Menarik dan senang baca ceritanya .... kapan sambung lagi ..???

--- Pada Sen, 16/8/10, henyung <[email protected]> menulis:


Dari: henyung <[email protected]>
Judul: [budaya_tionghua] Di Ciampea
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 16 Agustus, 2010, 11:09 AM


  



Kapan: hari minggu kemarin tanggal 15 Agustus 2010.

Ngapain: lihat-lihat, dengar, berbincang, kenalan, silahturahim, foto-foto, 
belajar, mengamati, uji nyali

Peserta:
- Dananjaya-chan
- ko David Kwa Kian Hauw
- ko Ayao
- mbah Ardian Zhang Zhichang
- ko Khemagiri Mitto
- Sutomo Kho
- Hartono/Joao Kho
- Awi
- Robby Dada
- Eko Hermiyanto
- Agoeng Setiawan
- Subur Teguh
- Hendri Irawan Yu Yongde

Cerita:
Rombongan dibagi tiga, satu dari daerah pluit, satu dari kebon jeruk, satu dari 
kelapa gading. Dengan titik kumpul di rumah mbah.
Saya ikut rombongan dari pluit berangkat jam 6 pagi, kita makan-makan dulu 
sarapan paginya bakmi keriting siantar di pasar muara karang. 

Sembari menuju meka makan, intermezzo sekalian ditunjukin ke rekan-rekan iniloh:
- Perkumpulan Perantau Pematang Siantar
- Perkumpulan Perantau Tebing Tinggi
- Perkumpulan Perantau Belawan

Sambil sedikit ngoceh, ini loh bukti "patriotisme???" sejati tanpa bualan 
kosong membela siapa kalau perang. Tanah leluhur mereka itu yang Pematang 
Siantar, Tebing Tinggi, Belawan; Bukan lagi Meixian, Anhui, Anxi, Fujian; Masih 
banyak lagi misalnya perkumpulan Bagan, perkumpulan Kuala Simpang. Isinya semua 
tenglang; Yang mendirikan tenglang, yang ngurus tenglang, kerjanya ya buat 
tenglang. Baru-baru ini perkumpulan Tebing Tinggi mengadakan kejuaraan 
xiangqi/catur gajah.

Bakmie habis, langsung lanjut masuk jalan tol sembari obrol-obrol ringan. Rumah 
mbah sempat kelewatan akhirnya sampai juga setelah terpaksa muter jalan. Nunggu 
komplit rombongannya, rame2 sarapan dulu di warung doyong. Warung doyong ini 
jualannya masakan peranakan Bogor, dengan ayam gorengnya yang jadi menu populer.

Perut kenyang baru kita menjemput liason rombongan dengan Ciampea: Ko Ayao; 
Dilanjut dengan menjemput ko David;

Sebelum ke rumah ko Ayao, rombongan sempat berhenti sebentar di GEREJA BULULU :)
Beberapa rekan-rekan memberikan penghormatan, termasuk mbah dan saya, sesuai 
cara masing-masing. Dibanding terakhir kali berkunjung, bagian belakang gereja 
sudah direnovasi menjadi lebih rapi dan bersih. Sayangnya di bagian depan ada 
beberapa peninggalan dan bukti sejarah yang "lenyap". Ke lantai atas gereja, 
syukurlah yang antik di sana masih ada. Altarnya sungguh indah, juga kimsinnya. 
Barangkali ini yang disebut altar khas peranakan ?

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit, titik tujuan ada di Hok Tek Bio 
Ciampea. Bio ini usianya sudah lama, menurut beberapa sumber penduduk tenglang 
Ciampea adalah pelarian dari pembantaian Batavia di abad ke 18. Pelarian mereka 
dipimpin leluhur marga Thung, yang kemudian mendirikan Hok Tek Bio.

Dari Hok Tek Bio kita jalan menembus kebun singkong dan sawah. Banyakan sih 
kebun singkong di kiri dan kanan, terselip juga kebun jagung dan kebun terong. 
Oh yah, kita jalan dipandu oleh dua orang tokoh setempat. 

Pemberhentian pertama adalah kuburan leluhur penduduk setempat yaitu yang marga 
Thung dan kuburan seorang ratu. Yang marga Thung masih berkerabat dan keturunan 
dari sultan dan raja-raja di daerah jawa barat.

Setelah itu mbah dimintain bantuan buat identifikasi beberapa bongpay tua dari 
era Guangxu (abad ke 19), yang sudah tidak terurus. Karena mbah pakainya bahasa 
mandarin, sepertinya agak sulit diidentifikasi siapa anak cucunya yang masih 
tersisa di kampung itu. Jadi rencana lain kalinya adalah menculik kang 
Kinghian, karena dia spesialis bongpay dan dialek minnan. 

Rekan-rekan yang lain juga asik mendokumentasikan beberapa kuburan yang 
termasuk "unik". Salah satunya adalah kuburan dengan tanda salib yang besar 
tapi dicat merah seperti bio dan dihiasi ukiran naga ! Sungguh unik dan indah 
kuburan itu.

Lewat dari pekuburan, rombongan dipandu menyusuri medan yang lebih berat. 
Terjal, curam, licin, vegatasi lebih padat dan uji nyali menyeberangi jembatan 
bambu yang waduh... nget ngit nget

Sehabis itu ada pendakian beberapa menit yang cukup menguras tenaga. Dan reward 
nya adalah prasasti Tarumanagara yang tersohor itu ! Melihat langsung batu 
besar prasasti beserta cetakan kaki prabu Purnawarman. Sungguh ada rasa puas di 
dalam hati. Yang dulu hanya bisa dibaca lewat buku sejarah sekolah gak mutu 
(singkat2 isinya, kualitas cetakan buku jelek) akhirnya bisa dilihat dengan 
mata kepala sendiri ! Benar-benar memuaskan.

Prasasti itu telah dipindahkan dari tempat aslinya di tepi sungai ke atas bukit 
karena alasan vandalisme. Oleh juru kunci diceritakan proses pemindahan yang 
dilakukan manual dan memakan waktu lama. Sedih juga melihat hasil karya 
orang-orang iseng dan yang tidak menghargai sejarah. Prasasti itu dipenuhi 
corat-coret ukiran yang katanya diukir dengan paku. Isinya macam-macam, gak 
pentinglah diuraikan satu persatu hasil vandalisme.

Di sawung tempat prasasti, rombongan berteduh dari hujan lebat sambil 
berbincang-bincang dengan juru kunci. Sang juru kunci memaparkan beberapa 
sejarah termasuk sejarah sebelum Tarumanagara, yaitu Salakanagara. Salakanagara 
ini catatannya sangat minim. Peninggalannya hanya berupa arca dan catatan 
Tiongkok kuno. Konon pendiri kerajaan ini berasal dari benua India dan masih 
berhubungan dengan dinasti Maurya. Dari sinilah silsilah raja-raja nusantara 
bermula. Konon.

Setelah istirahat sekitar 1 jam dan hujan mulai mereda, perjalanan dilanjutkan 
untuk..... pulang :D 

Menunggu angkot karena lelah jalan kaki, diajak juga ke prasasti tapak gajah 
atau kebun kopi. Juga diajak melihat sebuah batu meja yang konon katanya 
dipakai sebagai meja untuk para petinggi kerajaan dan kursi2nya dari batu. 
Sayangnya kursi batunya sudah pada rusak. Lalu dibawa ke sebuah tempat 
petilasan yang punya nilai spiritual. Menurut pemandu banyak yang ziarah dan 
kalau sudah jam 2 dini hari hue hue hue...... Total perjalanan memakan waktu 
kurang lebih setengah hari.

Akhirnya dapat juga mobil tumpangan, pemiliknya baik hati mengizinkan rombongan 
tumplak tumplek dalam mobilnya yang kecil. Diantar sampai hok tek bio Ciampea 
dalam kondisi lelah dan basah kuyup. Mana perut sudah mulai minta jatah lagi. 
Di bio, mbah menyelesaikan beberapa urusan dengan pengurus yang bernama ko 
Asheng, liason nya ko Ayao. Rekan-rekan yang lain ngaso, ada yang ganti baju, 
malah ada yang pakai parfum wakakakaaaaaa.......

Perut yang kosong akhirnya terisi di Bogor. Menunya: nasi goreng pete ncek Goan 
Tjo :) Lanjut dengan diskusi di rumah mbah, diskusi apa aja ngalor ngidul 
ditambah kedatangan kang Kinghian.

Jam 9 malam akhirnya pesta bubar.....

Sudah beberapa kali rekan-rekan mengadakan yang beginian, yang kemaren misalnya 
jalan ke Kiu Lie Tong daerah Krendang. Juga muter petak sembilan masuk ke bio 
satu persatu kecuali satu "bio" ehem ehem. Kala waktu itu di "bio" tersebut 
mbah beruntung karena datang bersama Ronny Pinsler yang ras yahudi eropa 
sehingga diijinkan masuk oleh ulamanya yang berbahasa italia. Jadi si mbah 
beruntung bisa liat-lihat peninggalan jesuit.

Untuk next timenya, kita masih akan terus mengadakan kegiatan serupa. Jadi bagi 
yang tertarik boleh lah menghubungi tim moderator. Terbuka untuk semua makhluk 
:) Tanpa batasan suku ras agama golongan. Dengan syarat harus bisa menghormati 
perbedaan budaya dan pendapat.

Sekian.

hy








Kirim email ke