Maaf kalo reposting

Maaf Kalau Reposting
China Membela Buruhnya!

Kamis, 24 Juni 2010 | 03:13 WIB

Oleh *I Wibowo*

Mulanya adalah keprihatinan akan banyaknya buruh di pabrik Foxconn yang
bunuh diri. Buruh- buruh di pabrik milik Taiwan itu ternyata menerapkan
sistem kerja yang di luar kemanusiaan.

Tempat kerja/tidur sempit, udara pengap, tempat peturasan yang berbau
menyengat. Mereka dipaksa bekerja lebih dari 8 jam sehari dengan pengawasan
ketat (kamera di mana-mana). Sistem hukuman yang amat kejam diterapkan untuk
buruh-buruh yang terlambat. Dan mereka diberi upah amat rendah. Foxconn
adalah perusahaan subkontraktor raksasa yang terletak di Shenzhen yang
menghasilkan produk Apple yang tersohor, juga Dell dan Hewlett Packard.

Ketika berita ke luar, serentak muncul reaksi keras dari masyarakat.
Ternyata tidak hanya Foxconn yang memperlakukan buruhnya di luar batas
kemanusiaan, ada banyak perusahaan lain. Buruh-buruh di tempat lain yang
membaca laporan Foxconn marah, dan mereka disadarkan mereka juga mendapat
perlakuan yang tidak kalah mengerikan. Demonstrasi dan pemogokan meledak di
pabrik milik investor asing Jepang, Honda Lock di Zhongshan (Prov.
Guangdong).

Pemogokan dan demonstrasi oleh buruh bukanlah hal yang baru-baru ini saja
terjadi di China. Di wilayah terkenal sebagai jantung manufaktur, di Delta
Sungai Mutiara, Shenzhen, terjadi rata-rata 10.000 sengketa perburuhan.
Namun, sengketa-sengketa itu biasanya diabaikan oleh manajer perusahaan.
Seorang pejabat dikutip mengatakan bahwa sengketa itu biasa, seperti halnya
cek-cok antara suami dan istri.

*Serikat buruh tak berguna*

Di China bukannya tidak ada serikat buruh. Partai Komunis China hanya
mengakui satu serikat buruh, yaitu Federasi Buruh Seluruh China, seperti
Indonesia di masa Orde Baru. Serikat buruh ini bertindak sebagai agen
pemerintah dan partai. Para pengurusnya digaji oleh pemerintah, dan mereka
bertugas memantau dan menghancurkan setiap gerakan buruh. Ketika terjadi
konflik antara buruh dan manajemen, serikat buruh ini selalu berdiri di
samping pemerintah dan pengusaha. Bahkan, mereka tidak segan-segan untuk
menentang dan berkelahi dengan para buruh. Ini terjadi saat buruh pabrik
Honda melakukan protes.

Namun, hal ini tidak menyurutkan keberanian para buruh di China untuk
memperjuangkan nasib mereka. Di banyak tempat muncul aktivis-aktivis yang
dengan terang-terangan menentang perlakuan tidak adil terhadap para buruh.
Mereka juga berusaha untuk mendirikan serikat buruh di luar serikat buruh
resmi. Namun, Pemerintah memperlakukan mereka sebagai ”penjahat politik”
atau ”antirevolusi”. Para aktivis itu akan ditangkap, dianiaya, dan
dijebloskan ke penjara. Salah satu aktivis yang terkenal adalah Han
Dongfang.

Dalam koran International Herald Tribune, (17 Juni 2010), Han menulis: ”Yang
kita saksikan sekarang adalah fase intensif aktivisme para buruh yang
mencerminkan pemulihan ekonomi yang depat di China.” Buruh sadar ketika
pertumbuhan ekonomi terus meningkat, mereka berhak juga atas keuntungan yang
berasal dari situ. Namun, Han buru-buru menambahkan bahwa Pemerintah China
juga telah gagal menanggapi masalah fundamental yang memicu semua sengketa
itu, yaitu gaji yang rendah, tidak adanya saluran resmi untuk menyalurkan
kepedihan para buruh, serta dilucutinya para buruh migran dari hak akan
pendidikan, santunan kesehatan, dan santunan sosial lainnya.”

