Milis ini lama-lama bisa jadi milis budaya ngawur, atau
budaya Indonesia....

Marga lah bisa seenaknya aja. Cewe tionghoa kawin sama
non-tionghoa lah anaknya bisa dapet marga dan dianggep
tionghoa. 

Ada sih memang contoh-contoh pengecualian spt Ted Siong
yg darahnya India tapi banyak memberi kontribusi dan respect
sekali dengan Tionghoa ya dianggep tionghoa. Tapi pakemnya
ya tetep marga itu diwariskan oleh garis keturunan papa. 
Anak perempuan Tionghoa yg kawin dengan non-tionghoa in
general sudah bukan tionghoa lagi. 

Tentu ada pengecualian beberapa orang perempuan tionghoa
yg melakukan kekeliruan kecil dgn kawin dengan non-tionghoa
tapi jiwa dan keberpihakannya tetep pada budaya tionghoa dan
masyarakat tionghoa maka ia akan tetap dianggep Tionghoa.
Tapi itu pengecualian bukan pakem fundamental. 



--- On Sat, 9/19/09, kawaii_no_shogetsu <[email protected]> wrote:

From: kawaii_no_shogetsu <[email protected]>
Subject: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa
To: [email protected]
Date: Saturday, September 19, 2009, 6:35 AM






 




    
                   Ini yang saya paling GAK setuju. Terserah lu bule-bule 
ngomong klo nama kaga penting arti-artiannya. Klo Tenglang JELAS arti nama itu 
penting.



Btw, disini kan kita ngomongin Budaya Tionghoa kan? Pikir sendiri dah, klo buat 
budaya Tenglang, marga itu penting apa gak?

 Laen kasus lah klo ngobrolin soal marga-margaan di milis laen, tapi ni kan 
milis yang ngomongin BUDAYA TIONGHOA.



Klo buat saya, marga itu tetep penting.



--- In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, "ChanCT" <sa...@...> wrote:

>

> Bung Tan yb,

> 

> Itulah yang saya maksudkan. Tidak ada didunia ini yang berhak menentukan 
> seseorang adalah Orang Tionghoa dan yang lain bukan. Biarkanlah mereka hidup 
> sebagaimana adanya, tanpa dipaksakan menjadi orang Tionghoa atau bukan oleh 
> orang lain. Bebas gunakan nama yang dikehendaki dan merasa dirinya sebagai 
> orang apa saja maunya.

> 

> Bukankah kita juga bisa ajukan contoh seorang India yang gunakan nama Shiong 
> Tik Long (atau entahlah gimana ejaan di Indonesia, Xiong De Long), karena 
> hidup dan besar dilingkungan keluarga TIonghoa dan merasa dirinya sudah 
> sebagai TIonghoa, ya biarlah dia nikmati hidup sebagai orang TIonghoa. Tanpa 
> perlu kita tuding lu menghianati bangsa India.

> 

> Bagaimanapun juga kita bisa melihat seseorang dari asal keturunan darah, dari 
> budaya dan dari passport, kewarganegaraan yang dipegang. Sedang nama yang di 
> sandang seseorang boleh kita abaikan, karena orang boleh dan bisa saja 
> gunakan nama Rusia, misalnya, tapi kenyataan tidak ada hubungan sama sekali 
> dengan Rusia.

> 

> Salam damai,

> ChanCT

> 

>   ----- Original Message ----- 

>   From: Nasir Tan 

>   To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com 

>   Sent: Friday, September 18, 2009 9:48 PM

>   Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

> 

> 

> 

> 

> 

>   Wah...ini baru menarik. Kayaknya jarang yang berpendapat kayak Bung Chan 
> ya. Tetapi terus terang aja ini menarik dan kalo mau jujur dulu saya juga 
> berpendapat seperti itu...hehehe. Jadi bisa dikatakan bahwa benar kata 
> Shakespeare. .What's a name? Apalah arti sebuah nama kalo ternyata nama yang 
> kita sandang tidak sesuai dengan kerodor atau ide budaya yang kita bawa.

> 

> 

>   regards,

> 

> 

>   Nasir Tan

> 

>    

> 

> 

> 

> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

>   From: ChanCT <sa...@...>

>   To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com

>   Sent: Friday, September 18, 2009 4:55:38 PM

>   Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

> 

>     

> 

>   Memangnya didunia ini siapa yang berhak menentukan anak campuran itu masih 
> Tionghoa atau bukan? Kalau bapak non-Tionghoa sekalipun ibu Tionghoa, lalu 
> anaknya tidak bisa dianggap Tionghoa lagi?

> 

>   Padahal, sekalipun ibu-bapak Tionghoa, kalau anak itu hidup dalam 
> lingkungan yang lepas dari budaya Tionghoa, bahkan sengaja menghilangkan yang 
> berbau Tionghoa, boleh saja dianggap bukan Tionghoa lagi. Bukankah Hary Tjan 
> Silalahi tidak diakui sebagai Tionghoa lagi, sekalipun masih terpancang marga 
> Tjan-nya? Hehehee, ...

> 

>   Salam,

>   ChanCT

> 

>     ----- Original Message ----- 

>     From: Azura-Mazda 

>     To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com 

>     Sent: Friday, September 18, 2009 3:40 PM

>     Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

> 

> 

>           Ya gak apa-apa marga ikut ibu asal bapaknya tionghoa.

>           Yg jadi masalah kalo bapaknya itu non-tionghoa. Ya jelas

>           si perempuan dan anaknya itu bukan tionghoa. 

