Semoga bermanfaat...
----- Forwarded Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; Lidya Susanti <[EMAIL PROTECTED]>; Ririe <[EMAIL
PROTECTED]>
Sent: Saturday, February 17, 2007 10:17:18 AM
Subject: [Agricultural Engineering 37] Artikel bagus..
SEKOLAH HARI INI...
Setiap tahun ajaran baru dimulai, di setiap simpang dan tiap sudut kota telah
terpampang "iklan" yang menawarkan tentang keunggulan sekolah-sekolah, selain
sekolah negeri yang rutin melakukan penerimaan siswa baru dengan seleksi
tersendiri, ada juga sekolah-sekolah lainnya yang tidak kalah unggulnya dengan
sekolah negeri.
Namun ketika sekolah telah berjalan, kekecewaanpun mulai muncul dalam hati
orang tua murid, ini tidak lain karena melihat nilai rapor anak mereka yang
tidak sesuai dengan harapan. Padahal besar harapan mereka (baca: orang tua)
untuk menjadikan anak mereka cerdas jika bersekolah di sekolah yang unggul dan
elit. Kemudian keraguan dan ketakutanpun mulai muncul dalam hati mereka setelah
kekecewaan. Keraguan disebabkan, para orang tua mulai meragukan keunggulan
sekolah karena tidak bisa menjadikan anak mereka cerdas secara akademis. Dan
ketakutan disebabkan, para orang tua mulai takut, jangan-jangan anak mereka
memang bodoh karena mendapat nilai rapor yang jelek.
Nilai rapor. Itulah yang menjadi tolak ukur para orang tua dalam menentukan
apakah anak mereka cerdas atau tidak. Menurut mereka (baca: orang tua) anak
yang cerdas adalah anak yang memiliki nilai rapor yang tinggi, sedangkan anak
dengan nilai rapor yang rendah adalah anak yang bodoh. Tapi, bagaimanakah
sebenarnya anak yang cerdas itu? Benarkah nilai rapor sebagai penentu
kecerdasan seseorang? Sebelum pembahasan lebih lanjut, ada baiknya kita simak
cerita berikut.
"Terbetiklah sebuah kabar yang menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal
dari dunia binatang. Menurut cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah
untuk para binatang kecil. Mereka, para bintang besar itu memutuskan untuk
menciptakan sebuah sekolah memanjat, terbang, berlari, berenang, dan menggali.
Anehnya mereka tidak menemukan kata sepakat tentang subjek mana yang paling
penting. Mereka akhirnya memutuskan agar semua murid mengikuti
kurikulum yang sama. Jadi setiap murid harus ikut mata pelajaran memanjat,
terbang, berlari, berenang, dan menggali.
Kita tentu tahu karakter rusa yang ahli berlari, nah suatu saat sang rusa
hampir tenggelam saat mengikuti kelas (mata pelajaran) berenang.
Dan pengalaman mengikuti kelas berenang sangat membuat batinnya terguncang, dia
merasa seperti tidak punya potensi lagi. Lama-kelamaan, karena sibuk mengurusi
pelajaran berenang, dan harus mengikuti pelajaran tambahan berenang, si rusa
pun tidak lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Karena dia sudah mulai jarang
melatih keahlian alaminya.
Kemudian ada kejadian lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah binatang
tersebut. Kita juga tentu tahu karakter burung elang. Yang sangat pandai
terbang. Namun, ketika mengikuti kelas menggali, si elang tidak mampu menjalani
tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya, ia juga harus mengikuti les
tambahan menggali. Les itu banyak menyita waktunya, sehingga ia melupakan cara
terbang yang sebelumnya sangat dikuasainya.
Demikianlah kesulitan demi kesulitan melanda juga binatang-binatang lain,
seperti bebek, burung pipit, ular dll. Para binatang kecil itu tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahliannnya mereka
masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak
menghargai sifat-sifat asli mereka. " (Hernowo dan Nurdin, 2004)
Begitulah sekolah kita hari ini, persis seperti sekolah dunia binatang.
Anak-anak dipaksa untuk mengikuti semua mata pelajaran yang bahkan tidak
disukai mereka dan malah melupakan kemampuan alamiah mereka di bidang lain.
