Have a nice life 06
Raditya Eka Permana
Music Kind
Siapapun tak akan menolak jika dikatakan menyukai mujizat yang diberikan
Tuhan ini. Musik. Hampir setiap manusia bernyanyi, meski tidak dengan suara
namun di dalam perasaan. Hampir di setiap momen, manusia menggunakan musik
untuk mengiringinya. Hampir setiap suasana batin manusia dapat diwakili oleh
musik.
Fitrah manusia senantiasa menginginkan hal yang bagus, indah, rapi seperti
Penciptanya. Mata kita akan lebih menyukai pemandangan yang bagus, indah, rapi.
Begitu pula dengan indera kita yang lain, hidung dan lidah. Telinga kita
menginginkan yang bagus, indah, rapi.
Begitu luas rentangnya frekuensi suara. Dari yang rendah hingga yang paling
tinggi. Walau manusia hanya dapat mendengar 20Hz hingga 20.000Hz saja, tetap
saja hal ini merupakan karunia yang luar biasa. Bahkan hanya dengan 7 nada
dasar, dengan Tangan Tuhan, manusia mampu menyusun milyaran lagu dan musik,
hingga saat ini. Sepertinya otak manusia didesain akan terus hanyut dalam
mujizat ini. Mereka membungkusnya dengan berbagai macam kemasan. Racikan nada
dibungkus mulai dari akapela sampai dengan yang sangat rigid, mulai dari tempo
lembut sampai dengan hentakan padat, mulai dari yang etnik sampai dengan
klasik, dan mulai dari lirik yang sederhana sampai dengan yang mature.
Dari sekian banyak esensi musik, dua hal yang menjadi esensi musik menurut
saya adalah : memori dan spirit.
Musik-baru selalu muncul di seurut jaman. Setiap jaman memiliki ikon musik
dan lagu tertentu. Setiap jaman memiliki ikon stars tertentu. Setiap jaman
memiliki hits tertentu. Jadi, jika ada opini bahwa kita tidak bisa kembali ke
masa lalu, saya rasa hal ini kurang tepat. Karena sebuah lagu dapat
mengembalikan kita ke masa lalu walau dengan kepedihan. Apalagi jika radio yang
menyajikannya. Hal tersebut saya namakan esensi memori musik.
Tidak semua lagu yang tercipta dapat kita terima. Walau untuk sebagian besar
manusia lain sebuah lagu mampu menyihir, namun terkadang kita tetap menolaknya.
Setiap kita akan menemukan kehidupan baru dengan musik yang menginspirasi. Di
kala kita terjerembab dalam kemerosotan harapan, kita memerlukan spirit baru.
Biasanya kita membawa lagu tersebut untuk menghantam tembok yang besar. Hal
tersebut saya namakan esensi spirit musik.
Saya tidak tahu apresiasi musik jaman dahulu, yang sungguh sangat berbeda
dengan jaman musik sekarang ini. Yang pasti, yang bagus, indah, rapi kita suka.
Walau kita memperolehnya dengan tidak bagus, tidak indah, tidak rapi kita tetap
menginginkannya.
Siapapun tak akan menolak jika dikatakan menyukai mujizat yang diberikan
Tuhan ini. Musik. Ternyata Tuhan memberi lebih dari sekedar musik. Telinga.
Dan memberi lebih dari sekedar telinga. Hati. Mudah-mudahan segenap indera
yang telah diberikanNya kepada kita dapat dimanfaatkan untuk hal yang baik,
termasuk sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepadaNya.
SILVERCHAIR STRAIGHT LINES
Raditya Eka Permana
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us.