part 4 : Strategi yang dilakukan kelompok liberal dan juga para sekutunya di 
Indonesia untuk menghancurkan gerakan-gerakan Islam—termasuk Front Pembela 
Islam (FPI), adalah dengan dua cara utama: Strategi Izharul Islam, yakni 
berpura-pura sebagai bagian dari kelompok umat Islam Indonesia namun dari 
“dalam” menghancurkan Islam itu sendiri.
Dalam sejarah negeri ini, strategi Izharul Islam telah diperkenalkan oleh 
seorang orientalis Yahudi Belanda bernama Snouck Hurgronje yang berpura-pura 
menjadi seorang Muslim namun dikemudian hari terbukti bahwa Hurgronje merupakan 
musuh dalam selimut. Demikianlah yang dikerjakan kaum liberal di Indonesia.
Strategi kedua adalah dengan memecah-belah umat Islam Indonesia (devide et 
Impera). Mereka memecah umatan tauhid ini dengan istilah-istilah kaum pembaharu 
dan kaum tradisional, kaum radikal dan kaum moderat, Islam liberal dan Islam 
Literal, bahkan Jaringan Rahmatan Alamin (maksudnya “Islam” yang berbaik-baik 
dengan Zionis-Yahudi seperti halnya Abdurrahman Wahid dan kawan-kawan) 
berhadapan dengan Jaringan Terorisme. Suatu istilah yang keji yang dipakai 
secara terang-terangan di situs libforall.com.
Guna meracuni opini publik maka senjata utama mereka adalah media massa, baik 
cetak (majalah, koran, tabloid, dan aneka penerbitaan buku), radio, situs dan 
aneka milis, maupun teve. Serangan media massa jaringan liberal ini secara 
kasar terlihat sekali dalam memberitakan apa yang terjadi setelah peristiwa 
benrokkan di Monas, 1 Juni 2008.
Mereka beramai-ramai berusaha keras membentuk opini publik bahwa FPI harus 
dibubarkan karena meresahkan masyarakat, radikal, bahkan disebut sebagai 
‘barisan preman berjubah’. Di sisi lain mereka menayangkan aneka liputan 
tentang bagaimana tertindasnya kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka sama sekali 
tidak memuat sejumlah fakta bahwa AKKBB sebenarnya menyalahi rute aksi di hari 
tersebut, memprovokasi dan menantang FPI terlebih dahulu, bahkan ada peserta 
demonya yang membawa-bawa senjata api.
Padahal bisa dibayangkan, andaikata yang membawa senjata api itu salah seorang 
anggota FPI, maka dalam waktu sekejap pasti dunia internasional sudah 
mengetahuinya, bahkan tidak mustahil Kedubes AS akan segera menekan SBY untuk 
menangkap si pelaku.Dan SBY segera memerintahkan Kapolri untuk menurunkan 
Pasukan Elit Polri Densus 88 untuk memburunya.
Apa yang dilakukan media massa pro-liberal ini sesungguhnya mengikuti arahan 
yang sudah ditulis oleh Cheryl Bernard dari think-tank Zionis Amerika (kelompk 
Neo-Con di mana salah satu pentolannya adalah Paul Wolfowitz, si Zionis-Yahudi 
Gedung Putih, teman dekat Abdurrhaman Wahid) bernama Rand Corporation dalam 
artikelnya yang berjudul “CIVIL DEMOCRATIC ISLAM, PARTNERS, RESOURCES, AND 
STRATEGIES”. Inilah artikelnya:
STRATEGI: PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM
Langkah pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan 
kecenderungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi.
Pertama : Kelompok Fundamentalis: menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan 
Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang 
akan dapat menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia 
memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.
Kedua : Kelompok Tradisionalis: ingin suatu masyarakat yang konservatif. Mereka 
mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan. 
Ketiga: Kelompok Modernis: ingin Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. 
Mereka ingin memodernkan dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.
Keempat : Kelompok Sekularis: ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan 
antara agama dan negaradengan cara seperti yang dilakukan negara-negara 
demokrasi industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.
STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA
Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya 
yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu. 
Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar 
kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU 
yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut 
Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI.
Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya:
Pertama, Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis) dengan, 

