---------- Forwarded message ----------
From: mulya disaputra <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/6/17
Subject: [Agricultural Engineering 37] Fw: [cetivasi] Mampukah Kita
Mencintai Tanpa Syarat
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]




--- On *Sat, 5/31/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [cetivasi] Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, May 31, 2008, 10:17 PM

  *Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat*


Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan
merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah
lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak
bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas
maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja
yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno
sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat
tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal
dengan keluarga masing-masing dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yang
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata " Pak kami
ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu
tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak
tidak ijinkan kami menjaga ibu".



Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya "sudah yang
keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan
merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.
"Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk
nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu
kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..
sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yang selalu kurindukan hadir
didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan
apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti
Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia
meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang
masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu
yang masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno merekapun
melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu
ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak
suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah
tidak bisa apa-apa..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang
hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru
disitulah Pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya,
tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian )
adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,
dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya
dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang
anak yang lucu-lucu.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama  dan itu
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
mencintainya
apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit.."





 

Kirim email ke