> 

>           --- On Fri, 9/18/09, Nasir Tan <hitaci2002@ yahoo. com> wrote:

> 

> 

>             From: Nasir Tan <hitaci2002@ yahoo. com>

>             Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

>             To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com

>             Date: Friday, September 18, 2009, 2:56 AM

> 

> 

>               

> 

>             Mmm....kalo gak salah di tiongkok dulu juga pernah berlaku marga 
> ikut ibu/mama, trus berubah marga harus ikut papa. Yah kalo di Indonesia itu 
> betul seperti yang dikatakan Lim, kalo gak ada surat kawin maka marga ikut 
> mama. Kalo ada surat kawin marga ikut papa. Kalo dipikir-pikir tidak ada 
> masalah sebenarnya yang penting kita tau papa dan mama kita. Nah kalo kita 
> tidak kenal mereka baru bingung, mo ambil marga dari mana ? Kalau salah ambil 
> marga apa kata duniaa..??

> 

> 

>             Nasir Tan

>             Tainan-R.O.C

> 

>              

> 

> 

> 

> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

>             From: Lim Wiss <lim.w...@sea. sojitz.com>

>             To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com

>             Sent: Friday, September 18, 2009 12:49:18 PM

>             Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

> 

>               

> 

>             Masalah marga di Indonesia tidak bisa dipaksakan hrs ikut marga 
> bapak.

> 

> 

> 

>             Jika ada surat kawin, barulah marga bapak bisa digunakan.

> 

>             Jika tidak ada surat kawin, anak ikut marga ibu. Kaum laki-laki 
> tidak bisa protes. Ini kenyataan di Indonesia.

> 

> 

> 

>             Setahu saya di Indonesia, pernikahan secara agama hanya boleh 1 
> kali kecuali agama Islam. Tolong koreksi apabila saya salah.

> 

>             Jika suami menikah lebih dari 1 istri, anak dari istri pertama 
> bisa pakai marga bapak. Anak dari istri selanjutnya? Bagaimana bisa pakai 
> marga bapak? 

> 

>             Akte kawin hanya berlaku buat pernikahan pertama. Mau tak mau 
> anak dari istri selanjutnya yach ikut marga ibu.

> 

> 

> 

>             Perkara takut anak2 pada jatuh cinta dengan saudara beda ibu itu 
> salah kaum laki-laki.

> 

>             Yang buat masalah siapa? Maka harus bertanggung jawab. Jangan 
> lempar batu sembunyi tangan dong.

> 

> 

> 

>             Biasa di kalangan tionghoa sebelum anak pacaran, baru pendekatan 
> sudah diinterview oleh para orang tua, benar tidak?

> 

>             Bibit, bobot, bebet sudah ditelusuri baru anak boleh melangkah ke 
> hubungan yang lebih jauh.

> 

> 

> 

>             Jadi kembali lagi, apakah ada surat kawin?

> 

>             Kalau ada surat kawin, ikut marga bapak..

> 

>             Kalau tidak ada surat kawin, ikut marga ibu. Rumit amat sich jadi 
> orang?

> 

> 

> 

>             Rgds,

> 

>             Lim Wiss

> 

> 

> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

> 

>             From: budaya_tionghua@ yahoogroups. . com [mailto: 
> budaya_tionghua@ yahoogroups. com ] On Behalf Of a...@...

>             Sent: Friday, September 18, 2009 11:21 AM

>             To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com

>             Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Marga ikut Bapa

> 

>               

> 

>             Salah satu "keuntungan" memakai sne garis keturunan laki-laki

>             (Patrilineal) ialah untuk menghindari perkawinan sedarah. 
> Misalnya sang

>             papa punya empat istri, otomatis anak-anak dari empat istri 
> tersebut

>             mempunyai sne yang sama. Dengan demikian mereka (meskipun tidak 
> saling

>             kenal sebelumnya) bisa menghindari untuk "jatuh cinta". Nah, 
> bayangkan

>             kalau anak-anak berayah satu itu semua memakai sne ibu mereka, 
> "tanda"

>             seperti ini tidak ada dan "incest" bisa saja terjadi. :-))

> 

>             Pernah dimuat di layar TV seorang ulama mempunyai sebelas atau 
> dua belas

>             istri dan ber"cita-cita" untuk mempunyai anak sampai 100 orang 
> (diiringi

>             canda tawa para istrinya--tanda tidak berkeberatan :-)). Coba 
> bayangkan

>             seandainya ulama perkasa ini keturunan Tionghoa yang begitu 
> progresifnya

>             membolehkan semua anaknya memakai marga para istrinya... :-)

> 

>             als

> 

>             "ChanCT" <sa...@netvigator. com> wrote:

>             > Ya, tak usah ikuti sitem Patrilineal atau Matrilineal, jalankan 
> saja mana

>             > suka dan dirasa paling baik. Pemberian nama si bayi yang lahir, 
> sepenuhnya

>             > adalah hak orang-tua bayi. Si Ibu bayi sepenuhnya juga berhak 
> menurunkan

>             > marga-nya, apa salahnya? Bayi yang lahir itu kan turunan dari 
> bapak dan

>             > ibu, malah seringkali si Bayi yang lahir itu betul-betul nurun 
> dan banyak

>             > kemiripan sang IBU. Tentu dalam pertahankan hak, harus dapatkan

> 

> 

>          

> 

> 

> 

> 

> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

> 

> 

> 

>     No virus found in this incoming message.

>     Checked by AVG - www.avg.com 

>     Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.93/2365 - Release Date: 
> 09/12/09 06:37:00

> 

> 

> 

> 

> 

>   

> 

> 

> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

> 

> 

> 

>   No virus found in this incoming message.

>   Checked by AVG - www.avg.com 

>   Version: 8.5.409 / Virus Database: 270.13.93/2365 - Release Date: 09/12/09 
> 06:37:00

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke