Teman2 Demak,

Lama tidak menyapa, berikut ada tulisan menarik tentang kerja keras. 
Mungkin bisa bermanfaat bagi yang akan bekerja keras berlatih selama 
1 bulan puasa untuk menjadi yang lebih baik. Mohon maaf atas segala 
kekhilafan.

Salam,

FH


Dosa Utama Manusia adalah Tidak Kerja Keras        
Ditulis Oleh Red / Progress     
Selasa, 04 September 2007  
Dibalut hawa dingin kaki pegunungan, CNKK malam itu, 1 September 
2007, hadir di tengah-tengah masyarakat Desa Tonoboyo Bandongan 
Magelang dalam rangka Pesta Rakyat yang diselenggarakan oleh Rumah 
Tenun Tradisional Sederhana (RTTS), sebuah perusahaan berbasis 
masyarakat yang memproduksi bahan-bahan tenunan kualitas ekspor. 

Panggung yang berada di lokasi tegalan dengan galengan-galengan sawah 
yang telah mengering menambah suasana pedesaan. Sebagian hadirin pun 
ada yang duduk di atas galengan di sebelah panggung bak duduk di atas 
tribun stadion. Rumah-rumah tempat workshop RTTS dibangun dengan 
konsep dinding batubata terekspos. Kanan-kiri lokasi yang dibelah 
oleh jalan yang menghubungkan Magelang-Bandongan-Kaliangkrik itu 
adalah sawah-sawah yang terhampar luas. Berduyun-duyun orang-orang 
desa itu datang menikmati penampilan KiaiKanjeng dan menyimak uraian 
Cak Nun. 

"Kambing itu begitu lahir langsung belajar berjalan tanpa menunggu 
induknya bertindak. Untuk maju, sekarang juga urus dan bekerja keras. 
Tidak usah menunggu pemerintah bertindak. RTTS mengajak yuk berkerja 
keras. Waman yarju liqaa rabbihi fal ya'mal amalan sholihan (dan 
barang siapa berharap perjumpaan dengan-Nya maka beramal shalih-lah). 
Amal sholeh tak cuma sedekah. Amal saleh adalah kerja keras. Kunci 
hidup adalah nyambut gawe. Dosa utama manusia adalah tidak bekerja 
keras," papar Cak Nun memberikan semangat buat semua hadirin yang 
memadati komplek RTTS malam itu. 

Selain itu, Cak Nun juga mengajak masyarakat untuk terus nguri-uri 
nikmat Allah. Salah satu nikmat dari Allah adalah kekayaan budaya. 
Cak Nun mengajak hadirin untuk belajar dari Gundul-Gundul Pacul yang 
malam itu dilantunkan oleh KiaiKanjeng, selain lagu-lagu Jawa penuh 
hikmah lainnya seperti Ilir-Ilir dan Demak Ijo. Gundul-Gundul Pacul, 
jelas Cak Nun, adalah karya Sunan Kalijogo. Sunan Kalijogo titip 
hikmat buat anak-anak yang sesungguhnya muatannya buat para pemimpin. 
Salah seorang hadirin pun diberi kesempatan untuk ikut menembangkan 
salah satu lagu Jawa itu. "Saya ingin wong Tonoboyo menjadi wong 
Tonoboyo. Saya ingin wong Jawa menjadi wong Jawa," tegas Cak Nun 
memberi dorongan agar masyarakat percaya diri bahwa mereka unggul dan 
kaya, serta jangan sampai minder. 

Lapisan masyarakat desa Tonoboyo dan sekitarnya seperti tergugah 
semangatnya. Kehadiran Cak Nun dan KiaiKanjeng betul-betul memberi 
warna tersendiri dalam hati mereka. Mereka sangat senang dan 
terhibur, lebih-lebih sewaktu KiaiKanjeng mempersembahkan lagu 
dolanan Demak Ijo. Di situ ada kalimat: ndemok silit gudigen. Meski 
menyedot tawa, toh Cak Nun menjelaskan nilai-nilai yang dikandungnya 
yang terkait dengan makna wajah. Salah satunya, wajah adalah wakil 
kepribadian dan kemanusian manusia. Wakil dari martabat 
manusia. "Habis kentut saja yang dibasuh adalah wajah, bukan 
pantatnya," ujar Cak Nun. Sementara itu, tambahnya lagi, "Martabat 
yang rendah terjadi kalau orang itu malas, keset, nggak mau 
kerja, ...kerja nenun (membuat tenunan) adalah salah satu cara agar 
kita tidak bermartabat rendah." 

Pukul 23.30, para hadirin kembali ke rumah masing-masing membawa 
kesadaran dan kepercayaan diri yang baru diiringi tembang-tembang 
yang dinyanyikan para vokalis KiaiKanjeng.[] 
 


Kirim email ke