*Perhatian Hu Jintao*

Gelombang demonstrasi dan protes akhirnya menarik perhatian pemerintah
pusat. Presiden Hu Jintao yang juga adalah Sekretaris Jenderal Partai
Komunis China yang sejak awal kepemimpinannya menaruh perhatian besar kepada
kaum papa tidak berlambat-lambat mengubah kebijakan dalam perburuhan. Pada
tahun 2008 disahkan UU Kontrak Kerja, yang mengatur bahwa buruh yang sudah
bekerja selama 10 tahun pada perusahaan yang sama berhak mendapatkan kontrak
kerja ”tanpa batas”, dan memberinya jaminan kompensasi finansial sekiranya
terjadi pemutusan hubungan kerja. Legislasi ini merupakan tonggak penting
untuk menyelamatkan buruh yang tidak lagi menikmati status ”buruh tetap”.

Dalam perayaan Hari Buruh 1 Mei 2010, Hu merayakannya dengan menganugerahi
penghargaan bagi ”buruh teladan”. Sejumlah 2.115 buruh teladan mendapat
anugerah dari Hu. Dia menyatakan bahwa para buruh telah ”memberikan
kontribusi sangat jelas dalam mendorong kemajuan sosial dan ekonomi bangsa”.
Parade buruh teladan yang diadakan pada 1 Mei dihadiri oleh semua pemimpin
tertinggi Partai Komunis China.

Beberapa minggu sebelumnya di bulan April, Hu Jintao menyatakan, kenaikan
upah buruh tidak boleh ditunda-tunda. Hu rupanya merespons para demonstran
yang menuntut kenaikan upah. Koran Rakyat (17 Juni 2010), corong resmi
pemerintah, memuat perintah PM Wen Jiabao agar upah buruh dinaikkan.

Maka, pabrik-pabrik, terutama milik investor asing, menaikkan upah buruh
sampai ke tingkat 30 persen. Foxconn dan Honda yang dilanda demonstran
paling besar menaikkan upah buruhnya 24-30 persen. Pengusaha-pengusaha
mengeluhkan perkembangan baru ini, tetapi mereka dihadapkan pada pilihan
risiko yang sulit antara menaikkan ekspor atau dilanda demonstran dan
kerusuhan. Pemerintah China tak melarang demonstrasi para buruh.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintahan Hu Jintao dan Wen Jiabao
memang memperlihatkan ciri kebijakan yang berbeda dari pendahulunya. Jiang
Zemin dan Zhu Rongji jelas- jelas cenderung kepada kebijakan yang bersifat
neoliberal, yang berdasar race to the bottom. Hu maupun Wen mau membalikkan
keadaan ini, terutama karena mereka berpegang pada visi tentang ”masyarakat
yang harmonis” (hexie shehui). Kesenjangan sosial yang makin lebar antara
yang kaya dan yang miskin, antara desa dan perkotaan, mereka sadari benar
dapat mengancam stabilitas politik maupun ekonomi.

Dalam hal ini baik Hu maupun Wen dapat dikatakan telah bergeser lebih ”ke
kiri”, barangkali sesuai dengan suara keras yang didengungkan oleh para
intelektual China yang tergabung dalam ”kiri baru” (xin zuopai). Kelompok
ini mengecam fase pemerintahan Jiang dan Zhu yang mereka tuduh telah menjual
bangsa. Salah satu tokoh penting adalah Cui Zhiyuan dari sebuah universitas
paling terkemuka di China, Universitas Qinghua.

*I Wibowo **Ketua Centre for Chinese Studies-FIB, UI
*

*http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/24/03132197/china.membela.buruhnya
*

-- 
"One Touch In BOX"

To post : [email protected]

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius
Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
- Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von
Bismarck.

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di
belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

 



-- 
Sudiyanti (Ayen)
Advocacy Division
Trade Union Rights Centre
Jalan Mesjid III No.1 Pejompongan, Jakarta 10210
Telp. 62 21 5703929 Fax. 62 21 5708912
[email protected]

Kirim email ke