“Saya mohon maaf lahir
& batin jika ada lisan yang tak terjaga, janji yang terabaikan, hati yang
berprasangka dan sikap yang menyakitkan. 
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Semoga kita menjadi muslim yang lebih baik setelah Ramadhan ini. Amiin.”
 
 
Begitulah dan semacam itulah
pesan-pesan yang tertera di handphone, yahoo messenger maupun di e-mail inbox.
Ini baru bulan Ramadhan. Apalagi
nanti kalau Idul Fitri, pesan-pesan yang terkirim lebih membludak lagi. 
Masya Allah…
 
Sebenarnya, apakah memang kita
diwajibkan untuk minta maaf sebelum memasuki Ramadhan? 
Dan nanti pada saat merayakan
Idul Fitri, apakah kita perlu meminta maaf lagi? 
Bagi sebagian orang, budaya
minta maaf ini bahkan menjadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan, 
berupa kartu lebaran, SMS
lebaran, dan parsel. 
 
Seorang muslim di Jerman yang
cukup kritis segera menanyakan hal itu pada seorang Ustadz, dan beliau menjawab
dengan bijaknya.....
 
“Betapa banyaknya waktu,
biaya, dan tenaga yang kita butuhkan,
jika kita diwajibkan untuk
meminta maaf pada semua orang yang kita kenal sebelum memasuki Ramadhan. 
Apalagi kalau nanti diulangi
waktu Idul Fitri. 
 
Bayangkan, jika kita punya 1.000
saudara dan teman, apa kita harus mengirim SMS,menemui atau menelpon mereka
semua. 
Lalu bagaimana jika ada yang
tidak mau memaafkan? Akan sia-sialah usaha kita itu ...”
 
Bukankah Allah SWT telah
memerintahkan setiap orang untuk bersabar dan memberi maaf, 
sebagaimana firman-Nya dalam QS
Asy Syuura 42:43. 
 
”Tetapi orang yang
bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diutamakan“.
 
 
Hal itu makin diperkuat dengan
firman-Nya yang lain dalam QS An Nuur 24:22. 
 
“Dan janganlah orang-orang
yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka 
(tidak) akan memberi (bantuan)
kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang
berhijrah pada jalan Allah, 
dan hendaklah mereka memaafkan
dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? 
Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.”
 
Ayat ini turun berkenaan dengan
sumpah Abu Bakar RA. yang merasa sakit hati pada para penyebar fitnah terhadap
‘Aisyah RA., 
isteri Rasulullah SAW yang
tertinggal dari rombongan dalam suatu perang. 
Salah satu di antara orang-orang
tersebut adalah Misthah, seorang kerabat fakir, yang diancam oleh Abu Bakar RA.
untuk tidak lagi disantuni.
 
Allah SWT melarang beliau
melaksanakan sumpah tersebut, dan justru menyuruh memaafkan dan berlapang dada
pada mereka, 
sesudah mereka mendapat hukuman
atas kesalahan mereka. 
Setelah itu, Abu Bakar RA.
berkata, ”Demi Allah, sesungguhnya aku mengharap ampunan dari
Allah”. 
 
Jadi, jika kita dalam posisi
melakukan kesalahan baik kepada Allah maupun terhadap sesama manusia, 
Allah SWT memerintahkan kita
untuk beristighfar dan mengharap ampunan-Nya. 
Jika kita dalam posisi merasa
dizalimi seorang mukmin, 
maka kita diperintahkan-Nya
untuk memberi maaf dan berlapang dada kepada orang tersebut 
(walya’fuu walyashfahuu --
hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada). 
 
Itu pulalah yang bisa kita
teladani dari Nabi Ya’qub AS. dan Nabi Yusuf AS. 
Kedua nabi yang merupakan bapak
dan anak itu terpisah akibat perbuatan zalim saudara-saudara yang dengki kepada
Nabi Yusuf AS. 
Ketika akhirnya mereka mengakui
perbuatan dosa mereka kepada Nabi Yusuf AS., 
beliau justru berkata,
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah
mengampuni (kamu), 
dan Dia adalah Maha Penyayang di
antara para penyayang.” (QS Yusuf 12:92). 
 
