> 
> 
> Ini ada artikel yang bagus, bayangin cuma jadi
> broker impor minyak dapet komisi US $ 10-30 cent per
> barrel per hari, padahal kita impor 579 000
> barrel/hari. Gubraak....(sambil garuk2 bingung...)
>  
> 
> TOLAK PEMBATASAN PREMIUM!
> 
> 
> 
> Jakarta (12/12/07)-- Rencana pemerintah membatasi
> premium ke pertamax menunjukkan sikap panik dan
> rendahnya kemampuan antisipatif tim ekonomi
> pemerintah. Padahal banyak cara lain yang lebih
> cerdas tanpa harus menimbulkan masalah baru. Hal ini
> sekali lagi menunjukkan rendahnya empati dan
> leadership pemimpin nasional. Untuk itu, Komite
> BangkitIndonesia menyerukan masyarakat menolak
> kebijakan tersebut. 
> 
>  
> 
> Ketua Umum Komite BangkitIndonesia Rizal Ramli
> menyatakan, kebijakan gampangan dan reaktif seperti
> itu tidak akan memecahkan masalah. Yang terjadi
> justru menimbulkan berbagai permasalahan baru.
> Antara lain, berpontensi menimbulkan kepanikan di
> tempat penjualan BBM bersubsidi, penyelundupan BBM,
> dan lainnya. 
> 
>  
> 
> "Semestinya tim ekonomi pemerintah mampu menempuh
> kebijakan yang cerdas dan mendasar. Salah satunya
> membenahi manajemen Pertamina agar lebih efisien dan
> menekan berbagai kebocoran. Hal mendasar lainnya,
> adalah mereformasi tata niaga minyak bumi dan gas.
> Langkah ini dimulai dengan menghapus peran para
> broker pemburu rente dalam impor minyak. Juga
> memperbaiki pola bagi hasil dengan contract
> production sharing agar lebih adil. Tapi semua itu
> tidak dilakukan karena lemahnya leadership dan
> karakter pemimpin," ujar Rizal Ramli. 
> 
>  
> 
> Indonesia sedikitnya mengimpor 369.000 barel minyak
> mentah dan 210.000 barel BBM (premium, solar, dan
> minyak tanah) per hari. Dari sini saja, mereka
> mengantongi komisi US$10-30 cent/barel. Bisa
> dibayangkan berapa banyak uang negara yang dinikmati
> para broker itu. 
> 
>  
> 
> Sementara itu, ketua BangkitIndonesia Iman Sugema
> mengatakan, kerugian lain juga disebabkan cara
> pembayaran. Selama ini pengadaan BBM selalu
> dilakukan dengan cash and carry. Tentu saja ini
> sangat memberatkan cash flow Pertamina. Akibat
> lainnya, nilai tukar rupiah juga sering tertekan. 
> 
>  
> 
> "Jika pemerintah berani menghapuskan peran broker,
> bukan cuma biaya tinggi yang bisa dihilangkan, tapi
> sistem pembayaran juga dapat dinegosiasikan paling
> tidak menjadi tiga bulan. Ini akan sangat membantu
> cash flow Pertamina dan mengurangi tekanan terhadap
> rupiah. Tapi ini tidak dilakukan karena eksistensi
> para broker itu terkait dengan penguasa," papar
> Iman. 
> 
> BangkitIndonesia menilai sebetulnya banyak cara
> untuk mengurangi tekanan APBN 2008. Antara lain
> dengan menerapkan burden sharing kepada semua
> stakeholders, baik pemerintah pusat, pemerintah
> daerah, kalangan bisnis, dan masyarakat luas. Burden
> sharing dengan dunia bisnis bisa dilakukan dengan
> pengenaan pajak tambahan (windfall gain tax) kepada
> perusahaan minyak seiring dengan naiknya harga
> minyak dunia. 
> 
>  
> 
> Solusi ini bisa langsung menutupi lonjakan beban
> subsidi APBN tanpa harus mengorbankan masyarakat.
> "Lagi pula, cara seperti ini biasa dilakukan di
> Amerika Serikat dan inggris," kata Iman. 
> 
>  
> 
> Sementara itu, Sekjen BangkitIndonesia Ferry J
> Juliantono, mengatakan pemerintah selalu menjadikan
> tingginya harga minyak dunia sebagai pembenaran
> dalam membebani rakyat dengan dalih untuk
> mengamankan APBN. Pada titik ini pemerintah tidak
> jujur. Karena naiknya harga minyak dunia juga
> berimplikasi naiknya pendapatan pemerintah dari
> migas. 
> 
>  
> 
> Sebagai contoh, lanjut Ferry, kenaikan harga minyak
> dari US$40/barel menjadi US$60/barel, beban subsidi
> BBM memang naik dari Rp59 triliun menjadi Rp129
> triliun. Tapi di sisi lain, penerimaan pemerintah
> juga naik dari Rp129 tirliun menjadi Rp213 triliun.
> Dengan demikian ada selisih positif Rp14 triliun. 
> 
>  
> 
> "Tapi pemerintah kan selalu sibuk berkampanye beban
> subsidi meningkat. Sedangkan naiknya penerimaan
> tidak disebut-sebut. Ini jelas membohongi publik.
> Sesungguhnya masih banyak celah dan langkah yang
> diambil pemerintah untuk mendapatkan sumber devisa.
> Jangan rakyat terus yang harus merogoh kocek lebih
> dalam untuk mensubsidi pemerintah," ungkap Ferry. 
> 
>  
> 
> Cara lain yang tidak pernah ditempuh pemerintah
> adalah merenegosiasi utang luar negeri. Padahal cara
> ini dipastikan akan mengurangi beban APBN dengan
> sangat signifikan. Nigeria berhasil memperoleh
> penghapusan utang sebesar 67% atau senilai US$17
> miliar dari sebelumnya US$25 miliar. Bahkan sisanya
> yang US$8 miliar akan dibeli kembali (buy back)
> dengan harga diskon besar-besaran. 
> 
>  
> 
> Begitu juga dengan Argentina, berhasil memperoleh
> potongan utang hingga 70% atau US$72 miliar dari
> US$102,6 miliar. Selama beberapa tahun ekonomi
> Argentina anjlok 11% pada 2002. Namun pada 2003 dan
> 2004, ekonominya mampu tumbuh 8%. Hal ini terjadi
> karena APBN-nya tidak dibebani kewajiban cicilan
> utang yang besar. 
> 
>  
> 
> "Sayangnya pemerintah kita tidak pernah mau
> melakukan renegosiasi utang. Tim ekonomi pemerintah
> lebih suka menyenangkan kreditor asing walaupun
> harus mengorbankan rakyat. Untuk itu, kami mengajak
> masyarakat menolak pembatasan premium," ujar Ferry.
> (*) 
> 
>  
> 
> 
>  -----Original Message-----
> From: Suryono, Broto SHLINDN-DLL/42D3 
> Sent: 16 Mei 2008 9:48
> To: Woto, Woto SHLINDN-DLA/497; Chanafi, Imron
> SHLINDN-OPTS/3; Hidayat, Mohammad SHLINDN-DLA/485;
> Wahyudi, Bambang SHLINDN-DLA/486
> Subject: RE: [ex_perfetti_news] FW: Tidak ada
> subsidi BBM, Benarkah....?
> 
> 
> 
> Aku juga udah terima dari temen... Soal bener apa
> nggak, mari berdoa bersama untuk yang terbaik...
> yang penting kita jangan mubasir, harus hemat
> energi...
>  
> 
> -----Original Message-----
> From: Woto, Woto SHLINDN-DLA/497 
> Sent: 16 May 2008 09:39
> To: Chanafi, Imron SHLINDN-OPTS/3; Hidayat, Mohammad
> SHLINDN-DLA/485; Wahyudi, Bambang SHLINDN-DLA/486;
> Suryono, Broto SHLINDN-DLL/42D3
> Subject: FW: [ex_perfetti_news] FW: Tidak ada
> subsidi BBM, Benarkah....?
> 
> 
> Gimana nih? Benarkah?
> -----Original Message-----
> From: [EMAIL PROTECTED]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf
> Of Karyawan Agus A
> Sent: 15 May 2008 15:11
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [ex_perfetti_news] FW: Tidak ada subsidi
> BBM, Benarkah....?
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Regards, 
> 
> 
> Agus Karyawan 
> PT PZ Cussons Indonesia 
> 
> 
> 
> ______________________________________________ 
> From:   Hermawan Risa R  
> Sent:   15 May 2008 12:38 
> To:     Arieswanto Arieswanto A;
> [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; Eddy Sigit SW; Gunawan
> Sandy S; Hadi Suseno; Hamedi Wahyu W; Irawanti
> Rachma R; [EMAIL PROTECTED]; Karyawan Agus A;
> Malik Djamaludin D; Mustapin Arief A; Mahdi Tun
> Albert A; tegal; purwokerto; Somodipoyono Totok T;
> Siahaan Anton A; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; Sanyoto Budi BS
> 
> Subject:        Tidak ada subsidi BBM, Benarkah....?
> 
> 
> <<Tidak Ada Subsidi BBM.pdf>> 
> 
> 
> PZ Cussons Plc - Incorporated and registered in
> England and Wales under company number 19457
> Registered Office: PZ Cussons House, Bird Hall Lane,
> Stockport, Cheshire, SK3 0XN
> The contents of this message and any attachments to
> it are confidential and may be legally privileged.
> If you have received this message in error you
> should delete it from your system immediately and
> advise the sender. To any recipient of this message
> within PZ Cussons, unless otherwise stated you
> should consider this 


      

Kirim email ke