Halal memang tidak sama persis dengan kosher (Yahudi) tetapi umat Advent mengikuti aturan kosher.
Kepedulian akan halal, kosher atau sesuai atau tidak dengan aturan agama Buddha ukurannya jelas, rasa hormat, satu bagian penting dari budipekerti, ajaran nenek moyang orang Tionghoa. Bagi saya tidak terlalu penting apakah teman Muslim saya korupsi atau teman Buddhis saya penipu. Karena memang manusia tidak sempurna. Yang penting adalah bagaimana kita menghormatinya, termasuk menghormati kepercayaannya. Jadi sedapat mungkin menghidarai kita menjadi batu sandungan bagi teman kita. Beberapa kali bertemu dengan orang Tionghoa yang tertawa tawa bercerita kalau dia dengan sengaja memberi orang Muslim makanan yang tak halal. Saya pikir ini adalah orang Tionghoa yang sudah tercerabut dari akar budayanya walaupun masih menjalankan ritualnya. Salam, Anton W --- In [email protected], "younginheart5000" <crv...@...> wrote: > > Aturan halal yang baku itu apa sih? Ada ada saja! > > Halal bagi Muslim, belum tentu halal bagi umat lain, misalnya daging sapi > yang halal bagi umat Muslim, bukan halal bagi sodara umat Hindu Bali, juga > bukan barang halal bagi umat Nasrani Advent! > > Baku? Apa ukurannya? common sense? Ini kan urusan agama, bukan common sense?