Seperti misalnya, anak yang cerdas dalam berbahasa inggris, tapi tidak cerdas
dalam matematika akan mengurangi kemampuan bahasa inggrisnya, karena harus
mengikuti les tambahan matematika setiap hari, sehingga tidak mempunyai waktu
untuk mengasah kemampuannya dalam berbahasa inggris. Alhasil, anak tersebut
tetap tidak cerdas dalam matematika, juga tidak terampil dalam berbahasa
inggris.
Apakah kita mau, anak-anak kita tidak mempunyai keterampilan sama sekali? Atau
apakah kita mau, demi bidang yang satu, anak kita menjadi hilang potensinya di
bidang yang lain? Tentu jawabnnya tidak. Dan saya harap semua orang tua sepakat
menjawab tidak.
Lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap ini semua? Sebelumnya ada sebuah
pengalaman menarik dari Skinner (1904-1990) - seorang psikolog terkenal dari
Austria - yang dapat memberikan gambaran keadaan sekolah kita hari ini. "Pada
suatu hari dalam kapasitasnya sebagai orang tua murid pernah melihat-lihat
bagaimana keadaan kelas anak perempuannya yang duduk di kelas 4 setingkat SD
pada saat pelajaran berlangsung. Ia melihat dalam kelas itu terdapat 20
"organisme hidup (murid) berharga" tapi menjadi korban pengajaran yang
menurutnya situasi dalam kelas itu bukanlah suatu proses belajar. Ia sangat
keberatan dengan teknik didaktik yang digunakan dalam kelas itu, dimana tidak
memberikan efek penguatan yang kuat bagi siswa.
Pelajaran yang diajarkan dalam kelas itu hanya sesuatu yang memang harus
dipelajari oleh siswa tanpa peduli apakah siswa tersebut suka atau tidak,
sehingga proses belajar mengajar tidak berjalan atas dasar minat asli siswa.
Kemudian ia berkesimpulan bahwa sekolah sering dijalankan dengan memberikan
pujian dan hukuman pada siswa yang hanya akan menghasilkan motivasi artifisial.
Kemudian menurut Dave Meier - seorang pakar accelerated learning - memperkuat
kesimpulan Skinner tentang sekolah kita saat ini. Sekolah saat ini
kadang-kadang mencekik dan melumpuhkan orang dan merenggut kegembiraan belajar
anak didik, sehingga dapat menghalangi mereka mengasah pikiran dan mewujudkan
potensi sepenuhnya. Tentu kita tidak mau anak-anak kita menjadi tumpul
potensinya, dan juga tidak mau jika melihat potensi anak-anak kita mati sia-sia
karena harus mempelajari yang bukan minatnya.
Sekolah hari ini tidak mampu mengakomodir kebutuhan siswa. Bahkan bisa-bisa
membunuh potensi siswa yang beragam dengan kurikulum yang sama rata. Padahal
kita tahu bahwa setiap anak mempunyai bakat dan minat alamiah yang
berbeda-beda. Kelemahan lain pendidikan kita saat ini adalah bahwa
penilaian/evaluasi dilakukan dengan angka-angka yang tertera di raport. Akan
mudah terlihat mana anak cerdas dan anak yang tidak cerdas. Padahal, anak yang
pintar berdasarkan nilai raport bisa jadi memang benar-benar cerdas. Tapi harus
diingat mungkin ia cerdas dalam bidang akademik. Anak lain yang nilai rapornya
rendah jangan langsung dianggap bodoh. Bisa jadi ia kurang berminat di bidang
akademis, mungkin berminat di bidang lainnya seperti seni dan sastra ataupun
olah raga. Nah disinilah peranan sekolah sangat dibutuhkan, yaitu melihat
potensi siswa dan mengembangkannya menjadi potensi yang teraktualisaikan.
Sekolah harus menjadi akselerator untuk menyuburtumbuhkan beragam potensi siswa,
sehingga dengan demikian siswa mampu mengarungi kehidupan ini dengan bekal
ketrampilan hidup yang dimilikinya ditambah dengan arahan dari sekolah. Nah
dari sekolah model ini akan lahir manusia-manusia unggul yang semuanya mampu
memancarkan potensinya dengan cemerlang. Karena sekali lagi, bukanlah siswa
yang bodoh, tapi yang ada hanyalah siswa yang lebih unggul di bidang yang
berbeda.
Menurut Howard Gardner - seorang pakar pendidikan penemu multiple intelegence
(kecerdasan majemuk) dari Harvard University - anak harus didorong untuk
mengaktualisaksikan kecerdasannya. Setiap anak memiliki kecerdasan yang
berbeda, Kecerdasan tersebut adalah kecerdasan spasial-visual (cerdas dalam
menggambar atau membayangkan) , linguistik verbal (cerdas dalam berkata-kata
atau berbahasa). Kecerdasan interpersonal (cerdas dalam berinteraksi dengan
sesama), kecerdasan musikal-ritmik (cerdas dalam bernyanyi dan memainkan alat
musik), kecerdasan naturalis (cerdas dalam berhubungan dengan alam dan isinya).
Kecerdasan badan (kinestetis) - cerdas dalam berolah raga dan menari,
kecerdasan intrapersonal (cerdas dalam
memahami diri atau merenung), dan kecersdasan logis matematis (cerdas dalam
berhitung). Maka tugas sekolahlah untuk membantu anak mengaktualisasikann ya.
Di akhir tulisan ini saya mengutip sebuah pernyataan seorang guru teladan dari
Georgia yang meyampaikan idenya tentang anak didik pada saat penganugerahan
guru teladan. Beliau mengatakan "bahwa hal yang paling mengasyikkan dalam
mengajar adalah saat saya menatap wajah seorang anak dan menyaksikan
kebingungannya berubah menjadi konsentrasi, lalu konsentrasinya berubah menjadi
keterkejutan, dan akhirnya keterkejutannya berubah menjadi rasa bangga akan
prestasinya". Sekali lagi bahwa sekolah harus mampu membangkitkan minat dan
bakat alamiah siswanya sehingga akan muncul loncatan-loncatan prestasi yang
luar biasa.
Oleh : Tarmidi, S.Psi
Regards,
Aditya Agung Nugraha
Machine App. & Operation
PT. Trakindo Utama - Batu Hijau
============ ========= ========= ========= ========= ========= =========
=========
This email is confidential. If you are not the addressee tell the sender
immediately and destroy this email without using, sending or storing it.
Emails are not secure and may suffer errors, viruses, delay, interception
and amendment. The Trakindo Group of Companies do not accept liability for
damage caused by this email and may monitor email traffic.
Unless expressly stated, any opinions are the sender's and are not approved
by the Trakindo Group of Companies and this email is not an offer,
solicitation, recommendation or agreement of any kind.
============ ========= ========= ========= ========= ========= =========
=========
<!--
#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial,helvetica,clean,sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;
}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;
}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;
font-family:Verdana;
font-size:77%;
margin:0;
}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;
}
#ygrp-actbar{
clear:both;
margin:25px 0;
white-space:nowrap;
color:#666;
text-align:right;
}
#ygrp-actbar .left{
float:left;
white-space:nowrap;
}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;
font-size:77%;
padding:15px 0;
}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;
font-size:77%;
border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;
}
#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
padding:2px 0 8px 8px;
}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;
font-family:Verdana;
font-weight:bold;
color:#333;
text-transform:uppercase;
}
#ygrp-vital ul{
padding:0;
margin:2px 0;
}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;
clear:both;
border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;
color:#ff7900;
float:right;
width:2em;
text-align:right;
padding-right:.5em;
}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;
}
#ygrp-vital a {
text-decoration:none;
}
#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;
}
#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;
background-color:#e0ecee;
margin-bottom:20px;
}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;
margin:0;
}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;
padding:6px 0;
font-size:77%;
}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;
font-size:130%;
}
#ygrp-sponsor #nc {
background-color:#eee;
margin-bottom:20px;
padding:0 8px;
}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;
}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;
font-weight:bold;
color:#628c2a;
font-size:100%;
line-height:122%;
}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;
}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;
}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;
}
o {font-size:0;}
.MsoNormal {
margin:0 0 0 0;
}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;
}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq {margin:4;}
-->
____________________________________________________________________________________
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/