KAN CUMA DIKIT…    Salah seorang kakak kelas SMA pernah menuturkan 
pengalamannya saat diajar salah seorang guru galaknya. Waktu itu suasana kelas 
sedang hening. Namun tiba-tiba dari kursi belakang terdengar bunyi “thiiiit…”. 
Sebenernya pelan, tapi karena hening kedengaran juga. Bukan enthut mberut 
kategorinya, tapi hanya sekedar enthut urang.
  Si guru mendadak murka. Dilacaklah asal bunyi tadi. Maka akhirnya tertangkap 
jugalah si pelaku peledakan bom biologis itu. Dengan pucat pasi dia menjawab 
tuduhan sang guru…. : 
  Guru   : Kamu kenthut ya..??!!
Murid  : Ng.. ng…nggak pak..
Guru   : Nggak usah bohong… ayo ngaku!! Kamu kenthut kan??
Murid  : Anu pak.. anu.. nggak kok…
Guru   : Lha… yang tadi itu apa… ??!!
Murid  : Kan…. kan cuma dikit pak…
Glodhaakk…………
  Cah ra nggenah. Meskipun dikit… kan tetep saja ngenthut. Tapi itulah yang 
seringkali terjadi di masyarakat. Mengabaikan yang sedikit. Sampai seringkali 
dianggap seakan nggak ada.
  Simbah masih inget, saat ada salah seorang pemabok yang mulai sadar, dia 
bilang sudah gak mabok lagi. Tapi sebagai gantinya tiap sore nyruput anggur cap 
Orang Tua. Mbareng ditegur, dia bilang… “Halah, kan alkoholnya cuma dikit, kan 
gak memabokkan…”. Sedikit dianggep nggak ada.
  Salah seorang anggota ngaji simbah pernah tanya tentang makan daging babi. 
Simbah jawab, babi itu haram. Dia ngeyel, “kalo cuma secuwil nggak papa kan 
mbah?” Secuwil dianggep nggak ada. Dan nggak apa-apa. Miturutnya, haram itu 
kalo ngemplok sak piring. Kalo dikit nggak papa.
  Demikian juga pendapat salah seorang satpam tetangga simbah. Setiap harinya 
kumpul sama wong mendhem jero murid pendekar dewa mabok. Karena ewuh perkewuh, 
akhirnya nenggak juga walau sak sloki. Saat ditegur isterinya dia beralasan. 
“Halah… kalo cuma sak sloki dan gak sampai mabok kan gak papa…”
  Urusan ini merembet ke segala arah. Saat simbah bicara obat yang mengandung 
alkohol, rata-rata dokter konco simbah mengatakan, “Kan kadarnya cuma kecil… 
lha nggak apa-apa lah. Wong ya buat obat kok.” Padahal alkohol disitu perannya 
bukan untuk obat.
  Sayangnya ini juga merambah area perkorupsian. Saat korupsi cuma kecil, 
dianggep sepele. Wajar dan perlu. Bahkan kalo diusut dianggep kurang gaweyan. 
Sampai-sampai ada wacana buat memaapkan korupsi kalo cuma jutaan ripis. Yang 
namanya korupsi itu kalo jumlahnya minimal sak milyar. Kalo cuma ngapusi 
kwitansi belanja kertas, mbeli komputer, mark up biaya operasional dan segala 
tetek bengeknya…. itu cuma gurem. Gak pantes diurus. Lha memang rejeki tambahan 
pegawe rendahan itu ya dari situ. Wis … gendheng kabeh.
  Lha kalo kriwikan dibiarkan, akhirnya jadi grojogan juga. Menyepelekan hal 
kecil dan menganggap seakan itu gak ada, adalah awal kerusakan yang besar. Lha 
orang kesandung kan mesti sama barang cilikan. Kalo ada orang kok kesandung 
gerdu ronda, kuwi jenenge nubruk. Dudu kesandung iku…  


 
---------------------------------
Don't get soaked.  Take a quick peak at the forecast 
 with theYahoo! Search weather shortcut.

Kirim email ke