---------- Forwarded message ----------
From: mulya disaputra <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sat, Aug 2, 2008 at 10:38 AM
Subject: [Agricultural Engineering 37] Fw: [cetivasi] Terima Kasih Ibu
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]




--- On *Tue, 7/29/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [cetivasi] Terima Kasih Ibu
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tuesday, July 29, 2008, 9:54 PM

  *Terima Kasih Ibu*



Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak
laki-laki dari sebuah keluarga yang amat sederhana. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bagian nasinya
untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata, "Makanlah nak,
aku tidak lapar." Dan setelah aku dewasa aku baru tersadar bahwa saat itu
ibu telah berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya
selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni
demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan
bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan
segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa
daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat
itu tentu saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi
ibu dengan cepat menolaknya. "Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan
daging ikan," tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali
berbohong.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah
itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya
dari tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya
itu. Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam
menunjukan pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya
untuk istirahat dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu,
sementara ia beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah
meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang
malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri
dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang mensehati
ibu untuk kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia
tak butuh cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi
keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering
mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu
berkeras tidak mau menerima uang tersebut. "Gunakan saja uang itu untuk
keperluan kalian, saat ini ibu tak membutuhkan uang kalian." Entah sudah
berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia
harus dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus
segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang
terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian
perutnya.

Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun
senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh
ibuku, sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku
sambil berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam
keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, "Jangan menangis
anakku, aku tidak kesakitan." Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kebohongannya- kebohongannya, ibuku tercinta menutup
mata untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan
kita, merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong
demi membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para
ibu kita yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita.
Sudah berapa lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang
dengan mereka cuma karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan
pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau
apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping
kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua
kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan lagi. Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi
orangtua, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "menyesal" di
kemudian hari. (rn)




 

Kirim email ke