Masalah budaya memang tidak bisa dan tidak boleh dilihat dari kacamata politik ideologis. janganlah ada istilah "seharusnya" dalam hal budaya, semua harus kita terima apa adanya, kita boleh memperhatikan dan menikmati perkembangannya, tapi tak boleh menghakimi, tak boleh menilai benar atau salah.
Karena indonesia adalah bentukan baru secara politik, maka dia belum punya sejarah budaya yang monolit. maka di UUD pun rumusannya terpaksa menyebut budaya indonesia adalah kumpulan dari puncak budaya berbagai suku di Indonesia, semacam gado2. dari sudut pandang ini, budaya tionghoa yang dijalankan masyarakat Tionghoa di Indonesia otomatis masuk dalam gado2 ini, mengingat keberadaan etnis tionghoa di sini jauh sebelum Indonesia lahir. Lantas bagaimana dng masalah membumikan budaya tionghoa di Indonesia, sehingga pantas disebut budaya tionghoa yang khas Indonesia? ini adalah masalah akulturisasi. Seperti budaya etnis lain di Indonesia, budaya Tionghoa selain memiliki segi2 yang mudah diserap oleh komunitas lain, sehingga terjadi akulturisasi, juga memiliki segi2 yang eksklusif, yang tak dapat berubah, yang hanya dapat dinikmati oleh pemilik budaya asal. Contohnya dalam budaya Jawa, banyak yang mudah diserap oleh masyarakat non jawa, seperti misalnya batik, tapi tetap saja ada yang sulit diserap oleh orang luar, seperti macapatan dan wayang orang. Demikian juga, suku lain mudah menyerap budaya kuliner Tionghoa seperti bakmi bakso, dan melahirkan makanan peranakan lontong capgomeh, tapi tetap sulit menghayati proses ritual di klenteng, atau menggauli sastra berbahasa Tionghoa tanpa proses alih bahasa. Unsur2 budaya yang mudah melebur dalam pergaulan antar etnis ini bisa kita namakan "budaya baru" dari Indonesia yang juga baru, budaya ini sudah mulai menaggalkan baju etnisnya, diamalkan oleh segenap bangsa Indonesia tanpa mempersoalkan lagi asal usulnya. Lantas bagaimana dng unsur2 budaya yang tak dapat "melebur membaur" itu? apakah mereka tak pantas disebut budaya Indonesia? saya kira jawabannya ada dua: Pertama, secara sosial politik, mengacu pada sejarah pembentukan Bangsa Indonesia dan UUD45, dia tetap sah sebagai budaya Indonesia, ada yang pakai istilah " budaya nusantara" Kedua, secara etnologi antrologi , dia tetap saja bertahan sebagai budaya etnis. gamelan di Suriname atau di Indonesia tetap saja sebagai budaya Jawa. sastra Tionghoa Indonesia dan sastra Tionghoa Malaysia adalah bagian dari sastra Tionghoa dunia, bukan bagian dari sastra Indonesia. Justru dengan berpijak di kedua perahu ini, budaya Tionghoa akan terus mengalami dinamika, yang membuat dia penuh vitalitas, dan sanggup menjadi jembatan budaya lintas bangsa. Maka tak perlu takut mengakui kesamaan dan perbedaan kita. Salam, Zhou Fuyuan ________________________________ From: Erik <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, July 7, 2010 6:27:40 PM Subject: Re: Bls: [budaya_tionghua] Event Budaya Tionghoa Oh, ga begitu Ken, bukan mau menyamakan!! Budaya Tionghoa memang beda dengan budaya suku-suku lain, tapi budaya Tionghoa harus membumi di tanah Katulistiwa ini. Walau awalnya pendatang, tapi Tionghoa harus bisa membumi dimana pun ia menginjakkan kakinya. Lihatlah contohnya Singapura, Tionghoa di sana mayoritas loh, dan budaya Tionghoa pun dominan serta menjadi tuan rumah di sana. Salam, Erik ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ------ In budaya_tionghua@ yahoogroups. com, Azura-Mazda <Extrim_bluesky@ ...> wrote: Lho...da ge Eric, kebudayaan Tionghoa memang pendatang. kan bukan pribumi spt Jawa, Sunda, Batak, Dayak dsb. Memangnya kenapa kalo Tionghoa itu disebut pendatang? disebut Non-Pri? memang bukan pribumi kok. Itu temen da ge Eric mau dipersamakan ya? Why? segitu takutnya dengan perbedaan ya? Jadi menyama-nyamakan diri dengan pribumi? Tionghoa jelas berbeda dgn pribumi sebagaimana kebudayaan Acheh berbeda dengan Jawa atau Papua. So what?
