Ada beberapa tradisi sudah hilang seperti mengikuti suami. Saya cenderung melihat beberapa suami masuk ke keluarga istri. Bahkan lebih rukun daripada istri masuk ke keluarga suami.
Tentang kejadian cucu yang mengusir nenek & ibunya di Singapore. Menurut saya bukan disebabkan lunturnya suatu tradisi di masyarakat tetapi ada yang salah dalam didikan orang tua atau orang tua memberi contoh bagi anak sehingga anak mengikuti kelakuan orang tuanya. Contoh : 1. Suami malas bekerja, tidak mau bantu istri di rumah pula. Suami mengatakan istri harus banting tulang karena merupakan tradisi. Lalu apakah anak akan respek terhadap bapak spt itu? Walau istri memaksa anaknya untuk respek kepada bapaknya tetap aja yang namanya hati nurani bisa bicara "itu tidak adil dalam keluarga" Akhirnya semakin dewasa anak cewek akan membenci laki-laki yang seperti bapaknya sehingga tanpa sadar ia tidak akan hormat pada bapaknya. Sedangkan anak cowok akan meniru kelakuan bapaknya. Mau jadi apa anak cowoknya? Apa bapak itu tidak mencelakan anaknya dgn kelakuannya? 2. Suami suka perintah istri melayani semua keperluan dari sendokin makanan ke piring hingga pakaikan bajunya seperti raja. Lalu apakah anak akan respek? 3. Orang tua sibuk cari uang sehingga anak tidak mendapat perhatian. Orang tua menekankan pentingnya uang. Semakin dewasa anak tsb anak meniru apa yg dilakukan orang tua. Apakah bisa kita katakan lunturnya suatu tradisi? Saya tahu bagaimana rasanya sebagai cucu, anak, saat ini saya sebagai orang tua. Semakin hari saya mengerti apa yang kita lakukan pada anak kita akan berdampak pada diri kita. Akhirnya kita sebagai cucu akan meniru apa yang pernah kakek / nenek kita lakukan pada orang tua kita. Ini hanya sebagai renungan. Janganlah kita menyalahkan nasib / tradisi. Harusnya kita renungan apa yang salah pada perbuatan kita sehingga anak muda tidak respek pada diri kita dan meninggalkan diri kita saat kita tua. Rgds, Lim Wiss _____ From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of liang u Sent: Thursday, June 04, 2009 9:48 AM To: [email protected] Subject: Re: [budaya_tionghua] tradisi perkawinan didaerah Fujian, Guangdong dan bbrp wilayah lainnya Maaf nimbrung sedikit: Menangis waktu menikah sambil mengucapkan terima kasih pada orang tua, selain merupakan kebiasaan, juga mengandung makna psikologis. Isteri yang menyayangi orang tuanya, akan membawa suami juga menghormati orang tuanya. Demikian juga suami yang menyayangi orang tuanya, akan membawa si istri juga menyayangi orang tuanya. Kalau anak sendiri tak sayang pada orang tua sendiri, mungkinkah mantu menyayanginya? Kalau kita sendiri tak menyayangi orang tua, mungkinkah anak kita akan menyayanginya, bahkan anak-anak bukan saja tak akan sayang kakek dan neneknya juga tak akan menyayangi ayah ibunya. Di Singapore sedang ada kasus di pengadilan, cucu mau menjual rumah untuk pergi ke Australia, alasannya sih mau sekolah, ibu dan neneknya diusir. Si nenek bertahan, sebab beli rumah ada uang dia sebelum anaknya meninggal. Si cucu mempunyai surat warisan dari ayahnya yang meninggal bahwa kalau si ayah meninggal rumah milik cucu itu. Jadilah si cucu yang baru berumur 28 tahun, mau mengusir nenek dan ibunya, untuk menjual rumah. Siapa ingin mencontoh? Lunturnya budaya Tionghoa tentang hao (berbakti). Hanya suatu contoh. Teliti bagaimana penderitaan orang tua di negara barat. Uang cukup karena pensiun cukup besar, tapi mati merana di rumah sendirian. Untuk saya sih cukup, baliklah ke budaya kita. Kiongchiu Liang U --- On Wed, 6/3/09, ardian_c <[email protected]> wrote: From: ardian_c <[email protected]> Subject: [budaya_tionghua] tradisi perkawinan didaerah Fujian, Guangdong dan bbrp wilayah lainnya To: [email protected] Date: Wednesday, June 3, 2009, 6:57 AM bbrp tradisi perkawinan yg masih langgeng dan memiliki makna luas dan dilakukan oleh keluarga wanita antara lain adalah tradisi menyiram air, melempar kipas, menangis. dan kebetulan pula banyak org tionghoa yg tinggal di indonesia mayoritas berasal dari daerah2 diatas. Sy mencoba menguraikan bbrp hal seperti menyiram air, melempar kipas dan menangis. Bbrp hal seperti melempar beras kuning, menginjak tampah ,memakai cadar merah pernah dituliskan di milist ini terutama yg berkaitan dgn kisah Zhou Gong melawan Taohua Nv. bbrp hal yg dilakukan ketika akan naik tandu atau masuk kemobil pengantin : 1.menangis, hal ini dapat dilihat di orang Khe, terutama dipedesaan daerah Guangdong seperti di kota Zeng yg pernah saya lihat. Pengantin perempuan menangis dan memohonkan kepada kakak atau adik mereka utk merawat dan melayani ortunya dan ia tidak bisa melayani ortunya lagi. Menangis berharap agar sdr2nya bisa menggantikan dirinya, jg menangis kepada ortu, terimakasih atas segala jasa2nya dan budi ortu yg tidak bisa terbalaskan. Cara ini disebut kufa 哭发 . Ada kepercayaan bahwa jika tidak menangis maka pengantin perempuan tersebut akan hidup susah, jika menangisnya semakin keras maka keluarganya bahkan keluarga suaminay akan mendapatkan kebahagiaan dan rejeki berlimpah. Jika pengantin tersebut tidak menangis, maka disebut pengantin itu tidak mendapatkan didikan keluarga. Mungkin maknanya itu pengantin tidak tahu diri kali. Acara tangis menangis itu juga selain mengandung makna permohonan, ucapan terimakasih jg semacam kekhawatiran. Karena pengantin tersebut masuk ke pihak suami, bahagia atau tidak masih belum jelas. Seperti pepatah, Menikah dgn ayam, mengikuti ayam, menikah dgn anjing, mengikuti anjing. Yg lainnya menyusul ya , OCE?& #65311;&# 65311;? ?& #65311;
