----- Original Message -----
Sent: Monday, October 02, 2006 9:11
AM
Subject: RE: [Diskusi HRD Forum] Topik:
Traits (competency) Bisakah diTraining?
Can Sun ysh,
kebimbangan tentang ini sudah lama ada kalau
melihat do'a Serenity yang beken dibawah ini.
===================================================
SERENITY PRAYER
•" God,
grant me
–Serenity
–to accept the things I cannot change
–Courage to change the things I can and
–Wisdom to know the difference
"
===================================================
Bahkan konon rekan rekan di psikologi juga sudah
200 tahun berlangsung perbedaan perdapat antara Nature dan
Nurture.
Contoh yang disampaikan rekan Bambang
Kusdianto, merupakan ungkapan dari kubu "nurture" dan mereka yang
bergerak didalam bisnis "Self Improvement" yang menurut Martin
Seligman dalam bukunya "What you can change and what you
can't" ,menyatakan bahwa orang orang Amerika menghabiskan
puluhan milyar Dollar dalam bisnis "self improvement" walaupun
pada kenyataannya hasilnya sangat mengecewakan.
Kalau kita boleh jujur, kita juga tahu bahwa
pelatihan pelatihan yang tujuannya untuk mengubah "trait" seseorang boleh
dikatakan prosentasi keberhasilannya "sangat amat kecil", bahkan
pelatihan sekelas "Asia Works" pun mengakui kalau manusia itu seperti
" bandul" yang akan kembali ke "kebiasaan" aslinya setelah beberapa bulan
"berubah" sehingga untuk itu dibutuhkan "buddy system" dan inipun hasilnya
tidak cukup menggembirakan...
Dalam usaha mengubah manusia inilah, ada peluang
untuk mengubahnya melalui "Behaviour" maupun "Habits", karena konon rumusnya
Behaviour adalah B = f x P x E.
dalam hal mana karena P adalah Traits yang sangat
sulit atau tidak bisa berubah, maka untuk mengubah Behaviour, yang diubah
adalah E (Environment) nya yang sangat dipengaruhi oleh
"Values".
Contoh hangat yang memperlihatkan perubahan ini
misalnya:
seorang supir bis kota yang ugal ugalan, akan
menjadi tenang dan santun ketika dia menjadi supir TransJakarta (Busway) dan
ini terjadi karena adanya perubahan vakues dari "ngejar setoran" menjadi
"fixed income".
Habits juga demikian, karena Habits adalah hasil
"perubahan behaviour" yang " berulang ulang dan terus
menerus" yang disebabkan adanya perubahan
"Environment".
Walaupun demikian saat ini masih ada kontroversi
tentang Habits yang menurut Steven Covey merupakan "second nature" (artinya
bisa berubah) sedangkan menurut Gallup merupakan "fisrt nature" (artinya
tidak bisa berubah).
YANG BILANG BISA BERUBAH:
-Behaviorist sudah lama mengatakan kalau segala
sesuatunya bisa berubah
-Psychoanalyst, masih mengklaim kalau semua
personality traits bisa di "otak atik"
-Marxist kiri menggunakan "Politically
correct"
-Self-help industry ikut menambahkan suaranya agar
bisnis pelatihan berkembang dengan baik
YANG BILANG TIDAK BISA BERUBAH:
-perusahaan farmasi
-biologist
-biological psychiatry
-sayap kanan
bilang kalau kita dipenjara oleh Gen, sehingga pada
dasarnya tidak bisa berubah
Saya sendiri setelah belajar dan kemudian
mengajar The Seven Habits belasan tahun yang lalu , ternyata ada
beberapa habits saya yang tidak bisa berubah yaitu Habit ketiga (put
First thing First, yang terkait dengan bakat Discipline) dan Habit kelima
(Seek first to Understand & then to be understood yang terkait dengan
bakat Emphaty) , sedangkan habit habit lainnya memang sudah "inherent"
berada didalam tubuh saya seperti habit kedua (begin with yhe end in Mind
karena salah satu bakat dominan saya Connectedness), habit ke empat
(Think Win Win karena bakat dominan saya yang lainnya adalah
Harmony).
Dengan begitu saya cenderung ikut fahamnya Gallup
yang menyatakan kalau Bakat (yang terbentuk 60 hari sebelum dilahirkan
sampai sekitar 15 tahun) tidak bisa diajarkan.
Kalau demikian maka beberapa Soft Competencies yang
merupakan Bakat, "juga untrainable"
Tentunya bagi para Training Provider (bukan cuma di
Indonesia loh!),hal ini merupakan tantangan yang sangat besar karena memang
sebaiknya Training yang diberikan seharusnya "applicable" dan bisa
meningkatkan kinerja individu maupun organisasi bukan sekedar menambah
knowledge dan meningkatkan skill yang tidak bisa meningkatkan
kinerja.
Kalau bisa sih berikan pelatihan pada mereka yang
memang berbakat sesuai dengan materi pelatihannya sehingga hasilnya akan
maksimal dan belakangan ini untuk pelatihan "entrepreneurship" , kami (saya
bersama-sama dengan LP2ES Daarut Tauhid), menerapkan konsep "memilih mereka
yang berbakat Entrepreneur dan melatihnya" dan hasilnya "sangat
menggembirakan".
salam sukses
Abah Rama