---------- Forwarded message ---------- From: Nurtania Purnamasari <[EMAIL PROTECTED]> Date: Jul 30, 2007 8:21 AM Subject: [Agricultural Engineering 37] Fwd: FW: Bunda, mandikan aku..sekali ini saja.. (Semua Harus Baca) To: "MZ Akbar (INDO)" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>> >> >> > Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang >> > dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep >> > dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun >> > profesi yang akan digelutinya. "Why not the best," katanya selalu, >> > mengutip seorang mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim >> > mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, >> > Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan >> > pendidikan kedokteran. >> > >> > Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang "selevel"; sama-sama >> > berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir >> > ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan >> > tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, >> > nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah "alif" dan >> > huruf terakhir "ya", jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak >> > sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang >> > pertama dan terakhir. >> > >> > Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani >> > semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu >> > kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya >> > saya pernah bertanya, "Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk >> > ditinggal-tinggal? " Dengan sigap Rani menjawab, "Oh, saya sudah >> > mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!" Ucapannya itu >> > betul-betul ia >> > buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara >> > profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual >> > Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, >> > cerdas dan gampang mengerti. >> > >> > Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang >> > itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, >> > tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. "Contohlah >> > ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti." Begitu selalu nenek Alif, >> > ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. >> > >> > Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. >> > Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali >> > menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk >> > menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini >> > "memahami" orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek >> > minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan >> > perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali >> > ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya >> > dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya "malaikat kecilku". Sungguh >> > keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super >> > sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada >> > keluarga ini. >> > >> > Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif >> > menolak dimandikan baby sitter. "Alif ingin Bunda mandikan," ujarnya >> > penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat >> > diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit >> > berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut >> > membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. >> > Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. >> > >> > Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku!" >> > kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, >> > mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak >> > lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa >> > ditinggal juga. >> > >> > Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. >> > "Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency." >> > Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah SWT >> > sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil >> > pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan >> > kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya >> > keinginan dia adalah memandikan putranya. >> > >> > Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen >> > untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. >> > >> > Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil >> > terbaring kaku. "Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif," ucapnya lirih, >> > di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari >> > sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah >> > mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. >> > Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, "Ini sudah >> > takdir, >> > ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau >> > sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?" Saya diam saja. Rasanya Rani >> > memang tak >> > perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. >> > Wajahnya pias, tatapannya kosong. "Ini konsekuensi sebuah pilihan," >> > lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja >> > meniupkan aroma bunga kamboja. >> > >> > Tiba-tiba Rani berlutut. "Aku ibunyaaa!" serunya histeris, lantas >> > tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, >> > lebih-lebih tangisan yang meledak. "Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan >> > Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif.." >> > Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya,ia menubruk pusara dan >> > tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang >> > menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua. >> > >> > >> > Note: Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. Hal yang >> > nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang >> > amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan dunianya >> > dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang >> > disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan >> > saja dulu. Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian >> > dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka >> > akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. >> > Pelajaran yang sangat menyedihkan. >> >> >> >> > >
