Suku-suku asli Papua sudah mengenal keramik Tiongkok selama ratusan
tahun. Di mata mereka, ­keramik Tiongkok mempunyai fungsi sosial
budaya yang tinggi.



…



Sepuluh laki-laki Papua berjubah kuning menari, menyanyi sambil menabuh
tifa,  gendang panjang khas Papua yang terbuat dari kayu dan kulit
biawak. Di belakang mereka berbaris ratusan orang. Tua, muda, laki-laki
dan perempuan, mengikuti penabuh gendang sambil berjalan jinjit-jinjit
dan saling bersahutan. Ramainya barisan ini menyita perhatian masyarakat
dan sempat membuat jalan raya Biak macet.



Inilah prosesi pernikahan adat Papua. Pengantin laki-laki yang
dikelilingi penabuh tifa berjalan bersama rombongan menuju rumah
pengantin perempuan. Tradisinya memang harus jalan kaki. Ia membawa
serta tua-tua keluarga yang masing-masing membawa piring dan guci besar.
Menariknya, piring-piring dan guci itu adalah keramik Tiongkok.



Suku-suku lokal Papua sudah mengenal keramik dan porselen Tiongkok
selama ratusan tahun. Ketika para pedagang Tionghoa datang mencari
burung cendrawasih, mereka menggunakan keramik sebagai uang dan alat
tukar. Keramik-keramik ini dikumpulkan dan menjadi pusaka keluarga yang
sangat berharga. Ketika anak laki-laki sebuah keluarga akan menikah, ia
wajib memberikan seperangkat piring keramik sebagai mas kawin kepada
keluarga perempuan. Hampir setiap rumah tangga Papua mempunyai
keramik-keramik yang dianggap sebagai aset ini.



Di Desa Adiwipi, Kampung Ambai, saya bertemu dengan Elsi Wanggai (56).
Perempuan anak kepala suku ini mempunyai lima anak laki-laki dan lima
anak perempuan. Mereka tinggal bersama di rumah panggung kayu yang
didirikan di atas laut. Kampung Ambai yang terletak di Distrik Kepulauan
Seribu memang sebuah desa yang berdiri di atas laut. Barisan rumah-rumah
diatur sedemikian rupa supaya ada gang, agar kapal bisa lewat. Kapal
menjadi alat transportasi sehari-hari untuk ke sekolah, mencari ikan,
mengambil air tawar atau pergi ke gereja yang ada di darat.



Elsi mengajak saya ke sebuah bilik kamar yang penuh dengan keramik. Ada
guci, piring berukuran besar, mangkuk, dan piring-piring makan. Sebagian
dari piring-piring itu merupakan warisan keluarga berumur puluhan sampai
ratusan tahun. "Piring ini sudah tujuh turunan," kata Elsi
sambil menunjuk piring hijau bermotif naga dan guci putih biru bermotif
bunga.



Keramik-keramik ini mempunyai makna budaya mendalam bagi orang Papua.
Selain digunakan sebagai mas kawin, dalam upacara adat menyambut tamu,
piring ini harus diinjak oleh tamu di depan pintu, baru pintu ditutup.
Artinya tamu dite­rima oleh keluarga. Itulah sebabnya piring ini juga
disebut piring tutup pintu. "Bila orang yang datang itu punya maksud
buruk, piring yang diinjak akan pecah," tutur Wati, anak perempuan
Elsi.



Upacara injak piring ini sempat digelar saat mantan Presiden Megawati
datang ke Ambai. Ratusan piring milik warga dijajarkan dari dermaga
sampai ke gereja. Sebagai penghormatan agar Megawati tidak menginjak
tanah, ia berjalan di atas piring-piring itu. Selain sebagai mas kawin
dan upacara penyambutan tamu, piring kuno ini juga digunakan sebagai
sarana penyembuhan penyakit. "Bila sakit, tuang air ke dalam piring
ini lalu minum airnya," kata Elsi. Konon, si penyakit akan segera
hengkang.



