Sorry Cicih, aku kira huruf Hanzi tidak pernah terbagi dalam dua versi
TRADISIONAL vs SIMPLIFIED.  Antara Hanzi Simplified dan Tradisional
bukan 2 sistem yang berbeda dan saling hadap-hadapan.

Huruf-huruf Simplified totally cuma kurang-lebih 20% dari seluruh aksara
Hanzi yang ada.  Jadi sebagaimana anda katakan, yang memulai belajar
dari huruf Tradisional tidak akan menghadapi terlalu banyak kesulitan
bila membaca karangan dengan huruf Simplified, karena huruf yang tak
(pernah) dikenal tidak terlalu banyak, cuma 20% kira-kira, dan sebagian
dari itu pun bisa dengan mudah diterka karena ada kemiripan bentuk
dengan yang Tradisional, atau bisa pula ditebak dalam konteks seluruh
kalimatnya. Demikian pula sebaliknya, bagi yang memulai belajar dari
huruf Simplified.

Pernah saya coba memindahkan beberapa karya dalam huruf Simplified ke
komputer berbasis huruf Tradisional (dan tidak ada fasilitas otomatic
convert antara huruf Tradisional dan Simplified),  ternyata yang tampil
dalam bentuk kotak-kotak (tak dikenal) memang kurang-lebih cuma 20 s/d
30% doank, selebihnya tetap terbaca tuh!

Salam,



Erik

------------------------------------------------------------------------\
-----------

In [email protected], Pangesti Atmadibrata
<pangest...@...> wrote:
  Saya baru mulai belajar Bahasa Han di usia 17 tahun. Tanpa didukung
lingkungan berbahasa di rumah. Berdasarkan pengalaman trial and error,
saya lebih suka belajar dengan versi asli, karena aksara Han pada
dasarnya kan gambar atau simbol. Dengan belajar yang tradisional, saya
bisa sekalian belajar filsafat, budaya, pola pikir dan sebagainya.
Karena bentuknya gambar, saya bisa menggunakannya sebagai trik untuk
menghapalkan aksara. Jadi sekali merengkuh dayung dua tiga pulau
terlampaui. Cara ini membuat saya lebih cepat masuk dan memahami
pelajaran bahasa dan memudahkan juga untuk memahami budaya, sejarah, dan
filsafatnya.
>
Untuk bisa juga membaca aksara yang singkat, lama kelamaan terlatih juga
kok untuk 'menebak' dari yang tradisional kira-kira akan disingkat
seperti apa. Rumusnya nanti ketemu sendiri.
>
Idealnya, belajar dua-duanya. Apalagi kalau ingin menekuni profesi
sebagai penerjemah. Saya sering gemas kalau ada order terjemahan, tapi
orang yang ditawari akan bilang "aduh...huruf Taiwan ya (maksudnya
aksara tradisional)...susah bacanya...maaf ya nggak sanggup kalo
nerjemahin versi tradisional". Ada juga yang bereaksi kebalikannya,
panik kalau melihat aksara versi singkat. Padahal saya jelas-jelas tahu
waktu belajar di Uni-nya dulu kurikulumnya mengajarkan kedua-dua jenis
aksara tersebut. Akibatnya rejeki pun jadi melayang  :)
>
> Tentu saja ini hanya pendapat pribadi.
>
> Pangesti Bernardus
>
>
> --- On Thu, 3/4/10, akuratan akura...@... wrote:

Kirim email ke