalisasikan, batal di
tengah jalan, karena belum ada titik temu.

Ketika Wali Kota Singkawang dijabat Hasan Karman, terhitung Desember 2007
yang berasal dari etnis Tionghoa beragama Protestan, lanjut Tobias, ide
pembangunan Patung Naga dikonkretkan. Permasalahannya menjadi rumit karena
dalam perjalanannya ada indikasi berbagai kepentingan masyarakat masih perlu
dibicarakan lebih konkret lagi.

Harmonis
Kota Singkawang berjarak tempuh 143 kilometer dari Pontianak, berpenduduk
210.000 jiwa dan 41,7% penduduknya berasal dari etnis Tionghoa. Setiap
Perayaan Imlek dan Cap Goh Meh, Kota Singkawang selalu menjadi pusat
perhatian masyarakat di Indonesia, karena dijadikan pusat kegiatan ritual
bernuansa Tionghoa. 
Suhadi mengungkapkan, desakan penghentian sementara sambil mencari solusi
terbaik, karena persoalan sebenarnya ada indikasi kurangnya komunikasi
antarkomponen masyarakat, sehingga nuansa curiga satu sama lain lebih
menonjol. 

Wali Kota Bong Sau Fan kepada wartawan di Singkawang, Sabtu (6/12)
mengatakan, pihaknya akan mengakomodasi berbagai keinginan masyarakat,
supaya proses pembangunan berkelanjutan di Singkawang berjalan sesuai
harapan. Sejauh ini komunikasi Pemerintah Kota Singkawang dengan berbagai
komponen masyarakat te-ngah berjalan. 

”Pembangunan Patung Naga murni keinginan masyarakat dan sepenuhnya atas
swadaya masyarakat pula. Tujuannya sebagai salah satu daya tarik wisata di
Singkawang. Tapi, Pemerintah Kota Singkawang tidak akan tutup mata terhadap
implikasi permasalahan sosial tengah terjadi yang menyertainya,” ujar Hasan.

Praktisi hukum Universitas Tanjungpura, Rousdy Said menilai, polemik
pembangunan Patung Naga di Singkawang mengharuskan Pemerintah Kota
Singkawang pada khususnya dan Pemerintah Provinsi Kalbar pada umumnya
bekerja sangat keras lagi menjalin komunikasi lebih komprehensif dengan
berbagai komponen masyarakat, melalui tata kerja, kebijakan, tindak-tanduk,
bahasa dan komunikasi politik menyejukkan. (aj
 
 

<<BackGrnd.jpg>>

Kirim email ke