Teman-teman,

Kita sering berangan-angan tentang adanya pemerintahan yang bagus 
dan care terhadap rakyatnya. Disisi lain kita juga mulai nggak sabar 
dengan "model demokrasi" yang dianggap tidak menyelesaikan masalah 
masyrakat. benarkah demikian adanya?

Mungkin artikel ttg demokrasi berikut bisa untuk dibaca2 saat 
liburan.

Salam,

FH




Demokrasi Bukan Pilihan Ideologi

Banjarmasin – Demokrasi merupakan satu-satunya sistem yang dimiliki 
bangsa Indonesia setelah rezim Orde Baru jatuh, jadi demokrasi bukan 
suatu pilihan ideologis tetapi hanya satu sistem tata cara untuk 
mengupulkan pendapat dan membuat keputusan, sehingga bagaimana 
caranya demokrasi berfungsi demi kepntingan orang banyak.

Demokrasi di Indonesia sudah berfungsu, tetapi belum cukup waktu dan 
kemampuan untuk menciptakan pemerintahan yang baik. Suatu negara 
tanpa demokrasi maka akan menjadi parah kondisinya, seperti 
terjadinya pembunuhan di Aceh,Timor Timur, konglomerat akan 
merajalela seperti di masa lalu.

Hal itu disampaikan Wimar Witoelar pada talkshow Perspektif Baru 
Live on Campus "Demokrasi dan Pluralismeuntuk KaumMuda" direktorat 
Unlam (14/5) kemarin.

"Di Indonesia demokrasi sudah berfungsi, untuk meratakan jalan bagi 
tumbuhnya masyarakat dan pemerintahan yang baik," katanya.

Wimar menambahkan, konsep ke depannya agar demokrasi dipertahankan 
supaya orang terus mendiskusikan secara terbuka semua masalah, yang 
memungkinkan mengontrol jalannya pemerintahan, dan lembaga-lembaga 
lain.

Seperti masalah korupsi yang sekarang ini apabila terungkap selalu 
dimuat di media massa.

Menurutnya, hal tersebut merupakan bukti bahwa demokrasi di negeri 
ini sudah berfungsi. Kendati demikian, temuan-temuan terhadap 
masalah seperti korupsiherndaknya dapat ditindak lanjuti secepatnya, 
apabila tidak ditindak lanjuti dengan cepat dikhawatirkan akan 
berdampak terhadap turunnya kepercayaan publik, akibatnya terjadi 
pematahan semangat terhadap sebuah nilai demokrasi.

"Patahnya semangat demokrasi itulah yang merupakan bahaya terbesar 
bagi bangsa ini," katanya.

Disebutkannya, demokrasi dan pluralisme, demokrasi kalau mau efektif 
harus ada pemberian hak yang sama untuk hidup dan bicara terlepas 
dari asal-usulnya, karena bangsa Indonesia merupakan bangsa yang 
plural.

Sementara itu Ketua Program Studi Ilmu Pmerintahan Unlam Banjarmasin 
Jamaluddin Msi mengatakan, demokrasi secara sederhana adalah 
pemerintahan di mana sebuah pengambilan keputusan melibatkan pihak-
pihak dalam proses pengambilan keputusan,yang tujuannya untuk 
melakukan kontrol terhadap pelaksanaan keputusan yang telah 
dijalankan.

"Kendati dalam sebuah tatanan demokrasi pasti diwarnai pro dan 
kontra, karena hal tersebut merupakan ciri dari demokrasi, di dalam 
sebuah negara dimanapun di dunia tidak ada sebuah negara yang setuju 
dengan satu hal saja," imbuhnya.

Karena menurut Jamaluddin, demokrasi juga merupakan ciptaan manusia, 
sehingga agar demokrasi dapat dan mudah dipahami oleh semua 
kalangan, maka perlu dilakukan sosialisasi secara terus-menerus. 
Yan/mb02

 

RADAR BANJARMASIN Selasa, 15 Mei 2007

Demokrasi Tak Sebabkan Sengsara

BANJARMASIN ,- Pilihan ada di tangan kita, tetap menjadi negara 
demokrasi atau ingin kembali menjadi negara tirani seperti era 
Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Jika tidak ada demokrasi, 
pahitnya masa lalu pun akan kembali terulang. Pembunuhan orang akan 
terjadi kembali di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua, 
konglomerat akan merajalela dan menggurita.

"Demokrasi bukan suatu pilihan ideologi, tapi satu sistem atau tata 
cara untuk mengumpulkan pendapat, kemudian bersama-sama memutuskan. 
Demokrasi bukan sebatas setuju atau tidak, tapi harus berfungsi 
untuk kepentingan orang banyak," ujar Wimar Witoelar, dari Yayasan 
Perspektif Baru seusai Talk Show bertajuk "Demokrasi & Pluralisme di 
Indonesia Untuk Kaum Muda", kemarin.

Acara Talk Show itu merupakan hasil kerjasama Yayasan Perspektif 
Baru dengan Radar Banjarmasin Forum dan Jurusan Ilmu Pemerintahan 
FISIP Unlam di Aula Rektorat Unlam Banjarmasin, kemarin.

Diingatkan Wimar, bahaya terbesar yang sedang mengancam bangsa ini 
terjadi pematahan semangat, dan salah kaprah menilai demokrasi. 
Kesengsaraan dinilai akibat demokrasi, padahal kesengsaraan 
merupakan akibat orang-orang yang menyalahkan demokrasi itu sendiri.

Menurut Wimar, demokrasi seperti cara untuk meratakan jalan untuk 
tumbuhnya masyarakat dan pemerintahan yang baik. Namun sayang, 
pemerintah yang efektif tersebut tak tercapai. "Mungkin karena tak 
cukup waktu dan cukup kemampuan," katanya.

Ke depan, Wimar berharap demokrasi tetap dipertahankan dan setiap 
orang diberi kesempatan untuk melakukan diskusi terbuka mengenai 
semua persoalan, sehingga memberikan peluang untuk melakukan kontrol 
terhadap pemerintahan dan lembaga-lembaga lainnya.

Pemandu Talk Show televisi "Perspektif" pada tahun 1994, namun 
kemudian acara itu dibredel Orde Baru, ini tak sependapat jika saat 
ini disebut bahwa korupsi malah lebih banyak daripada di zaman Orde 
Baru. Ditegaskan pria berambut keriting ini, secara skala maka 
korupsi yang terjadi di Orde Baru lebih banyak hingga 20 kali lipat. 
Namun bedanya, saat itu tak dikorankan saja. "Saat itu, korupsi 
dikoordinasi oleh sistem Soeharto. Mereka yang melakukan tindakan 
korupsi di luar sistem Soeharto itu yang akan ditangkap. Namun kini, 
korupsi tak lagi di bawah Presiden. Korupsi kini masuk koran," 
katanya. "Sejelek-jeleknya, SBY juga bukan ahli korupsi seperti 
Presiden Soeharto," sindirnya.

Apakah demokrasi menimbulkan banyak suara-suara? Wimar menilai, 
banyak suara itu memang dapat membuat berisik, namun penggerogotan 
uang negara bukan disebabkan orang yang banyak bicara. Bahkan 
sebaliknya, korupsi dilakukan tanpa ada suara sama sekali. "Semua 
masalah bangsa ini ada obatnya, seperti penyakit. Ada yang sakit 
gigi, sakit kaki dan sakit kepala, dan itu semua ada obatnya masing-
masing," katanya.

Demokrasi pun berkaitan dengan pluralisme. Dijelaskan Wimar, 
demokrasi akan lebih efektif jika memberikan kesempatan hak bersuara 
kepada setiap orang. Karena bangsa ini memiliki keragaman, maka 
harus ada pluralisme, sehingga ada jaminan orang memiliki kesempatan 
hidup dan bicara, terlepas dari latar belakang, etnis, agama, 
golongan, dan profesi. "Pluralisme memungkinkan seseorang menjadi 
sama dan sehingga dapat melakukan interaksi secara demokratis," 
katanya.

Diingatkan Wimar, masa depan sepenuhnya bukan berada di tangan orang 
muda melainkan ada di tangan orang yang baik-baik. Sebab, ada pula 
kaum muda yang juga melakukan tindakan korupsi. "Saya ini orang tua. 
Saat masih muda, saya malah hidup dengan kaum muda yang 
menjerumuskan negara," pungkasnya. (pur)

Kirim email ke