Dear Pak Zam, Pak Robert & Rekan SDMList
Kalimat yang paling
pantas diucapkan saat ini adalah RUARRRRR..BIASA.......... buat SDMList.
Pak Zam, saya sangat terlambat ya untuk ikut TD 25 Nov karena sudah over quota,
tapi kalau Pak Zam & Teh Euis masih memberikan kesempatan untuk saya... Wah
dengan senang hati...
Wah sangat menarik Pak Zam, tema diskusinya
terutama yang bapak sharing-kan ke kite2 tentang TWC yang merupakan ujung tombak
dari sebuah implementasi HR Program atau bahkan Business Plan. Saya mo ikut
sharing dari sebuah pengalaman pribadi 14 tahun yang lalu. Saya mulai bekerja
pada tahun 1992 di sebuah perusahaan PMA India sebagai salah satu perusahaan
textil terbesar di Indonesia. saya mulai bekerja sebagai OPERATOR/WORKER di
Dept.Inspection & Packing selama 5 tahun. Pelajaran yang paling berharga
selama itu, saya dapat mengetahui gaya komunikasi dan kepemimpinan dari beberapa
atasan saya, mulai dari Group Leader, Supervisor, Officer, Manager dan bahkan
Expatriate (India) yang satu sama lain ternyata memiliki gaya dan karakter yang
berbeda-beda. Ada yang memiliki gaya otoriter, komunikatif, parsitipatif dan ada
yang memiliki ketiga-tiganya, bahkan India Culture berupa sistem KASTA cukup
berpengaruh, mulai perbedaan makan dan kantin antara operator dengan Supervisor
ke
atas sampai perbedaan fasilitas bus jemputan, kalau Supervisor ke atas
full AC, Full Music & Jok yang empuk sementara operator bus tua yang reyot
dan kalau hujan bocor. Pada tahun ke 6 saya dimutasi ke Dept.Personalia untuk
menangani Indistrial Relation. Langkah pertama yang saya lakukan di Personalia
adalah bagaimana membuat sistem komunikasi yang efektif antara atasan dan
bawahan atau sebaliknya, sebagai ungkapan unek2 saya dan rekan2 worker lainnya
yang selama 5 tahun tidak nyaman oleh tekanan culture dan komunikasi yang pasif.
Program yang saya tawarkan kepada Management melalui GM Personalia & GA
sangat sederhana dan saya ambil dari pengamatan selama 5 tahun, Program tersebut
saya namakan " 3 LANGKAH SUKSES MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF" yaitu :
1.
Komunikasi dua Arah, yang istilah Pak Zam Two-Way Communication
Komunikasi
saya bagi 2, yang pertama disebut komunikasi secara VERTIKAL (atasan dan bawahan
atau sebaliknya) yang istilah Pak Zam komunikasi FORMAL, dan yang kedua disebut
komunikasi secara HORIZONTAL (kominikasi antara sesama manusia yang mempunyai
harkat dan martabat yang sama) yang istilah Pak Zam komunikasi
INFORMAL.
Langkah ini mendapat kritikan yang luar biasa dari Management
(lokal maupun expatriate), karena sistem yang saya tawarkan automaticly akan
merubah Culture terutama dalam implementasi komunikasi secara HORIZONTAL dan
menurut mereka itu harus dipertahankan. Komunikasi VERTIKAL dilakukan pada jam
kerja, dimana secara struktural hubungan atasan dan bawahan atau sebalikanya
harus dihormati oleh keduanya. Dan diluar Jam Kerja dilakukan komunikasi
HORIZONTAL, pada saat itu saya tawarkan ada 3 sarana komunikasi HORIZONTAL yang
harus dirubah atau ditambah :
1. Kantin harus menjadi satu, tidak ada lagi
kantin atas dan kantin bawah, karena ketika orang masuk ke kantin tujuannya sama
untuk makan dan komunikasi di kantin bukan lagi atasan bawahan, tapi sebagai
sesama manusia dan content-nya pun bukan masalah pekerjaan lagi, tetapi masalah
keluarga, anak dll.
2. Bus Jemputan, tidak lagi ada perbedaan, pokonya yang
jurusannya sama harus naik bus yang sama, tidak melihat lagi mana atasan dan
mana bawahan.
3. Tempat Ibadah, ketika orang masuk ke tempat ibadah tujuannya
sama untuk beribadah tidak melihat lagi mana atasan dan mana bawahan, yang
paling duluan datang ya.. punya hak untuk duduk di depan.
Walaupun dengan
perdebatan yang sengit dan panjang, akhirnya program ini dapat direalisasikan
termasuk pada tahun 2000 perusahaan telah membangun mesjid ditengah lingkungan
perusahaan dengan biaya 1.8 milyar.
2. Pendekatan pribadi (Personal
Approach)
Setelah langkah pertama sudah dijalankan oleh seluruh jajaran
pimpinan (Group Leader ke atas) yang sebelumnya diberikan Training mengenai
Communication & Interpersonal Skill, harus melakukan langkah kedua Personal
Approach, setiap pimpinan wajib visit to plant walaupun dengan frekuensi yang
berbeda-beda, mis: untuk supervisor 1 hari 3 kali, untuk Manager seminggu sekali
dsb.
3. Penegakan Hukum (Law enforcement)
Pada langkah ini setiap
pimpinan diwajibkan untuk melakukan Coaching & Counsellinng terhadap
karyawan yang melakukan pelanggaran atau kesalahan. karena sering terjadi bahwa
pimpinan enggan menegur karyawan yang salah dan enggan memberikan penghargaan
kepada karyawan yang berprestasi.
3 LANGKAH SUKSES MEMBANGUN KOMUNIKASI
YANG EFEKTIF ini wajib dijalankan ketiga-tiganya sebab jika pimpinan hanya
melakukan langkah 1 & 2 saja, maka kecenderungan bawahan akan NGELUNJAK
karena dianggap terlalu dekat, dan kalau langkah ke 3 saja yang dilakukan, maka
kecenderungan karyawan akan BENCI SAMA PIMPINAN karena dinaggap terlalu
jauh.
Tahun 2001 saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan
Distributor & Manufacture Elektronik. Tahun 2003 saya dipercaya owner untuk
memimpin HRD di Pabrik, yang konon katanya dibawah tahun 2003 karyawan pabrik
melakukan mogok kerja tidak kurang dari 3 kali dalam setahun.
Setelah saya
terapkan 3 LANGKAH SUKSES MEMBANGUN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF ini, sampai sekarang
belum pernah terjadi mogok kerja,unjuk rasa maupun slow down atau tidakan yang
meresahkan lainnya, kalau toh ada akan cepat diantisipasi oleh
pimpinannya.
Wah, ma'af nih kepanjangan semoga tidak malas dan bosan
membacanya.
BRAVO SDMList
Rgds,
NS
---------------------------------
Apakah Anda
Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text
portions of this message have been removed]