Dunia memang penuh dengan gemelapnya perhiasan dan sorotan lampu penerangan, 
bahkan sinar mentari dan rembulan tiada henti memberikan cahaya pada mata, 
namun kebanyakan orang hidup di dalamnya dalam keadaan buta, tanpa cahaya tanpa 
hidayah. Hanya sedikit orang yang beruntung; yaitu orang-orang yang menegakkan 
sholat, sebab sholat adalah cahaya; penerang kehidupan di dunia dan di akhirat. 
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dan sholat itu adalah 
cahaya." (HR. Muslim)

 

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya: "Berilah 
kabar gembira orang-orang yang berjalan ke masjid dalam gelap (untuk menunaikan 
sholat) akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hai kiamat." (HR. Abdu Dawud, 
Tirmidzi, hadits shahih)

 

Kisah bocah kecil yang menyebabkan kedua orang tuanya bertaubat dan tekun 
sholat diharapkan dapat menggugah hati para orang tua dan setiap orang yang 
lalai.

 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Ya Rabbi... Lapangkan Dada Keduanya untuk Sholat...

 

Ini adalah seorang anak yang diilhami Allah subhanahu wa ta'ala untuk Teguh, 
diberi taufiq untuk berada di atas kebenaran dan dilapangkan dadanya dengan 
keimanan setelah dia mendengar untaian-untaian kalimat jujur yang keluar dari 
guru dan teman-temannya tentang sholat, keagungan dan kedudukannya dalam 
syariat.

 

Maka diapun mendatangi sholat, menjaga kelestariannya, sementara dia diuji 
dengan kedua orangtuanya yang tidak menjaga sholatnya.

 

Mulailah sang ibu mengkhawatirkan keluarnya anak ini dari rumah untuk sholat 
secara umum, terutama untuk sholat subuh. Bahkan sang ibu berusaha agar membuat 
sang anak mengecualikan subuh dari sholat-sholat lain (dengan tidak 
mendatanginya keluar dari rumah di pagi hari). Akan tetapi sholat telah 
tertanam dalam lubuk hati dan rohnya. Sang ayahpun berusaha untuk meringankan 
larangan sang ibu dengan berkata kepadanya: "Jangan engkau halangi 
keinginannya, itu adalah satu masa dari masa kanak-kanak."

 

Haripun berjalan, sementara apa yang diharapkan oleh sang ayah tidaklah 
terwujud. Di suatu pagi di hari Jum'at, sang ibu tidak mendengar langkah masuk 
dan datangnya sang anak dai sholat subuh. Dengan segera sang ibu berdiri dan 
pergi ke kamar sang anak. Saat di depan pintu dia mendengar sebuah suara yang 
menggema yang membangkitkan perasaan. Sang ibupun membuka pintu, ternyata dia 
melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Tahukah anda, pemandangan apa yang 
dilihat oleh sang ibu?

 

Sang anak sedang mengangkat kedua tangannya ke langit dan dengan lisannya yang 
penuh ketundukan dia berdoa dengan mendesak seraya membaca dengan 
berulang-ulang:

 

"Ya Rabbi, berilah hidayah hati ayah dan ibuku untuk sholat, ya Rabbi, ya 
Rabbi, berilah hidayah hati ayah dan ibuku untuk sholat."

 

Sang ibupun berdiri, perasaan aneh telah menguasai dirinya saat dia mendengar 
doa tersebut. 'Ya Allah, berilah hidayah ayah dan ibuku untuk shoalt."

 

Diapun pergi kepada sang ayah untuk mengabarinya seraya berkata: "Berdirilah 
dan dengarkan apa yang diperbuat oleh anak kita." Sang ayah menyangka bahwa 
sang anak telah membakar dirinya sendiri atau ingin mencabut nyawanya sendiri.

 

Sang ayah datang dengan rasa kantuknya hanya demi menuruti istrinya. Tatkala 
dia sudah dekat dari kamar sang anak, dia mendengar desah-desahan yang 
bercampur dengan kalimat-kalimat yang menyentuh perasaan. Dia membuka pintu 
kamar, maka dia melihat sang anak sedang dalam keadaan sholat. Bukan hanya ini, 
bahkan dia tengah berdoa kepada Allah serta mengulang-ulang doa:

 

"Ya Allah, lapangkanlah dada ayah dan ibuku untuk sholat..."

 

Tatkala sang ibu melihat pemandangan yang menyentuh ini, mengalirlah air 
matanya, tergeraklah keinginannya, hilanglah darinya kegelapan, lalu diapun 
menghambur, memeluk dan meminang sang anak yang masih kecil.

 

Saat itu pula keimanan sang ayah tergerak yang diikuti dengan bercucurannya air 
mata dan tangisan. Maka terkumpullah padanya cahaya hidaya dan Allah subhanahu 
wa ta'ala telah melapangkan dadanya dengan kalimat-kalimat dari si kecil 
tersebut. Tidaklah sang ayah mampu menguasai jiwanya saat mendengar doa dari 
buah hatinya yang masih kecil tersebut kecuali dia segera bangkit lalu menimang 
dan memeluk si kecil dengan erat.

 

Saat itulah, saat kembali kepada Allah, sang ayah berkata kepada si kecil: 
"Allah subhanahu wa ta'ala telah mengabulkan doamu wahai buah hatiku."

 

Sejak saat itu, sang ayah tidak pernah meninggalkan sholat berjama'ah, 
sementara sang ibu menjadi sahabat mushollanya. Maka Maha Suci Allah yang telah 
memberikan hidayah kepada mereka, serta menganugerahi mereka kebaikan. Allah 
subhanahu wa ta'ala telah berfirman yang artinya: "Barangsiapa yang Allah 
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya 
untuk (memeluk agama) Islam dan barangsiapa yang dikehendaki Allah 
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, ...." (Q.S. 
Al-An'am: 125)

 

Sesungguhnya, itulah doa...Panah malam hari yang mampu mengetuk pintu-pintu 
langit. Maka tatkala siang hari datang dengan cahayanya, menjadi nyatalah 
pengaruh-pengaruhnya, serta menjadi tampaklah buahnya. Sesungguhnya doa itu 
telah mengetuk pintu langit. Sebuah batu tidak mungkin terpecah dengan sekali 
pukulan, maka haruslah diketuk berulang kali.

 

Selamat bagimu wahai anak kecil, dengan keinginan kuatmu yang manyampaikanmu 
kepada hasil yang gemilang.

 

Selamat bagimu wahai sang guru dengan pahala yang besar.

 

Selamat bagi anda wahai para pembaca budiman yang membaca kisah ini.

 

Allah telah memelihara kedua tangan kecil yang memegang semangat dakwah kepada 
Allah subhanahu wa ta'ala. Dua buah tangan yang di dalamnya bercampur 
kekanak-kanakan dan kedewasaan, kecintaan dan kemauan. 

 

Maka dimanakah kemauan kita bila dibandingkan dengan kemauan si kecil ini? 
Bagaimanakah jerih payah kita terhadap keluarga dan kerabat kita? Mudah-mudahan 
Allah subhanahu wa ta'ala memberikan keselamatan dan afiah kepada kita semua.

 

Oleh Ibrahim bin Mubarak (Imam Khatib Jami' Ali bin Abi Thalib di kota Ihsa')

Dikutip dari Majalah Qiblati edisi 10 / III, Juli 2008 / Jumada ats-Tsaniyah - 
Rajab 1429 H



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke