Mariko Yoshihara: Recruitment Agency itu Bisnis Idealis
Kamis, 28 September 2006
Seandainya satu hari terdiri dari 48 jam, apa yang
akan dilakukan oleh Mariko Yoshihara? “Yang pasti melakukan hal yang saya sukai,
yakni hal yang berhubungan dengan rekrutmen,” jawab Managing Director PT JAC
Indonesia itu dengan mantap.
Di tengah situasi dunia usaha di Tanah Air
yang kurang mendukung, bertemu dengan sosok seperti Mariko mau tidak mau membuat
kita seakan-akan dipaksa untuk semakin optimis dan menatap masa depan dengan
senyum menggembang. Tutur-katanya lembut, namun menyimpan bara yang mampu
memantik api semangat lawan bicaranya. Di tengah mobilitasnya yang tinggi dan
kesibukannya yang luar biasa, Mariko menerima PortalHR di
kantornya yang sederhana di Spinindo Building, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta
Pusat.
Sebagai orang nomor satu di kantor yang merupakan bagian dari
perusahaan rekrutmen internasional itu, Mariko tampak duduk di antara para
stafnya. Tidak punya ruangan khusus? “Saya sengaja, tiap tiga-empat bulan sekali
duduk berpindah-pindah agar lebih dekat dengan karyawan dan mengetahui persoalan
yang dihadapi tiap-tiap bagian,” jelas dia.
JAC Indonesia yang
dipimpinnya berdiri pada Juli 2002.“Kami adalah perusahaan rekrutmen
internasional yang mempunyai cabang di tujuh negara. Didirikan pertama kali di
London 31 tahun yang lalu oleh pasangan Mr & Mrs Tazaki,” jelas Mariko.
Selain karena alasan geografis semacam itu, klaim sebagai agensi
rekrutmen internasional secara objektif juga bisa dilihat dari kemampuan JAC
dalam melakukan penempatan tenaga kerja profesional. “Yang umumnya terjadi
adalah penempatan yang dilakukan misalnya Jabotabek, tapi kami bisa lintas
negeri, di samping juga bisa menerima tenaga asing yang mau bekerja di
Indonesia,” papar Mariko.
Dalam empat tahun perjalanannya hingga 2006
ini, JAC Indonesia sudah menempatkan 1.200 tenaga kerja profesional di lebih
dari 800 perusahaan. Termasuk di dalamnya 130 tenaga asing, dalam berbagai
bidang dari IT specialist, marketing staff hingga technical
advisor. “Jadi, kita bisa menempatkan tenaga kerja bergaji dari mulai 200
hingga 8.000 dolar AS. Perusahaan rekrutmen lain mungkin membaginya berdasarkan
level tertentu, misalnya outsource saja, rekrutmen saja atau executive
search saja, tapi kami sudah melakukan ketiga-tiganya,” jelas Mariko
lagi.
Sejauh ini, JAC Indonesia baru menggarap satu sisi, yakni
perusahaan klien dan belum menyentuh sisi yang lain, yakni tenaga kerja itu
sendiri. Artinya, Mariko bekerja berdasarkan permintaan dari perusahaan yang
sedang mencari tenaga kerja, dan belum melayani tenaga kerja yang hendak mencari
perusahaan tertentu. Tapi, bukan berarti hal itu belum terpikir. “Itu yang ingin
kita capai,” tandas dia. Diungkapkan, saat ini JAC Indonesia sudah memiliki 70
orang staf. “Di recruitment agency lain biasanya sepuluh atau tidak lebih
dari itu. Tapi, kita mencoba mengoperasikan agensi ini dalam jumlah besar agar
bisa merespon kebutuhan baik klien dan para pencari kerja,” ungkap
Mariko.
Mariko menyadari, untuk mencapai tujuan itu tidaklah mudah. Soal
utamanya, masalah perekonomian negeri kita yang kurang mendukung. “Kalau negara
kita memiliki daya saing yang lebih baik di Asia, meski sudah terkoreksi
menduduki peringkat ke-50 dari 125 negera versi Forum Ekonomi Dunia (WEF), maka
masalah-masalah rekrutmen sangatlah kecil. Tetangga kami, JAC Singapore dengan
mudahnya melakukan penempatan sebanyak 100 tenaga profesional per bulan,
dikarenakan pertumbuhan perekonomian Singapore yang membaik.”
Dalam satu
bulan, agensi yang dipimpin Mariko melakukan 40 penempatan tenaga kerja. “Kita
menyatakan diri kita tidak berhasil bila dalam tiga bulan masa percobaan
kandidat resign karena merasa tidak cocok, atau perusahaan menyatakan
performance dia tidak cocok. Dan, dari 40 penempatan, rata-rata 3-4 yang
seperti itu, dilihat dari prosentase kan kecil,” kata Mariko.
Untuk
memberikan kepuasan kepada klien, Mariko mengaku tidak menerapkan penalty
system apapun baik kepada kandidat maupun perusahaan. “Kami bahkan
menerapkan sistem refund. Kami mendapatkan komisi yang disebut dengan
placement fee, berlaku dengan garansi tiga bulan. Kalau dalam 3 bulan
mereka ada komplain terhadap kandidat kita, kita kembalikan uangnya, tak ada
yang rugi,” ujar Mariko yang percaya sekali dengan sistem long term
relation.
***
Berdedikasi, penuh tanggung jawab dan menghayati
betul apa yang dikerjakan. Itulah kesan yang sulit dielakkan bagi siapa pun yang
pernah bertemu dan ngobrol dengan perempuan berdarah Jepang kelahiran 24
November 1967 itu. Dan semua itu dia buktikan dalam praktik usahanya. “Mungkin
kita recruitment agency yang cukup berani sampai mengembalikan uang
perusahaan. Dengan metode ini kami dipaksa untuk belajar bersikap bertanggung
jawab terhadap setiap tindakan kita,” kata dia.
Sebagai eksekutif yang
berkecimpung di bidang rekrutmen, Mariko tentu banyak bertemu dengan berbagai
karakter SDM, utamanya pada level menengah ke atas. Menurut dia, sebenarnya SDM
Indonesia sudah cukup baik. Terutama, Mariko pertama kali melihat dari segi
attitude, terutama keramahtamahan dan tutur bahasa. Dan kedua, dari segi
pengetahuan secara soft skill maupun hard skill. Tapi, sayangnya
terdapat dilema yang sudah menjadi rahasia umum, yang sampai kini masih dilihat
Mariko sebagai kelemahan adalah rendahnya kompetensi yang berhubungan dengan
leadership dan inisiatif.
“Belum lama saya ketemu GM Regional
untuk Nokia, ia mengatakan bahwa vacancy itu sebenarnya banyak! Namun
untuk memperoleh orang Indonesia yang memiliki leadership tinggi sangat
sulit,” ungkap Mariko. Menurut dia, kebiasaan dalam keluarga, juga dalam
pendidikan, ikut membentuk karakter SDM Indonesia yang seperti itu. “Kita
terbiasa disuruh. Kalau disuruh kita bisa, tapi untuk memimpin atau mengambil
inisiatif melakukan sesuatu yang baru, sulit sekali diharapkan dari SDM kita,”
kata dia.
Menurut Mariko, tidak ada cara yang lebih efektif untuk
membenahi hal itu kecuali memulainya dengan bertanya pada diri sendiri. “Saya
ini mau berkarir sampai sejauh level apa? Sebab boleh dibilang tidak semua
tenaga kerja di Indonesia menyatakan bahwa prioritas hidup saya itu
bekerja, mungkin itu prioritas keempat atau kelima, itu sah saja, kalau
semua orang ingin jadi CEO kan repot juga, nggak ada yang jadi admin. Susahnya,
maunya admin tapi nggak mau risiko, maunya high return. Tapi, ada juga
yang menyatakan ingin jadi CEO, ingin director level tapi maunya lima
hari kerja dan pulang jam lima, ya nggak masuk akal.”