Begitu pula, ketika mereka
memohon ampunan kepada ayahnya, Nabi Ya’qub AS. malah berkata, 
“Aku akan memohonkan ampun
bagimu kepada Tuhanku. 
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yusuf 12:98).
 
***
 
Subhanallah. Begitu indahnya
Islam. 
Lebih indah lagi jika kita juga
memintakan ampunan untuk sesama mukmin, baik yang kita kenal atau tidak, 
sebagaimana firman Allah SWT
dalam QS Muhammad 47: 19: 
 
“... mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan...”. 
 
Memberi maaf dan berlapang dada
adalah cerminan ketakwaan kita dalam menghadapi ujian dari-Nya. 
Jadi, “saling
memaafkan“ itu lebih tepat dimaknai sebagai ”saling memberi
maaf“ daripada ”saling minta maaf“.
 
Meminta maaf atau memohon
ampunan hanya wajib ditujukan kepada Allah SWT, yaitu dengan istighfar. 
Mengapa demikian? 
Karena Dia sajalah Yang paling
berhak menetapkan atau (justru) menggugurkan dosa atau pahala sesuai dengan
kehendak-Nya. 
 
 
Sebuah kisah tentang seorang
lelaki Anshar, tamu dari Anas bin Malik ra. 
Ia adalah seorang muslim biasa
dengan amalan biasa, bukan sahabat Nabi, bukan pula seorang tokoh Arab Quraisy, 
tapi Rasulullah SAW menyebutnya
“calon penghuni surga”, suatu julukan yang istimewa. 
 
Sewaktu diselidiki, seakan tidak
ada amalan yang melebihi Anas bin Malik RA., baik pada shalat fardlu dan
qiyamul lail-nya, 
atau perkataannya yang jujur.
Kemudian ia berkata, 
“Aku tidak memiliki
keistimewaan apapun, kecuali bahwa aku tidak pernah menyimpan hasrat dalam hati
untuk menipu sesama manusia 
dan menaruh rasa dengki kepada
seseorang lantaran kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya.” 
 
Sikap inilah yang telah
mengangkat derajatnya menjadi penghuni surga sebagaimana yang disabdakan
Rasulullah SAW.
 
***
 
Mari kita bayangkan. Jika diri
kita sadar bahwa perbuatan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) 
diancam Allah SWT dengan azab
yang jauh lebih keras di akhirat kelak daripada hukuman penjara di dunia, 
maka kita akan bersegera
melakukan istighfar dan taubat. 
 
Kemudian jika kita selalu ikhlas
memberi maaf dan berlapang dada kepada sesama manusia, 
maka Insya Allah kita akan hidup
aman, damai, dan sejahtera. 
Semua itu dapat kita lakukan
setiap saat, tidak perlu menanti hingga momentum Ramadhan atau Idul Fitri. 
 
Insya Allah dengan demikian,
krisis multi dimensi yang melanda hingga saat ini akan lebih cepat teratasi. 
Amin. 
 
 
Dan pada kesempatan ini pula
izinkan saya memohon maaf jika ada lisan yang tak terjaga, 
janji yang terabaikan, hati yang
berprasangka dan sikap yang menyakitkan. 
 
Selamat mempersiapkan diri
menyambut bulan penuh ampunan rahmat, nikmat & barokah-Nya.
Selamat menjalankan ibadah
puasa, semoga ramadhan ini lebih baik dari yang silam.
Semoga kita menjadi muslim yang
lebih baik setelah Ramadhan ini.
Amin.

Arief Laila Nugraha
Teknik Geodesi - Undip
[EMAIL PROTECTED]

081802403435



      

Kirim email ke