Sebenarnya apa yang kita lakukan dan sekeliling kita lakukan diperhatikan oleh generasi kita.
Pada dasarnya manusia dilahirkan tanpa benci dan dendam. Coba kita perhatikan apa yang membuat si A membenci si B. Si A dibesarkan dengan lingkungan yang tidak bersahabat, bisa jadi si A berpikir oh.. agama x perilaku seperti ini. Ras ini perilaku seperti ini. Coba kita lihat lingkungan yang lebih bersahabat dimana generasi anak muda bisa bersahabat dengan aneka ragam suku, agama dan budaya. Jika kita ingin generasi muda yang lebih bersahabat mau tak mau bentuklah generasi kita dengan lingkungan yang bersahabat. Bentuk lingkungan yang bersahabat barulah kita bisa melihat generasi anak kita tumbuh tanpa benci dan dendam. Namun secara nyata sulit dilakukan karena terlalu banyak generasi muda terbentuk di lingkungan yang tidak bersahabat. Rgds, Lim Wiss _____ From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of liang u Sent: Wednesday, December 23, 2009 9:15 AM To: [email protected] Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Extrimisme dalam agama adalah gerakan yang paling berbahaya. OOT Sdr. Huda, Ulasan yang baik dan menyejukkan. Saya berkali-kali menyerukan terimalah pluralisme, itu hal terbaik bagi kita. Kita harus menerima kenyataan, berbeda ras, berbeda pola pikir dll. adalah suatu yang positif, daripada semua tunduk pada seseorang yang kebetulan pintar promosi, siapapun dia, tak perduli presiden, pengkotbah, guru dll Di golongan Islam di Indonesia ada Gus Dur, dan masih banyak orang lain yang sependapat. Extrimis hanya sebagian kecil. Tentu jangan tanya ada berapa persen, bagaimana sampling systemnya dll (ini pertanyaan lazim di milis kita kalau kalah berdebat). Semua orang mempunyai perasaan, bisa mengira-ngira. Bahkan saya pernah mengatakan, teman Muslim kalau kita kalau mau berdoa secara umum dalam suatu pertemuan atau dalam suatu rapat yang dihadiri berbagai golongan selalu mengatakan: " Marilah kita memanjatkan doa berdasarkan agama dan kepercayaan masing-masing." Sayang kebiasaan ini belum mau diikuti oleh teman-teman yang seagama saya, kalau mau berdoa, tak perduli orang lain, langsung semua dianggap seperti mereka. Ini yang sering saya keluhkan. Mengapa kita tidak masing-masing memperbaiki diri kita sendiri, sebelum mencerca orang lain. Kalau saya, ini perdirian pribadi bukan mau berdebat, kalau ada teman sakit, dan datang menjenguk, biasanya bawa sedikit buah-buahan atau makanan lain. Apa yang dibawa, saya sesuaikan dengan yang sakit, bukan didasarkan apa yang saya suka. Kalau si sakit sakit lambung, tentu saya tidak akan membawa rujak yang pedas. Subjeknya dia bukan saya, kalau saya mau makan rujak, ya makan saja di rumah, kenapa harus demontratif di depan dia, sudah jelas dia tidak boleh makan. Kalau mau mendoakan dia agar cepat sembuh, karena si sakit subjek, maka harus berdasarkan kepercayaan dan agama dia, jangan paksakan berdasarkan agama saya. Dengan dipaksa berdoa sesuai agama kita, si sakit akan merasa lebih tertekan, apalagi kalau di "doa" i, semoga cepat sadar meninggalkan jalan yang "sesat"......dsb. Bagii orang sakit itu pukulan berat, memangnya dia berbuat kejahatan apa? Cara itu bukan menghibur si sakit, tapi suatu usaha agar si sakit cepat mati. Demikian juga, kalau si sakit sudah meninggal, menurut saya kita harus memberi penghormatan terakhir berdasarkan agama si sakit bukan berdasarkan keingiinan kita. Minimal secara netral, misalnya membungkukkan badan. Ada orang yang katanya tak boleh menghormati yang sudah meninggal karena larangan agama, tapi lihat tuh di TV, ketika ada tentara Amerika yang gugur di Irak atau Afganistan, semua temannya berdiri tegak membuka topi dan tunduk saat jenazah lewat. Lalu dasarnya apa? Kalau orang barat mati boleh dihormati karena manusia dan teman seperjuangan, sedang