Ha 3x! Bisa muntah darah kali ya andai Laozi bangkit dari kuburnya
mendapati adanya pernyataan seperti itu!!

Biang kerok dari kesalah-paham ini khan karena masyarakat awam tidak
menyadari adanya perbedaan yang hakiki antara Daojia (é"å®¶)
sebagai sebuah sistem ilmu pengetahuan kalam dan Daojiao (é"教)
sebagai sebuah bentuk agama.

Sejauh yang saya tahu, walau oleh kalangan Daojiao Laozi tetap
diposisikan secara terhormat sebagai Nabi, namun inti ajaran Daojiao
tidak seluruhnya persis dengan apa yang pernah disampaikan baik oleh
Laozi maupun Zhuangzi. Malah lebih banyak ajaran-ajaran Daojiao
dipengaruhi oleh pikiran Huang Laodao (黄老é") yang hidup
pada awal dinasti Han.

Sebagai seorang ilmuwan dan filsuf, yang dilakukan oleh Laozi sepanjang
kariernya adalah mengembangkan aliran filsafatnya tentang hakekat
seluruh alam jagat ini. Pokok-pokok pikiran Laozi antara lain adalah
konsep binary oposisi Yim-Yang sebagai sifat dasar yang membentuk
seluruh isi alam jagat ini, tentang keseimbangan dan keharmonisan macro
cosmos dan micro cosmos, dst, dst. Beliau sama sekali bukan seorang
pelaku tapa yang hidup menyendiri bersemedhi di gunung sebagaimana
dikatakan orang.

Baru di kemudian hari, terutama dipelopori oleh Zhang Sanfeng
(张三丰) ajaran Laozi tentang keseimbangan Ym-Yang dan
keharmonisan cosmos ditafsir ulang, dihayati dalam pemahaman magis serta
diterjemahkan ke dalam praktek laku tapa dan semedhi.  Sedangkan
pokok-pokok ajaran filosofisnya semakin hari semakin ditinggal dan
dilupakana orang.

Salam,



Erik

------------------------------------------------------------------------\
-------------

  In [email protected], "Kawaii no Shogetsu"
<fenghuan...@...> wrote:
>
LAOZI MEMPRAKTEKKAN TAOISME DI GUNUNG WUDANG??? GAK SALAH???
------------------------------------------------------------------------\
------------------------------------------------In
[email protected], "xiaolongni73" xiaolongni73@ wrote:
Dikutip dari milis tetangga (everyday mandarin):
Karate Kid, Re: Beijing Hutong - Kota Tua Beijing
Posted by: "Alfonso" degaan36@ degaan36
Mon Jul 5, 2010 1:31 pm (PDT)

Dalam film Karate Kid 2010 Jackie Chan, sebagian besar shooting memang
dilakukan di Hutong (lorong kota tua di Beijing). Film Karate Kid
bertujuan untuk promosi kota Beijing secara khusus, dan China secara
umum.
Di film tsb, kita bisa melihat kehidupan sehari-hari orang Beijing
ditonjolkan di sana. Yang modern, yang kuno, yang hebat, yang bagus,
sampai yang lucu. Di film Karate Kid, kita bisa menyaksikan permainan
jianzi (sejenis olahraga kaki kuno China dari Dinasti Han dengan 3-4
orang yang memainkan bulu ayam yang diikat di koin), tenis meja, bulu
tangkis, di mana semua itu merupakan olahraga nomor 1 di China. Juga
olahraga basket, Mei Ying yang bermain biola, ojek China saat Dre nebeng
dengan skate-board- nya, sekolah internasional Dre, dan stadion
Olimpiade Bird Nest (Niao Chao) yang menggambarkan kehidupan orang China
(Beijing) masa kini.
Di film, kita bisa melihat ratusan siswa China yang belajar kungfu di
perguruan. Itu bukan rekayasa karena untuk siswa SMA di China, mereka
yang berijazah di bidang olahraga dan musik akan mendapat tambahan 20
poin saat ujian masuk universitas. Itu salah satu kehebatan pemerintah
China dalam memberi dorongan hidup pemuda mereka. Pemerintah mengatur
supaya anak-anak muda sehat, kuat, dan berkarakter dengan memberi mereka
manfaat (tambahan nilai masuk univ) jika mereka menyalurkan di tempat
yang benar. Makanya tidak pernah ada tawuran siswa seperti terjadi di
negeri ini walau jumlah pemuda di sana 8 kali lipat jumlah pemuda di
Indonesia. Jika kita lihat di film, anak-anak muda di China sangat
gesit, dan memang itulah kenyataannya di sana.
Tentang orang semedi dan biara di atas gunung di film, itu juga benar
dan memang ada di China hingga hari ini!
Yang kita lihat di film Karate Kid, shooting diambil di Perguruan Wushu
Wudang Shan (Gunung Wudang) atau dalam dialek Hokkian lebih terkenal
dengan sebutan Butong. Anda yang suka menonton Indosiar tahun 1995 tentu
tidak asing lagi dengan nama Butong Pai (Aliran Butong/Wudang) di film
To Liong To (Pinyin: Tu Long Dao/Golok Pembunuh Naga). Judul asli film
ini adalah Yi Tian Tu Long Ji yang dimainkan oleh Tony Leung.
Gunung Wudang berada di kota Shiyan, Provinsi Hubei, China, juga dikenal
sebagai tempat suci para pendeta Tao. Unesco juga telah menetapkan
Gunung Wudang sebagai salah satu warisan budaya dunia. Sekitar 2.000
tahun lalu, filsuf besar China, Laozi, mempraktikkan Taoisme di gunung
ini. Itulah yang membuat Wudang dianggap sebagai asal Taoisme China.
  Zhong Yunlong adalah pendeta Taois yang juga memegang jabatan tertinggi
dalam aliran wushu Wudang hari ini. Dia adalah murid generasi ke-14 dari
mahaguru aliran Wudang, Zhang Sanfeng. Sampai saat ini, Zhong Yunlong
hingga hari ini masih bermeditasi di atas gunung, jauh dari keramaian.
Di lain waktu, jika ada kesempatan saya akan coba menceritakan tentang
Perguruan Wushu Wudang/Butong.
Bagi penggemar cerita silat, kisah Zhang Sanfeng (Hokkian:Tio Samhong)
pasti tidak asing lagi. Dalam legenda dunia persilatan, Zhang Sanfeng
merupakan tokoh silat yang digambarkan sebagai orang yang sederhana,
bijak, dan berilmu silat tinggi.
Zhang Sanfeng pada awalnya dipercaya sebagai murid perguruan Shaolin,
tetapi kemudian mengembangkan ilmu wushu (yang disebut kungfu oleh orang
Barat) beraliran Taoisme di Gunung Wudang.
Kembali ke Zhong Yunlong, masa remajanya dia mempelajari wushu di
perguruan Shaolin di Provinsi Henan. Lalu dia pergi ke Gunung Wudang
untuk mempelajari wushu aliran Wudang. Setelah itu dia berkelana lagi
selama tiga tahun untuk mempelajari beberapa wushu dari guru lain.
Setelah tempaan bertahun-tahun, akhirnya Zhong berani tampil dalam
berbagai turnamen wushu, baik nasional maupun internasional.
Menurut dia, hatinya tertambat pada wushu aliran Wudang karena aliran
ini paling cocok dengannya. "Ajaran tentang keselarasan dengan alam,
meditasi, bahkan baju aliran Wudang sangat saya senangi," ujarnya.
Berbeda seperti pesilat wushu aliran Shaolin yang tidak memelihara
rambut, pesilat pada aliran Wudang ini justru memanjangkan rambut
mereka. Makanya di film Karate Kid, kita melihat biksu-biksu Tao
semuanya berambut dengan berkumis. Jackie Chan juga berkumis di film
tsb.:D
Dahulu kala, rakyat jelata memang tidak diberi kesempatan mempelajari
wushu Wudang. Keahlian ini hanyalah diperuntukkan bagi mereka yang sudah
ditahbiskan menjadi pendeta-pendeta Tao saja. Salah satu alasannya
adalah untuk menghindari penyalahgunaan keahlian wushu di kalangan
rakyat banyak.
Keadaan berubah. Seiring dengan perubahan dan keterbukaan Pemerintah
China, keterbukaan juga menyapu Gunung Wudang. Mereka pun melakukan
reformasi dengan mendirikan Asosiasi Taois Wudang pada tahun 1988. Wushu
Wudang yang merupakan warisan seni serta bermanfaat untuk menjaga
kesehatan jiwa dan raga ini mulai terbuka dan dapat dipelajari orang
kebanyakan.
Mulailah dibuka sekolah-sekolah wushu di Gunung Wudang. Sekolah pertama
yang menerima murid dari luar kalangan pendeta Tao adalah Institut
Kungfu Taois Wudang. Saat ini, tidak sedikit orang dari luar negeri yang
belajar di beberapa sekolah wushu di Wudang.
Zhong Yunlong menjelaskan, ada tiga filosofi dari wushu Wudang. Pertama
adalah renti kexue, yaitu menyangkut pengetahuan mengenai struktur tubuh
manusia. Kedua, shengmin kexue, meliputi pengetahuan mengenai kesehatan
manusia, seperti bagaimana manusia dapat menghalau penyakit serta
memperoleh umur panjang. Ketiga adalah chusi kexue, yakni pengetahuan
yang menyangkut seni dan teknik bela diri.


Kirim email ke