Selain menyoroti
individu, Mariko juga tak lupa mengingatkan bahwa perusahaan juga memegang peran
penting dalam proses membangun SDM yang berkualitas. “Perusahaan juga harus
memberi kesempatan karyawannya untuk berkembang. Kalau sudah ada skill,
kemampuan dan kompetensi, mestinya diberi kesempatan juga, kalau enggak ya nggak
maju-maju,” kata dia.
JAC Indonesia sendiri merasa terpanggil untuk
membantu perkembangan SDM yang tangguh di negeri tercinta ini. Mariko tak ingin
menjadikan perusahaannya sebagai menara gading yang tak punya pijakan sosial
dalam masyarakat. “Yang belakangan kami lakukan, kami melaksanakan JAC Forum
kita sebutnya, kita coba sebulan sekali sebagai kontribusi kita ke masyarakat.
Tujuannya untuk memberikan seminar/workshop dari praktisi senior dengan
dana yang terjangkau. Diharapkan dengan Forum ini para profesional bisa
meningkatkan kualitasnya. Forum ini juga dibuat untuk menjadi sarana temu para
profesional,”
Sebagai orang yang mengaku hobi bekerja, Mariko tampaknya
memang sangat menikmati pekerjaannya. Menurut dia, sungguh menarik sekali
berkecimpung dalam urusan rekrutmen tenaga kerja. Meskipun ia punya catatan
khusus terkait dengan itu. “Terus terang kita tak akan bisa untuk menjadi kaya
raya di bidang ini, basically…lebih ke idealisme,” kata dia. Lalu, ia
menuturkan pengalamannya untuk memperjelas pernyataan tersebut.
Kami
sering melakukan penempatan untuk jabatan yang berhubungan dengan Manajer HR.
Umumnya order terjadi dikarenakan oleh adanya masalah dengan serikat buruh atau
masalah kristis lainnya, lalu Manajer HR-nya resign. Bila kita memiliki
kemampuan mencarikan penggantinya, maka kita pun bisa membantu perusahaan itu
untuk tetap eksis. Taruhlah perusahaan itu mempunyai 300 karyawan. Kalau tiap
karyawan menanggung rata-rata 5 anggota keluarga, berarti Manajer HR pengganti
yang kita tempatkan tadi berhasil menyelamatkan perusahaan dari kepailitan dan
mencegah kemungkinan terjadinya ribuan pengangguran.
Berlatar
belakang pendidikan sastra–tepatnya Sastra Jepang pada Universitas Indonesia,
dan tidak tamat–pemilik nama panjang Mariko Asmara Yoshihara itu mengaku
menekuni dunia HR karena faktor kesempatan. Sejak mahasiswa ia sudah sering
diminta untuk menerjemahkan bahan-bahan yang berkaitan dengan isu tersebut, dan
berhubungan dengan lingkaran itu. Keluhan yang sering ia dengar adalah soal
lemahnya SDM. Maka ketika ada kesempatan yang melibatkan dia untuk terjun total
di bidang itu, awalnya ia pun menolak karena merasa tidak mampu, tapi ia
berhasil diyakinkan, dan dengan ketekunannya untuk belajar hal baru, ia pun kini
menjadi, katakanlah, insan HR yang berhasil dan bisa menjadi panutan di
Indonesia. “Boleh dibilang otodidak, saya tidak belajar formal mengenai
manajemen SDM,” kata istri dari Noriaki Yoshihara itu.
Pembaca buku
biografi tokoh-tokoh terkenal itu menjaga semangat kerjanya antara lain dengan
menggeser paradigma kerja itu sendiri. “Kerja bukan selalu harus diartikan duduk
di depan komputer, bikin laporan, melainkan duduk di Starbuck minum kopi,
ngobrol dengan orang lain, itu juga kerja.” Ketika ditanya mengenai obsesi,
dengan rendah hati namun mantap Mariko menjawab, “Obsesi saya kecil. Membesarkan
perusahaan ini 5 kali lipat dalam kurun waktu 5
tahun.”
__._,_.___
To subscribe e-mail to: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
__,_._,___
|