Punah karena Perburuan Harta Karun



Berita tentang banyaknya keramik antik Tiongkok di Papua ternyata
diketahui oleh para kolektor dan pemburu benda antik. Laaga Samai, tokoh
Papua yang tinggal di Andaair mengatakan bahwa keramik ini kerap mereka
sembunyikan di hutan dan gua karena memicu konflik. "Ada kisah
dimana seorang ayah yang mencegah pertikaian anak laki-lakinya
memperebutkan warisan keramik ini, harus membunuh bujang yang
membantunya membuang keramik di hutan, supaya tidak ada saksi yang tahu
tempat persembunyiannya."



Keramik sebagai pusaka keluarga ini konon harus diwariskan kepada anak
laki-laki yang terpilih. Bila dimiliki oleh mereka yang tak berhak, bisa
menimbulkan sakit-penyakit.



Keramik Tiongkok warisan yang asli, kini memang makin sulit didapatkan.
Tak sedikit orang Papua yang menjual pusaka keluarga kepada para
kolektor. Tak heran, karena harganya bisa mencapai puluhan hingga
ratusan juta rupiah di pasaran. Kebanyakan yang ada saat ini adalah
keramik modern yang tidak antik dan mudah didapat. Pergi saja ke
pasar-pasar di Papua. Pada toko peralatan rumah tangga Anda bisa
menemukan tumpukan keramik Tiongkok dengan harga mulai dari Rp. 60.000,-
sampai Rp. 500.000,- Biasanya keramik dibeli satu-persatu untuk
"ditabung" menjelang rencana pernikahan karena harganya cukup
mahal. Keramik ini didatangkan dari Jakarta dan Surabaya. Selain
bermotif desain oriental khas Tiongkok, beberapa keramik modern ini
mempunyai desain dan motif-motif Papua, seperti gambar burung
cendrawasih dan tifa.



Saya cukup beruntung untuk masih bisa melihat keramik kuno yang asli.
Hayum Ombainer, Raja Suku Namatota yang tinggal di Kampung Seram Kaimana
masih memiliki­nya. Ia memperlihatkan sejumlah keramik yang
disebutnya piring dan guci kanton, lantaka Portugis, serta
perak-perunggu berbagai bentuk yang disebut emas Papua. Biasanya warisan
keluarga yang masih langgeng terjaga memang dimiliki oleh keturunan raja
atau kepala adat.



Berbeda dengan suku-suku daerah utara yang hanya mensyaratkan keramik
sebagai mas kawin, suku di wilayah selatan Papua mensyaratkan juga
lantaka atau lela (meriam) Portugis, gong, dan emas Papua. "Semua
ini diberikan kepada pihak pengantin perempuan dengan makna khusus,"
jelasnya.



Guci mengandung makna ibu yang akan mengandung. Piring diberikan untuk
makan dan mangkuk untuk minum obat selama hamil. Gong dibunyikan bersama
tifa saat upacara nikah. Lela atau meriam adalah pengganti tulang
belakang yang sakit karena melahirkan. Sementara emas Papua adalah
pengganti rasa pahit setelah minum obat. "Ini semua diberikan
bersama pinang, sirih dan rokok," katanya.



Saat saya bertanya apakah ada pemburu harta karun yang sempat
menemuinya, ia tersenyum. "Sudah banyak yang menemui saya untuk
melihat barang-barang ini." Pantas, ia tak tampak kaget ketika saya
memohon untuk mengeluarkan semua barang itu dari gudangnya. Cukup makan
waktu, karena beberapa diantaranya berat. Hayum lalu menceritakan
seorang kolektor Surabaya yang naksir guci antiknya. "Dia tidak
mengeluarkan angka, tapi kompensasinya adalah membiayai penuh uang
kuliah anak saya di Surabaya sampai selesai."



Bagaimana bila keluarga laki-laki tidak lagi punya barang-barang antik
ini untuk meminang sang gadis pujaan? "Mudah, ganti saja dengan
uang," Hayum tersenyum. **(Lisa Suroso)




Foto: Eric Satyadi

Untuk melihat foto-foto dari artikel ini:

http://lisasuroso.wordpress.com/2009/12/29/keramik-tiongkok-alat-tukar-y\
ang-membudaya/












Kirim email ke