orang tua kita meninggal dianggap setan. Lalu kita datang untuk apa? Menjenguk namanya, tapi sampai ke sana tidak mengatakan belasungkawa hanya haha hihi sambil minum! Pedih keluarga yang kemalangan. Tidak ada orang yang akan menghormati kita, kecuali kitapun menghormati orang lain. Di Singapore, Perdana Menteri dalam suatu kesempatan berpidato, mengatakan tak ada salahnya beragama, tak ada salahnya agama makin kuat, yang salah adalah memaksakan kepercayaan diri sendiri kepada orang lain, dan mencoba merubah organisasi sekular menjadi religius untuk kepentingan golongan, atau menggunakan mimbar agama untuk mengerahkan massa untuk memaksakan kehendak. Ada seorang ayah meninggal dunia, anaknya bukan membantu melaksanakan penghormatan terakhir sebagai mana mestinya bahkan kabur beberapa hari tapi mau memberi hormat dan tak mau ikut menyaksikan crematorium ayahnya, karena..........ia adalah anak Tuhan, ayah ibunya adalah hanya alat yang dipinjam Tuhan. Saya tak mengerti Katolik, tapi saya tahu (mohon dibetulkan kalau salah) orang Katolik sangat menghormati Maria, sedang Protestam tidak, dengan alasan sama dengan yang disebut di atas. Banyak anak muda senang dengan doktrin ini, karena ia tak punya kewajiban lagi mengurus orang tuanya kalau sudah tua, kewajibannya hanya bertengkar dengan saudara berebut warisan. Ia tak ingat, suatu ketika iapun akan tua dan anaknya tak akan perduli akan dia. Kalau budaya Tionghoa kita pertahankan orang tua tak akan terlantar, tanpa orang tua tak akan ada kita. Kebebasan beragama harus dijamin. Sekolah harus sekuler. Sekarang anak yang sekolah di sekolah yang didirikan agama tertentu, harus belajar agama tsb, tidak perlu minta izin dari orang tuanya. Menolak, tahu sendiri. Ini bukan demokrasi, bukan bebas beragama, ini paksaan beragama. Pelajaran agama harusnya hanya diberikan kepada penganutnya, memang ada yang tidak diharuskan, tapi nanti si anak didiskriminasi, dibenci, perkembangan anak akan tak normal ! Akhirnya orang tuanya menyerah, sudahlah asal anak saya bisa sekolah. Apa ini bukan tanda-tanda kembali ke theokrasi? Saya sih tak mengerti, hanya pengalaman pribadi, mohon para ahli memberi petunjuk, agama makin meluas, teknologi makin maju, mengapa dunia makin munafik? Salam prihatin Liang U _____ From: M. Huda <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, December 22, 2009 9:06:40 PM Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Extrimisme dalam agama adalah gerakan yang paling berbahaya. OOT Maaf, ikutan lagi... I'm a muslim and I would like to say that I feel sorry for some anarchy done by some muslims. I know I can;t represent muslim as a whole but I've seen and believed there are huge number of good peace-loving muslims more than those we may call the bad ones. It's just that most of times majority of good people do nothing, that's why evil always rules. And I say, that actually sometimes, even many times, those people doing misconduct aren't really that evil, they're just uneducated and they don't understand. Dan terus terang saya tidak punya solusi apapun tentang masalah pembangunan rumah ibadah, terutama pembangunan gereja, saya tidak benar-benar mengerti apa masalahnya. Tapi some muslim people suggested me kalau mereka merasa terancam dengan kristenisasi dan, tidak bermaksud buruk, saya beberapa kali mengalami, well, semacam marketing agama (saya memang magnet bagi para sales, baik MLM, sales asuransi, sales politik maupun sales agama, I don;t know why) . Saya beberapa kali "dipaksa" menerima Yesus, "dipaksa" ikut NII (Negara Islam Indonesia), "dipaksa" ikut shiah, "dipaksa" coblos si A, dan "dipaksa" ikut MLM (hehehe). But really, hatred are everywhere. Saya sering dikasih tau sama orang "jangan pilih partai A, banyak cina-nya!" "Jangan pilih si B, terlalu deket sama