<!--[if! SupportLists]-->Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan 
biaya yang disubsidi, 
<!--[if! SupportLists]--><!--[endif]-->Mendorong mereka untuk menulis bagi 
audiens massa dan bagi kaum muda, 
<!--[if! SupportLists]--><!--[endif]-->Memperkenalkan pandangan-pandangan 
mereka dalam kurikulum pendidikan Islam, 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Memberikan mereka suatu platform publik 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Menyediakan bagi mereka opini dan 
penilaian pada pertanyaan-pertanyaan yang fundamental dari interpretasi agama 
bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan 
tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan 
pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, 
dan sarana yang lainnya. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Memposisikan sekularisme dan modernisme 
sebagai sebuah pilihan “counterculture” bagi kaum muda Islam yang tidak puas. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Memfasilitasi dan mendorong kesadaran 
akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum 
dari negara-negara yang relevan. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Membantu dalam membangun 
organisasi-organisasi sipil yang independent, untuk 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mempromosikan kebudayaan sipil (civic 
culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka 
sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka. 
Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists : Mendukung kaum 
tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang 
dilakukan antara lain, 

<!--[if! SupportLists]-->Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas 
kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong 
perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mencegah aliansi antara kaum 
tradisionalis dan kaum fundamentalis. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mendorong kerja sama antara kaum 
modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan Kaum modernis. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Jika memungkinkan, didik kaum 
tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka untuk mampu melakukan debat 
dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis secara retorika seringkali lebih 
superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik „Islam 
pinggiran” yang kabur. Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin 
perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan 
pandangan mereka. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Menambah kehadiran dan profil kaum 
modernis pada lembaga-lembaga tradisionalis. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Melakukan diskriminasi antara 
sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong orang-orang dengan 
ketertarikan yang lebih besar atas modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, 
lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan 
mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang 
terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan 
pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang 
konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam 
yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari 
Hukum Islam. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mendorong popularitas dan penerimaan 
atas Sufisme. 
Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang 
kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain:

<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Menentang tafsir mereka atas Islam dan 
menunjukkan ketidak akuratannya. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mengungkap keterkaitan mereka dengan 
kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mengumumkan konsekuensi dari tindakan 
kekerasan yang mereka lakukan. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Menunjukkan ketidak mampuan mereka 
untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara 
mereka dan komunitas-komunitas mereka. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada 
kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin 
di Barat, dan kepada wanita. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mencegah menunjukkan rasa hormat dan 
pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. 
Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mendorong para wartawan untuk memeriksa 
isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum 
fundamentalis dan kaum teroris. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mendorong perpecahan antara kaum 
fundamentalis. 
Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler:

<!--[if! SupportLists]-->Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu 
musuh bersama, mematahkan aliansi dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika 
berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideology kiri. 
<!--[if! SupportLists]--> <!--[endif]-->Mendorong ide bahwa agama dan Negara 
juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan 
tapi malah akan memperkuatnya. Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan 
manapun yang diambil, kami sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan 
secara hati-hati, dengan mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; 
konsekuensi dari penyesuaian ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko 
mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita 
berusahah bantu; dan kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak 
diinginkan dan pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek. 
KELEMAHAN UMAT ISLAM INDONESIAUmat Islam Indonesia sebenarnya kuat, kompak, dan 
berjuang menegakkan Islam dengan ikhlas, bahkan jika perlu nyawa pun jadi 
taruhannya. Hanya saja, kelemahan yang paling mendasar adalah umatan tauhid ini 
tidak memiliki media massa yang kuat, apakah itu koran atau stasiun teve.Dan 
amat disayangkan pula, sebagian pemimpin umat ini sekarang sudah banyak yang 
dijangkiti penyakit wahn, yakni cinta dunia melebihi kecintaannya pada akherat, 
sehingga membeli mobil mewah seperti Bentley yang satu unitnya miliaran rupiah 
mampu, tapi membuat satu harian untuk kemashlahatan umat, mengaku tidak mampu. 
Padahal Bentley tidak akan bisa dibawa ke liang kubur.Mudah-mudahan Allah SWT 
memberikan umatan tauhid ini seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menegakkan 
dan menghidup Islam, bukan malah hidup dengan menunggangi umat Islam. Amien Ya 
Allah! (Tamat/Rizki)




 
_________________________________________________________________
Easily edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke