Opini lain ttg Malaysia

===============================


Assalamu'alaykum

Sebuah forward an dari Akh Teddy di Malaysia. Penting juga ya punya
kemampuan membuat tulisan.Yuk, menulis

Wassalamu'alaykum


PROVOKASI ADU DOMBA UMMAT ISLAM NUSANTARA

Oleh: Dr. Khairul Fuad & Askar Triwiyanto

Akhir-akhir ini semua media massa tanah air, baik media cetak maupun
elektronik, diriuhkan dengan topik seputar perlakuan zalim rakyat
Malaysia terhadap rakyat Indonesia yang berada di Malaysia sana. Dimulai
dari kekalahan klaim Indonesia atas pulau Sipadan dan Ligitan, peristiwa
Ambalat, lalu bergeser ke persoalan tak berkesudahan tentang TKI dan TKW
yang dizalimi, disiksa, dan tak dibayar gaji. Masih ditambah lagi dengan
pemukulan wasit karate Indonesia. Hampir seluruh media mempropagandakan
semangat membela bangsa. Rakyat Indonesiapun terbakar.

Belum lagi usai keriuhan ini, muncul pula berita isteri seorang diplomat
Indonesia yang diperlakukan tidak semestinya oleh RELA (sukarelawan yang
membantu tugas polisi). Tindak-tanduk RELA yang dinilai sangat merugikan
TKI inipun dikupas tuntas dengan penuh kebencian. Di tengah-tengah
suasana panas ini, terbetik lagi kabar sembilan anggota RELA keturunan
India memperkosa isteri seorang TKI. Disusul lagi dengan berita
penggeledahan rumah seorang ketua PPI-UKM yang dilakukan RELA begitu
kasar. Lalu, kasus lagu "Rasa Sayang-sayange" semakin menambah gejolak.
Rakyat Indonesia semakin terbakar, semangat membela bangsa pun meledak
dimana-mana.

Semua informasi ini, sebagian besar bersumber dari media massa. Beberapa
warga Senayan dan para pemerhati memberi komentar pedas dengan semangat
bela bangsa yang bak menyiram bensin ke pembakaran. Dari
komentar-komentar yang berserakan di berbagai media, dapat diambil
sebuah kesimpulan bahwa umumnya para komentator tersebut beranggapan
bahwa yang namanya rakyat Malaysia itu adalah warga Melayu dan beragama
Islam. Nah, disinilah kekeliruan yang dimanfaatkan oleh para provokator.
Padahal, rakyat Malaysia itu multi etnis yang terdiri dari "Melayu",
Cina, India, dan pribumi Sabah-Sarawak.

Sama seperti Indonesia beberapa waktu lalu, rakyat Malaysia
memperkenalkan istilah pribumi dan non-pribumi. Pribumi Malaysia terbagi
dua; Melayu dan non-Melayu. Siapa saja beragama Islam, termasuk dalam
katagori Melayu. Jadi, Melayu itu identik dengan muslim. Melayu (muslim)
di Malaysia adalah yang terbesar, kira-kira berjumlah 50%. Berikutnya
adalah keturunan Cina (30%), dan selebihnya adalah India dan pribumi
non-Melayu.

Ada yang aneh dan janggal dalam pemberitaan di media massa kita.
Provokasi sengit dan tajam tertuju ke satu arah seolah-olah Malaysia itu
hanya dihuni oleh orang Melayu sehingga menggiring opini masyarakat dan
membangkitkan kebencian terhadap Melayu. Semua kesalahan ditimpakan
kepada si Melayu. Padahal jumlah Melayu berkisar setengah penduduk
Malaysia saja.

Coba cermati kembali berita-berita penzaliman TKI dan TKW. Siapakah
majikan mereka? Umumnya majikan non-Melayu yang menyiksa PRT kita,
termasuk yang tak membayar gaji TKI dan PRT. Demikian juga kezaliman
lainnya. Non-Melayu yang makan nangka, si Melayu yang kena getahnya.

Pertengahan puasa lalu, ketika penulis menumpang bus ke bandara Kuala
Lumpur dalam perjalanan pulang ke Indonesia, bersebelahan duduk dengan
seorang TKW kita yang bekerja sebagai PRT di keluarga non-Melayu selama
4 tahun. Ia ingin pulang kampung dan tak ingin kembali, tetapi ada yang
masih mengganjal di benaknya. Gajinya, sekitar 8 juta rupiah, ditahan
oleh sang majikan dengan tujuan agar si pembantu ini kembali lagi
bekerja padanya. Sementara sang PRT sudah tak tahan lagi karena selama
bekerja tak diperkenankan berhubungan dengan orang luar selain keluarga
majikan. Benar-benar hidup terpenjara.

Kisah-kisah seperti ini cukup banyak ditemui dan umumnya bermajikan
non-Melayu. Di sebalik itu, tak sedikit kisah sang majikan Melayu yang
ditipu oleh PRT dari Indonesia. Beritanya tak masuk surat kabar karena
majikan Melayu cuma mengurut dada saja, pasrah ditipu oleh saudara
sendiri. Kebanyakan PRT kita bernasib lebih beruntung bila bermajikan
Melayu karena diperlakukan manusiawi, bahkan dianggap sebagai bagian
dari keluarga. Informasi ini nampaknya tak dimiliki oleh para komentator
di media kita.

Cukup menarik mengenal sejarah Melayu Malaysia. Penduduk Nusantara ini,
termasuk Indonesia dan Malaysia, terdiri dari berbilang suku dan
masing-masing memiliki kampung halaman asalnya. Dalam sejarah panjangnya
sejak dahulu kala, suku-suku ini bertebaran ke seluruh pelosok Nusantara
dan menetap di perantauan, membentuk komunitasnya dan masih
mempertahankan ciri budayanya walau kini agak kabur bila dibanding
dengan budaya asalnya karena pengaruh dan kondisi lingkungan barunya.

Suku Jawa, Bugis, Banjar, Bawean, Minangkabau, Melayu Sumatera, termasuk
Mandailing dan Aceh, boleh jadi penggabungan semuanya merupakan
mayoritas Melayu di Malaysia. Bahkan, sejarah telah mencatat bahwa
hampir semua raja-raja kesultanan Melayu berasal dari Bukit Siguntang
Mahameru yang berada di daerah Palembang. Sultan Johor sendiri adalah
keturunan Bugis. Daerah kesultanan Johor didominasi oleh dua suku besar,
Bugis dan Jawa. Begitu ramainya suku Jawa di Johor hingga mewarnai
budaya masyarakatnya. Tidak hanya bahasa Jawa dan gendingnya yang masih
sering terdengar, jaran kepang juga dipakai sebagai icon negeri Johor.

Negeri sembilan dikenal sebagai basisnya masyarakat keturunan
Minangkabau. Bahasa dan adat istiadatnya, termasuk rumah dan pakaian
adat, musik dan tari, masih cukup kental warna Minangkabaunya.
Masyarakat negeri ini memiliki ikatan batin yang kuat dengan kampung
asalnya di Sumatera Barat sana. Itu sebab keduanya menjalin negeri
kembar. Setiap pelantikan Gubernur Sumatera Barat mestilah dihadiri oleh
Menteri Besar dan utusan Sultan Negeri Sembilan. Begitu juga sebaliknya.

Mantan Perdana Menteri Tun Abdul Razak (Alm), dan kini anaknya Najib
menjabat sebagai Timbalan PM Malaysia adalah keturunan bangsawan Bugis.
Sewaktu menerima anugerah Doctor Honoris-causa di Universitas
Hasanuddin, Najib menyebutkan kesamaannya dengan Jusuf Kalla; sama-sama
wakil, yang satu wakil presiden RI dan satu lagi Timbalan PM Malaysia,
sama-sama keturunan Bugis, dan sama-sama beristerikan keturunan
Minangkabau.

Tak ada yang salah kalau Melayu (muslim) Malaysia menganggap bangsa
Indonesia adalah saudaranya, bukan hanya serumpun, tetapi juga memang
satu keturunan yang dekat dan memiliki ikatan batin yang kuat. Kalau
Indonesia berperang melawan Malaysia, tahukah anda siapa yang akan
berperang? Tentara Malaysia didominasi oleh Melayu yang terdiri dari
suku-suku yang saya sebutkan di atas. Artinya, itu merupakan pertempuran
saling bunuh antara Jawa lawan Jawa, Bugis lawan Bugis, Minang lawan
Minang, Aceh lawan Aceh, Mandailing lawan Mandailing, Melayu lawan
Melayu. Tak salah kalau disebut sebagai perang saudara sesama muslim
Melayu.

Adalah tindakan bijak kalau seluruh potensi yang ada digunakan untuk
mendesak kedua pemerintah agar memperbaharui hubungan bilateralnya
terutama yang memberi perlindungan tegas guna mereduksi, sampai ke titik
nol, kezaliman dan kriminal yang dilakukan antara kedua belah pihak
warganya. Bagaimanapun juga, keberadaan TKI dan TKW kita di Malaysia
bertujuan untuk saling menguntungkan dan mensejahterakan.

Layaklah timbul kecurigaan bahwa ada grand design terselubung dibalik
provokasi habis-habisan di media massa, baik di Malaysia maupun
Indonesia. Sulit disangkal bahwa ada pihak-pihak yang berkepentingan
untuk melemahkan ummat Islam di kedua negara ini demi tujuan-tujuan
tertentu.

Malaysia melindungi rakyat pribumi dan agama Islam melalui
konstitusinya. Agama Islam adalah agama negara yang dilindungi
undang-undang. Sementara, walaupun tak dilindungi undang-undang, Islam
adalah anutan mayoritas penduduk Indonesia. Wajar dan demokratis sekali
kalau ummat Islam Indonesia lebih berperan dan berpengaruh dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Rasanya sulit dan musykil mengubah keadaan di kedua negara ini secara
wajar. Jalan satu-satunya adalah memprovokasi adu domba meminjam cara
penjajah Belanda. Peluang yang mungkin adalah mencari kasus-kasus yang
dapat dijadikan alasan untuk membangkitkan sentimen kebangsaan. Itulah
yang terjadi sekarang ini, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Bukan
tak berdasar kalau mencurigai media massa telah dijadikan alat provokasi
yang efektif.

Masih segar dalam ingatan kita mengapa seluruh komponen organisasi Islam
di Indonesia yang dipelopori oleh MUI, NU, dan Muhammadiyah mengadakan
aksi demonstrasi sejuta ummat mendukung RUU Pornograpi. Apa alasannya?
Karena suara mereka yang mewakili mayoritas rakyat terlalu minim dimuat
dalam media massa sementara suara segelintir penentang RUU Pornograpi
mendapat tempat dan ruang akomodasi yang intens dan berkesinambungan.
Jelas dan ketara sekali indikasinya ke arah mana keberpihakan kebanyakan
media massa kita.

Di Malaysia sendiri, media massanya yang dikuasai oleh non-Melayu dan
muslim sekuler dikontrol dengan ketat oleh pemerintah. Sejauh berita
yang ditampilkan tidak membahayakan posisi partai berkuasa, semua
sah-sah saja. Berita-berita tentang kriminal yang dilakukan oleh
orang-orang Indonesia, walaupun dibesar-besarkan, dianggap sebagai
berita biasa. Peluang ini dimanfaatkan untuk membangkitkan sentimen
kebencian dengan mendramatisir kejahatan dan keburukan TKI dan TKW kita,
juga untuk menekan pemerintah Malaysia dan menggiringnya ke arah tujuan
yang diinginkan.

Taklah terlalu berlebihan menebak senario hasil akhir dari provokasi
ini. Bila Malaysia dan Indonesia berperang, pastilah negara-negara kuat
akan turut campur; sebagian membantu Indonesia dan sebagian lain
membantu Malaysia. Senjata-senjata dan alat perang canggih akan
dicurahkan ke Malaysia dan Indonesia. Semuanya hutang, tak ada yang
gratis. Setelah keduanya lumpuh dan hancur-lebur akibat perang, lalu
didamaikan. Malaysia dan Indonesia akan berhutang budi dan uang yang
sangat luar biasa besarnya. Imbalannya? Sumber-sumber alam dan politik
pemerintahan di kedua negara pecundang ini akan dikuasai dan
dikendalikan oleh negara-negara yang telah berjasa membantu perang.

Kitapun menjadi bangsa kerbau dicucuk hidung. Dengan alasan demokrasi
dan keadilan, Malaysia dan Indonesia dipaksa mengamandemen
konstitusinya. Sejarah barupun dimulai. Sang provokator dan sindikatnya,
di kedua negara, tampil ke depan memegang kendali kekuasaan. Lalu, ummat
Islam di kedua negara pecundang ini akan menjadi budak hina dinegerinya
sendiri. Tangis penyesalanpun bermula. Apa daya, nasi telah menjadi
bubur. Alangkah naifnya.

 

.



Confidential information may be contained in this e-mail and/or any files 
transmitted with it ('Message'). If you are not the intended recipient of this 
Message or any part thereof (or responsible for delivery of this Message to 
such person), you are hereby notified that any dissemination, distribution, 
printing or copying of this Message or any part thereof is strictly prohibited. 
In such a case, you should delete this Message immediately and advise the 
sender by return e-mail. Opinions, conclusions and other information in this 
Message that do not relate to the official business of PT Natrindo Telepon 
Seluler ('NTS') shall be understood as neither given nor endorsed by NTS.

Kirim email ke