cina", dll. Saya juga sering dikasih tau, "jangan makan di rumah orang kristen, nanti elo dikasih daging babi, bilangnya daging kambing", dll. Saya juga pernah mendengar, "Muhammad tukang (maaf) ng****t, napsunya gede. Ngapain si lo ikut agama seks maniak", dll. Saya juga sering dengar, "Orang arab tuh bangsat bangsat. Licik dan penipu." Dan masih banyak lagi. Dan pada akhirnya saya banyak menemukan A benci B, B benci C, C benci D, D benci A, A juga benci C dan D, B benci A, C dan D, dll. Pada intinya setiap orang memusuhi setiap orang. Saya berpikir kalau saya mengikuti mereka saya akan berakhir memiliki banyak musuh dan tak punya teman sama sekali. Dulu saya sekolah di sekolah Islam, ketika saya lulus dan masuk sekolah negeri, teman pertama saya seorang kristen dan suatu hari saya terpaksa ke rumahnya utk mengerjakan tugas dan dia menyediakan sajadah bagi saya untuk sholat di rumahnya. Dan waktu itu saya berpikir, "Bukankah seharusnya dia ngasih daging babi diam diam ya? " Instead he prepared me sajadah. Rupanya dia sudah sering memiliki teman2 muslim yg berkunjung ke rumahnya sehingga dia menyediakan sajadah untuk mereka. Dia bahkan menyediakan makanan berbuka ketika saya harus masih berada di rumahnya saat maghrib bulan puasa. It was amazing experience. I used to be affraid of christians for people telling me they eat pork and they liked to poison muslims. But my first experience memiliki teman kristen adalah kebalikannya. Sejak itu saya selalu berusaha mengenal orang-orang yang dicap "musuh". Di kalangan keturunan Arab, orang-orang keturunan Tionghoa disebut sebagai "baodeh". Saya dulu sering mendengar orang-orang mencaci orang-orang yg tidak sholat atau melalukan hal-hal buruk dengan sebutan, "dasar baodeh! ngga sunat ente!" atau "mata elo merem kaya baodeh!", dll.. Dan sepertinya menjadi "baodeh" itu buruk sekali. Di antara pribumi pun keturunan Tionghoa sering menjadi bahan olokan seperti (maaf) "penisnya kecil kaya kelingking bayi. cina ga sunat". (Tentu saja tidak semua mereka begitu, beberapa malah mengagumi kebudayaan Tionghoa dan Cina). Hanya suatu hari saya kuliah di mana banyak keturunan Tionghoa dan saya mengenal orang-orang keturunan Tionghoa yang ramah dan lucu-lucu. I mean I was like, "wow they're not as bad as I've heard". Dan kejadian-kejadian seperti itu banyak sekali terjadi di mana-mana. Hatred. I mean, saya pun pernah waktu kuliah suatu hari utk mengisi waktu bulan puasa dan mencari uang jajan tambahan, saya dan teman saya, seorang batak kristen, mengantarkan parsel-parsel natal. Kami sampai di rumah seorang Tionghoa dan ketika saya ingin mengantarkan parselnya dia menyuruh saya dengan kasar agar tidak masuk gerbang. Dia bilang, "kamu teroris ya? Itu kamu bawa bom ya!" dan dia memaki-maki saya dengan kasar mengata-ngatai saya terroris. Mungkin karena wajah saya yg agak ketimurtengahan. Saya berusaha sabar dan ramah dengan meyakinkan diri saya dalam hati, "God is good. He is patience". Tapi teman saya yang Batak ini panasan orangnya dan dia mengambil parsel itu dan melemparkannya sambil memaki-maki, "dasar cina ga tau diri. Gw bakar lo di sini sekarang juga! Gw dulu puas bakar-bakar cina!" sampai si punya rumah ketakutan. Bahkan dia sampai mengambil batu dan melempari si rumah Tionghoa ini. Ketika di mobil saya berpikir keras, "Why? Why? Why?". Dan sepanjang hidup saya sampai sekarang, saya bertemu dengan kebencian-kebencian ini dan sampai sekarang saya masih terus bertanya, "why? Why? Why ?". Tapi somehow, saya juga menemukan, orang-orang ini sebenarnya bukan orang jahat. Seperti teman saya yg batak kristen yg sangat anti-cina itu, dia orang baik, bertanggung jawab, menyayangi keluarganya, memelihara hewan-hewan sakit, sopan dan ramah, dll. I mean, how can someone like that can hate other group ? Banyak sekali