---------- Forwarded message ----------
From: Nurtania Purnamasari <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 5, 2007 5:12 PM
Subject: [Agricultural Engineering 37] Fwd: Tr: FW: FW: Mahalnya sebuah
karir untuk wanita]
To: "MZ Akbar (INDO)" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]


>
> Cukup Menyentuh .....Khususnya buat wanita.
>
>
>
> Perusahaan hanya perlu waktu paling lambat satu
> minggu untuk mencari
> pengganti jika kita meninggal, tapi berapa lama
> waktu yang diperlukan
> keluarga kita untuk itu ...?
>
> Family is number one, others can wait...
>
> nice story....
>
> Mahalnya sebuah karir untuk wanita
>
> Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan
> direktur sebuah Perusahaan
> multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang
> menganggap saya orang
> yang berhasil dalam karir namun sungguh jika
> seandainya saya boleh
> memilih maka
> saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak
> seperti sekarang dan
> menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
>
> Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya
> yang berusia 19 tahun
> baru saja meninggal karena overdosis narkotika.
> Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya,
> suami saya saat ini
> masih terbaring di rumah sakit karena terkena
> stroke dan mengalami
> kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
>
> Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami
> depresi berat dan
> Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah
> klinik kejiwaan, dia juga
> merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya.
> Sungguh apa lagi yang
> bisa saya harapkan.
>
> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan
> kepergian Bik Inah
> pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian
> Narkoba.
>
> Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu
> bisa membawa dampak
> Begitu hebat pada putri kami.
>
> Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti
> keluarga bagi kami, dia
> telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu
> dan ketika Doni berumur
> 2 tahun.
>
> Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti
> ibu kandungnya
> sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian
> Maya yang saya baca
> setelah dia meninggal.
>
> Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah,
> berlembar-lembar buku
> hariannya berisi hal ini.
>
> Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena
> kelelahan dan diopname
> di rumah sakit selama 3 minggu)
>
> Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku
> hariannya "Hari ini
> Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.
>
> Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.
> Tapi saya akui ini
> semua karena kesalahan saya.
>
> Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan
> Suami saya. Waktu saya
> habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir
> tentang keadaan
> perusahaan dari pada keadaan mereka.
>
> Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam
> kemudian, bahkan mungkin
> lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah
> begitu capai untuk
> memikirkan urusan mereka.
>
> Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara
> keluarga, namun
> sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja,
> ketika hari Senin
> tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang
> terprogram untuk urusan
> kantor.
>
> Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan
> saya untuk berhenti
> bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya
> tolak, saya anggap ibu
> terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya
> memutuskan berhenti
> bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang
> anaknya.
>
> Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu
> waktu itu katanya
> sangat baik.
>
> Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari
> segi karir dan
> penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk
> memutuskan berhenti
> bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu
> saja perasaan
> bagaimana kebutuhan
> hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan
> lalu apa gunanya saya
> sekolah tinggi-tinggi?.
>
> Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup
> mapan dalam karirnya
> dan penghasilan.
>
> Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi
> lebih perhatian pada
> Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu
> semuanya kembali seperti
> asal urusan kantor dan karir fokus saya.
>
> Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi
> waktu untuk mereka,
> toh teman yang lain di kantor juga bisa dan
> ungkapan "kualitas pertemuan
> dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu
> menjadi patokan saya.
>
> Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali
> saya dan berjalan
> begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
>
> Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi
> pemakai Narkoba.
>
> Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan
> protes Maya saat ini
> selalu terngiang di telinga.
>
> Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti
> bekerja dan memutuskan
> kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera
> satu-satunya, setelah
> dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya
> dan Doni keberatan maka
> akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal
> bersama kami.
>
> Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat
> dibanggakan Maya. Namun
> sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan.
> Akhirnya semua terjadi ,
> setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua
> minggu, bik Inah
> meninggal dunia di Rumah Sakit.
>
> Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa
> Doni malah pergi dari
> rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
>
> Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik
> Inah dibawa ke
> Singapore untuk berobat setelah dokter di sini
> mengatakan bahwa bik Inah
> sudah masuk stadium 4 kankernya.
>
> Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah
> pada kami. Dari sini
> saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat
> mereka, sudah seperti ibu
> kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah
> hanya bertugas
> melahirkan mereka saja
> ke dunia.
>
> Tragis !
>
> Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya
> sering saya amati Kalau
> lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu
> kami sekeluarga ke desa
> bik Inah.
>
> Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara
> pengangkatan Bagas
> sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai
> kuliah dan belajar
> di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk
> hadir di acara itu
> padahal dia
> paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor
> saya atau ayahnya.
>
> Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas,
> Doni dan Maya
> tersenyum bersama.
>
> Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti
> saat itu dan seingat
> saya itulah foto terakhirnya.
>
> Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang
> dan shock, kami sempat
> merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di
> Jakarta.
>
> Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu
> saya kembali berkutat
> dengan urusan kantor.
>
> Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air
> mata tercurah.
>
> Maya menulis :
> "Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus
> siapa yang bangunin
> Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang
> nyambut Maya kalau
> pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat
> berdoa, siapa yang Maya
> cerita kalau lagi kesel di
> sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa
> tidur..........Ya Tuhan
> , Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu
> seharusnya tugas saya
> sebagai ibunya, bukan bik Inah ?
>
> Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun
> semuanya sudah
> terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya
> semua bisa berputar
> kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.
>
> Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita
> sinetron di TV dan saya
> pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan
> kenyataan yang
> terjadi.
>
> Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk
> menggurui siapapun tapi
> sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa
> mengambil pelajaran
> darinya.
>
> Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena
> sungguh tiada terbayang
> beratnya.
>
> Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa
> menentukan "prioritas
> hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan
> saya seorang yang
> mengalaminya.
>
> Saat ini saya sedang mengikuti program
> konseling/therapy untuk
> menentramkan hati saya.
>
> Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis
> ini semua.
>
> Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus
> kesalahan saya,
> karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk
> memaksa anda
> mempercayainya, tapi inilah faktanya.
>
> Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
>
> Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya
> untuk suami dan Doni.
> Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah
> menyia-nyiakan amanahNya
> pada
> saya.
>
> Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan
> seandainya Engkau akan
> menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh
> tangguhkanlah Ya Tuhan, biar
> saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan
> buah hatiku tentram
> di sisiMu".
>
> Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.
>
 

Kirim email ke