Sumiyem Menantikan Ramadhan...

Jalan kaki seharian sambil gendong puluhan kilogram
buah bukan hambatan bagi Sumiyem untuk  berpuasa. Ia
sangat menantikan momen penuh rahmat itu. 
 
Namun ia sedih. Baru saja ia kehilangan uang Rp50.000,
suatu jumlah yang besar untuk  ukurannya. "Tadi saya
sudah hitung ada Rp250.000. Sekarang kok tinggal
Rp200.000. Cari uang Rp 50.000 kan susah om," katanya
dengan raut wajah lesu. 

Ia coba mengingat-ingat. "Apa saya keliru memberi
kembalian ya? Tadi ada orang belanja pakai uang
seratus ribu. Kalau jatuh dari sini (dompet lusuh yang
selalu diselipkan pada kain panjang yang digunakan
untuk mengendong keranjang) tidak mungkin," katanya
lagi. 

Ia menjadi bersemangat begitu topik pembicaraan
beralih ke soal Ramadhan dan puasa. "Bulan puasa saya
tetap jualan. Isya Allah saya kuat, biasanya saya
kuat. Pas puasa nanti kan musim mangga," kata
perempuan pedagang buah gedong asal Salatiga, Jawa
Tengah, itu saat ditemui di Pejaten, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, pekan lalu.

Sore itu dagangan Sumiyem tinggal sedikit: hanya ada
dua buah melon dan tiga bundel kelengkeng ukuran
setengah kilogram. "Melonnya manis, Rp8.000 aja.
Kelengkeng Rp 7.000 atau Rp6.000 aja asal ambil
semuanya," katanya. Kalau saja tidak ada cerita uang
hilang, hari itu ia memeroleh sedikit untung. 

Sumiyem sudah berjalan kaki seharian untuk menjajakan
dagangannya. Pagi-pagi ia belanja aneka buah di Pasar
Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. "Sehari biasanya
belanja 50 kilogram atau sekitar Rp200.000," katanya. 

Dari Pasar Induk ia naik angkutan umum ke Pasar
Minggu. Dari situ ia lalu menelusuri gang. Sebelum
jembatan gantung yang menghubungkan daerah Condet dan
Pasar Minggu di Sungai Ciliwung putus akibat banjir
pada Februari lalu, ia berjalan kaki dari Kramat Jati
ke Pasar Minggu. "Jembatannya belum diperbaiki, jadi
harus naik angkot, sehari habis Rp4.000," katanya.
  
***
Begitulah rutinitas Sumiyem setiap hari. "Ini berjuang
demi anak," katanya. Anaknya tiga orang. Dua orang
masih duduk di sekolah menegah atas, satu sudah lulus.
Ketiga anak bersama suaminya, seorang petani
penggarap, tinggal di Salatiga.
 
Di Jakarta ia berjuang sendiri. Tempat tinggalnya di
sebuah gang buntu di bibir Sungai  Ciliwung, daerah
Pasar Minggu. "Kalau hujan besar, kontrakan kami
kebanjiran. Di sana tukang buah seperti saya banyak,"
katanya.

Perjuangan Sumiyem mencari sesuap nasi dengan berjalan
kaki sambil mengendong puluhan kilogram buah bukan
halangan untuk tetap berpuasa. Ia menuturkan,
berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, ia
menunaikan ibadah puasa secara tuntas. "Biasanya tidak
pernah bolong (setiap hari berpuasa), kecuali kalau
ada tamu (haid), kalau perempuan kan suka ada tamu,"
katanya sambil tersenyum. 

Kisah Sumiyem barangkali merupakan potret kehidupan
banyak orang di Ibukota dan di pelosok negeri ini.
Bagi banyak pekerja sektor informal, yang
pendapatannya cukup untuk hidup sehari, seperti
pemulung, pedagang keliling yang berjalan kaki, kuli
bangunan, kuli angkut atau petani, pekerjaan fisik
yang berat bukan halangan untuk berpuasa. Meski
hidupnya sepanjang hari sudah merupakan ’penderitaan’
tersendiri mereka tetap menantikan Ramadahan dalam
sukacita dan menjalan ibadah puasa dengan penuh
hikmat.
 
Kata Sumiyem, tidak ada masalah antara berjalan kaki
berjam-jam sambil gendong buah dengan ibadah puasa.
"Dijalani aja, buktinya saya bisa selama ini,"
katanya.

Andre Moller, peneliti asal Swedia dengan disertasi
tentang Ramadahan di Jawa menulis, salah satu ciri
khas Ramadhan di Indonesia adalah minat dan rasa
gembira yang mengiringi bulan puasa. Minat itu, kata
Moller, dapat dilihat di bulan Sya’ban ketika orang-
orang Islam membuat berbagai acara untuk menyambut
bulan penuh berkah ini. 
 
"Sekolah-sekolah dan TK-TK membuat arak-arakan
keliling kota, pusat belanja 
memberikan tawaran menarik, di rumah-rumah diadakan
ritus khusus berupa ruwahan, dan kuburan-kuburan padat
dikunjungi orang. Semua kegiatan ini berdasarkan
kegembiraan atas izin-Nya ketemu bulan suci ini lagi,"
tulis Muller (Bentara, 2 Feruari 2005).

Minat yang besar dan rasa gembira yang berkobar boleh
jadi membuat orang mampu menjalankan puasa meski
kondisi tampak demikian sulit. Menghindari makanan dan
minuman selama kurang lebih 13 jam sehari selama bulan
puasa tentu saja cukup berat. Namun, menurut pandangan
orang Islam, ada imbalan yang jauh melebihi
penderitaan pendek itu. 

Selamat menunaikan ibadah puasa!




       
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 

Kirim email ke