orang-orang yg anti kristen, anti islam, anti cina, atau anti arab, dan anti amerika, mereka pada dasarnya orang-orang baik. Dan menurut saya yg membuat mereka bisa sampai mencaci maki, membakar, bahkan membunuh adalah karena ketidaktahuan.. Mereka tidak mengenal dan tidak mengerti. Seperti saya pernah diberitahu "injil tu buatan setan" dan ketika saya membuka alkitab dan membaca, "sayangilah orang lain seperti kamu menyayangi diri sendiri" dan "jika seorang menampar pipi kananmu, berikan pipi kirimu, jika seseorang menginginkan bajumu, berikan pula jubahmu" saya berpikir, "wow, apa yang setan tentang ini?". Saya berpikir mungkin, mungkin, jika orang saling mengenal masing-masing mereka akan menyadari bahwa kecurigaan dan ketakutan mereka itu tidak benar. Jika mereka mempelajari agama orang lain, budaya orang lain, mau mendengar musik orang lain, dll mungkin mereka akan mengerti dan tidak lagi membenci. Dan bakar membakar tidak akan terjadi lagi. Seperti saya pernah membaca quran dan di situ tertulis, "Sesungguhnya Tuhanmu menciptakanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal". I think the solution would be education. Dan sikap pengertian, memaafkan serta perbuatan baik juga berpengaruh. Seperti teman kristen pertama saya yang menyediakan sajadah dan makanan berbuka merubah drastis rasa takut dan curiga saya terhadap orang kristen. Hanya karena perbuatan baik sederhana. Just share. Maaf kalau ada kata-kata yang salah dan menyinggung. -= M. Huda =- _____ From: ikkyosensei_ ym <ikkyosensei@ gmail.com> To: budaya_tionghua@ yahoogroups. com Sent: Tue, 22 December, 2009 17:19:56 Subject: [budaya_tionghua] Re: Extrimisme dalam agama adalah gerakan yang paling berbahaya. OOT Dear Zhoufy, Yach... Amerika saja sudah memahami, melalui perih terbakarnya WTC, perlunya memahami cara pandang dari sisi sebaliknya. Dan pendekatan kekuatan/kekuasaan sudah tidak lagi efektif menyelesaikan konflik. Di jaman modern, kekuatan tidak lagi polar, bro. Tapi terpecah-pecah dalam banyak group. Jaman dulu, kekuasaan hukum sedemikian besarnya untuk mengatasi segalanya. Jaman sekarang, pengusaha, religi, dan LSM sudah terbukti ampuh kekuasaannya dalam menentukan arah masa depan. Kalau satu orang yang nyeleneh jelas tidak mampu melawan hukum. Tapi, kalau sudah pembakaran oleh massa ... menurut saya naif jika tetap berkeras bahwa itu hanya "oknum tidak bertanggung jawab". Carilah, pahamilah alasan mereka melakukan itu. Memang memahami lebih memakan banyak waktu dan usaha, tapi paling tidak bisa memperpanjang masa damai. Boleh percaya atau tidak... silahkan lanjutkan pembangunan gereja yang tidak "diterima masyarakat", maka saya ramalkan pembakaran akan terus terjadi. Silahkan kerahkan kekuatan untuk "memaksakan" pembangunan, maka saya ramalkan akan tergalang kekuatan perlawanan yang lebih besar lagi. Sampai dimana kepuasan uji coba anda tersebut? Sampai mendapatkan bomb yang mampu merubuhkan beton terkuat? Btw, kok jadi saya yang ngebelain ajaran belas kasih yach? Khan harusnya saya yang menyalibkan belas kasih ... he he he. Salam, Chen Gui Xin --- In budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> yahoogroups. com, zho...@.... wrote: > > Bung, di zaman moden, di negeri yg penduduknya begitu padat, himbauan moral bukanlah jawaban yg tepat thd gesekan sosial. > > Jika utk mendirikan sebuah bangunan kita hrs selalu minta izin lingkungan, ini bisa menjadi masalah. Satu orang saja sentimen thd kita, kita tak bisa membangun rumah kita! Meski rumah kita tak melanggar apa2 > > Di masyarakat urban modern, tak bisa semua masalah menunggu diselesaikan dng musyawarah mufakat spt kehidupan desa, maka dibentuklah pemerintahan yg mengatur segala, semua dijalankan dng hukum, itu baru sehat. > > > > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > >
