Have a nice life 07
Raditya Eka Permana
Order Line
Kemarin saya baru saja membaca Ahmadinejad - David diantara angkara Goliath
dunia. Mengagumkan. Beliau merupakan salah satu prototype pemimpin dunia.
Memang, tapi bukan Presiden Iran ini yang membuat saya menulis. Jika, saya
memperhatikan di setiap batang tubuh sebuah biografi seorang pemimpin, selalu
saja muncul mahluk ini. Mahluk yang saya maksud adalah order line/alur
kepercayaan/silaturahim. Simpelnya, aplikasi order line bisa dicontohkan
seperti saat jendral berteriak; tembak! dan kemudian seluruh pasukannya
mengaktifkan artilerinya.
Seseorang menjadi dielu-elukan dan diangkat sebagai seorang pemimpin atau
figur publik karena banyak faktor. Namun semua faktor itu berujung pada satu
nilai : citra positif. Youll pay what youve got. Citra positif dibangun
dengan waktu yang sangat lama. Semakin tinggi pencapaian seseorang semakin
terjal dan keras lah konsekuensi perjalanan yang ditempuhnya. Perjalanan inilah
yang dinamakan perjalanan menyusun line : order line. Semakin kita rajin
memelihara order line semakin tebal line tersebut. Kadangkala kita menemui
seseorang yang dengan singkatnya membuat order line ini. Namun resiko yang
mungkin terjadi jika order line diperoleh dalam waktu singkat adalah
kecemburuan sosial, karena disitu selalu ada celah. Easy come easy go.
Order line mirip dengan power (kekuasaan). Namun power itu bisa dihibahkan,
sedangkan order line harus dirintis. Sehingga pemilik order line bisa jadi
bersifat informal. Kita semua memilikinya selama kita membayarnya. Youll get
what youve paid.
Lalu apa yang terjadi, jika ada lebih dari 1 orang yang memiliki jaringan
order line yang sangat kuat tersebut berdiri bersama? Sepertinya tidak akan
terjadi apa-apa selama tidak ada perbedaan kepentingan. Kita akan terus
berjuang mati-matian atas apa yang kita percayai.
Patternnya memang seperti itu. Jadi sudah menjadi pola yang sangat umum di
dunia manusia ini. Hal natural ini terus berlangsung sejak manusia primitif
hingga jaman nuklir ini. Dan terus meregulasi untuk menjadi lebih baik.
Sesuatu yang ditakutkan adalah bila seorang pemilik order line ini dan
seluruh pengikutnya yang mempercayainya ternyata sesat. Tidak bisa dibayangkan
jika kita tersesat, semuanya akan hancur tak bersisa. Perkembangan teknologi
manusia memang diakui berubah drastis. Namun perilaku manusia yang serakah
sepertinya tidak banyak mengalami perubahan. Perkembangan teknologi diarahkan
untuk indera manusia bukan untuk hati manusia. Semua yang tidak enak
dipandang/dirasakan diperbaiki supanya nyaman untuk indera kita. Sehingga kita
mati-matian mengejar materi yang nyaman untuk indera kita. Simpelnya, kita
lebih senang jika kita merasa lebih nyaman daripada orang lain, daripada
melihat seorang miskin yang makan dengan lahap setelah seharian tidak makan dan
tidur di tempat yang tidak layak. Sosialis tidak selamanya benar namun
kapitalis juga tidak bisa disalahkan, selama semuanya dikemas dengan hati yang
mulia. Sungguh kita semua pasti takut jika tersesat.
Kita tidak perlu khawatir selama kita masih punya hati. Tuhan mempunyai kuasa
yang tak terbatas. Semuanya terserah Dia. Dia selalu benar dan tidak butuh
order line. Setiap jendral niscaya tidak menemui semua pasukannya akan
menembakkan amunisinya walau sudah berkomando-tembak, melainkan tergantung
kepentingan dan kondisinya. Realitanya belum pernah ada pemimpin yang bisa
memimpin seluruh manusia yang super majemuk ini dalam satu kesatuan. Karena
Rasul pernah menyampaikan bahwa Tuhan akan Memberi petunjuk untuk umatnya yang
mau diberi petunjuk, dan akan Menyesatkan umatnya yang ingin disesatkan.
Wallahu alam
Raditya Eka Permana
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel.