Ikut Nimbrung,

Saya masih ingat persis ada teman saya yang merobah pola pikir saya. Dia 
itu Tionghua dan dia beserta Orang tuanya Katolik dan Bukan Katolik KTP. 
Suatu hari waktu pas Sehari sebelon Sincia dia mengundang saya agar 
sama2 merayakan malam 30 besama keluarganya. Maklum waktu itu aku ini 
anak Kost. Saya sempat terkejut dan sempat bertanya pada nya Kok anda 
ini Kristen masih merayakan Sin Cia ??. Tau ngak apa Jawabannya " 
Kristen adalah Agama ku, Tapi jangan lupa Sin Cia adalah Tradisi 
LELUHURKU, Jadi kami sekeluarga masih menghargai leluhurku. itulah 
jawabannya.

Tahun lalu, pas mau Sin Cia, di salah satu Gereja Kotolik yang berada di 
daerah Jakarta Barat terjadi Pro dan Kontra antara pengurusnya untuk 
mengadakan Barongsai di Dalam Misa Sin Cia, ada yang berpendapat bahwa 
Barongsai itu ada pakai Ilmunya dan ada Setan2nya. Kebetulan ada seorang 
Romo BS ( Pribumi Asli ) yang hadir. dan si Romo tersebut ngak ngomong 
ABC langsung dikunyah tuh Gelas Beling, trus nanya ke Mereka apakan yang 
baru dilakukan oleh Romo tersebut adalah Black Magic, seperti yang 
dilakukan oleh pertunjukan Kuda Lumping yang makan beling ?? semuanya 
pada diam. dan akhirnya Barongsai Masuk Gereja.

Ngomong2 mo nanya nih, Kalau Orang Tionghua yang beragama Budha ikut 
Tahun Baru Tionghua or Tahun Baru India, Bukannya Budha asalnya dari 
India ???

gsuryana wrote:
>
> Sebenarnya Tenglang Kristen yang anti kebudayaan Tionghoa juga tidak 
> mungkin mau bergabung dengan millis Budaya Tionghoa, lha topik utama 
> nya tidak akan pernah jauh dari filsafat Tionghoa dengan ajaran dari 
> KHC, Lao Zie dan sebangsanya.
> Hal ini yang sebenarnya patut disayangkan, bila memang Tionghoa 
> Indonesia mau bersatu, mau tidak mau salah satu pegangannya adalah 
> budaya leluhur, karena tanpa mengenal budaya leluhur, apa bedanya 
> dengan membuat partai politik yang notabene partai politik Tionghoa 
> perolehan suaranya jauh dibawah populasi Tionghoa Indonesia.
>  
> Memang untuk merubah pola pikir dan memahami sejarah akan sangat jauh 
> lebih sulit dibandingkan dengan diskusi maupun seminar, dan aku masih 
> optimis sedikit demi sedikit budaya Tionghoa eksistensinya akan tetap 
> meningkat, dan aku hanya mengharapkan untuk tidak kebablasan karena 
> memakai aji mumpung.
> Segala sesuatu yang instant pada akhirnya akan menghasilkan yang 
> instant pula, alias cepat masuk dan cepat keluar.
> Ibarat kata didalam ilmu management ada istilah FIFO ( yang bisa 
> menjadi Family In, Friends Out ) yang repot malah menjadi GIGO ( 
> garbage in garbage out ), siapa yang bisa mengingat kan ?
>  
> sur.
>

Kirim email ke