Ini adalah sebuah opini pribadi saya mengenai kesopanan sebuah pribadi manusia terhadap pribadi manusia lainnya. Dikarenakan ini adalah sebuah opini pribadi, maka, oleh karena itu, tulisan ini tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sebuah upaya mengerti, bagaimanakah diriku sebaiknya berhubungan dengan orang lain. Tentu saja, orang lain, bisa saja memiliki tata cara yang berbeda, dan itu sepenuhnya legal.
Sebuah standar kesopanan adalah diupayakan bagi masing-masing orang untuk menghormati hak, kewajiban, dan perasaan hati orang lain. Aku sendiri tidak mengerti apakah standar ini hanyalah satu pada dasarnya, dan diakui oleh seluruh masyarakat manusia. Secara pribadi, aku sendiri adalah salah satu orang yang tiada peka terhadap kesopanan umum. Aku memiliki kecenderungan untuk berbuat semauku sendiri terhadap semua orang, sedangkan aku menuntut penghormatan terhadap harkat dan martabatku dari orang lain, dan ini, adalah sesuatu hal yang buruk. Ada beberapa pondasi utama dalam kesopanan umum yang dikelompokkan dalam tutur kata dan sikap: 1. sapaan yang sopan 2. kata-kata yang santun 3. budi yang ditunjukkan dalam ungkapan maaf dan terima kasih 4. sikap yang sesuai dalam kontek atau bersikap semestinya/sepatutnya Seorang anak manusia(ya, bahkan dewata sekalipun) harus mampu men-formulasikan seluruh pemikiran dengan argumen-argumen yang dibungkus dengan sopan santun ini. Seluruh konstelasi kesopanan ini disebut sebagai sebuah sikap "gentle". Sikap itu sendiri tergantung kepada siapa dan acara apa: 1. orang tua => paling sopan dan juga paling formal 2. teman sebaya dan istri ataupun kekasih hati kita => paling bebas dari semua dengan tetap memberikan penghargaan yang semestinya 3. orang tak dikenal => formal dan sopan 4. orang lain yang bukan orang tua, bukan teman sebaya, dan juga tidak termasuk dalam nomor 3 => biasanya formal atau semi formal Untuk nomor 2, walaupun begitu bebasnya, tetapi wibawa tentunya masih perlu ditegakkan, tetapi wibawa ini sebatas pada kejujuran, kepercayaan, dan sikap tolong menolong tentunya. Tetapi, dalam hubungan antara manusia, susah sekali menjaga kepercayaan, kejujuran, tepat janji, dan juga, tepat waktu tentunya, walaupun tentu saja ketidak tepatan ini bisa jadi dikarenakan faktor eksternal, tetapi bisa jadi dikarenakan ketidakpedulian terhadap janji atau orang atau acara. Oleh karena itu, ungkapan pemikiran adalah baik dalam konteks tertentu(mengungkapkan pemikiran, membuat komposisi argumen baik dalam percakapan, diskusi, maupun tulisan buat umum, harus dipikirkan masak-masak. selain itu, tindakan kita yang berhubungan dengan masyarakat umum juga harus dipikirkan masak-masak), tetapi ungkapan tentang perbuatan yang akan dilakukan di masa depan(dengan kata lain adalah sebuah janji), eits, tunggu dulu, engkau harus berpikir beberapa kali mengenai soal yang satu ini, apakah bisa atau tidak, kalau kemungkinan besar tidak bisa, ya jangan dijanjikan.
