Kenapa setiap kali kita memperingati Dirgahayu Republik Indonesia kita
seringkali mendengar pidato-pidato formal persuasif yang mengajak kita untuk
lebih meningkatkan nasionalisme, ajakan untuk bersatu melakukan
perubahan-perubahan demi Indonesia yang lebih baik. Soekarno sendiri pernah
bilang, "Jangan tanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi tanyalah
apa yang sudah kamu berikan pada negara". Dan di akhir pidato, selalu ada
teriakan "MERDEKA". Apa iya kita sudah merdeka? Atau barangkali teriakan itu
ditujukan untuk mengajak kita berusaha merdeka karena kita sampai saat ini
belum benar-benar merdeka? Atau kalau boleh apatis, barangkali pidato persuasif
itu disampaikan tidak untuk mengajak kita bersatu melakukan perubahan, tapi
lebih untuk mengajak kita berangan-angan.
Kalau kita merasa belum mampu berbuat sesuatu untuk mengubah indonesia menjadi
lebih baik, setidaknya kita sudi meluangkan sedikit waktu untuk berdoa demi
indonesia yang lebih baik. Indonesia yang bisa meraih paling tidak 17 emas
dalam setiap ajang olimpiade, yang kebijakan presidennya tidak dipengaruhi oleh
fluktuasi harga minyak dunia, Indonesia yang produk home industry-nya bisa
disejajarkan dengan produk-produk Apple, atau barangkali Indonesia yang bebas
dari sinetron dan telenovela. Kalaupun suatu saat doa kita belum mampu mengubah
Indonesia menjadi lebih baik, setidaknya kita sudah membuktikan ucapan HAMKA,
mati cina karena harta, mati belanda karena pangkat, mati melayu karena
angan-angan.
Setidaknya di tahun ke-63 Dirgahayu Indonesia ini kita belum kehilangan
kebebasan berangan-angan dan berdoa. Dan ketika kita sudah mati, anak cucu kita
akan tetap mewarisi angan-angan itu sampai lahir seorang Jules Verne yang
menuliskannya dalam bentuk novel futuristik, yang mungkin akan diberi judul "A
Brand New Indonesia".
Selamat Dirgahayu Republik Indonesia. Berilah sesuatu kepada dirimu sendiri dan
orang-orang terdekatmu sebelum kamu memberi sesuatu kepada negara.