Dear teman2 milist,

Maaf baru sempat buka milis, walaupun terlambat dan masih di Bulan 
Puasa saya mengucapkan permohonan maaf kepada teman2 milis Cah Ndemak 
yang dengan perkataan atau tulisan yang menyakiti perasaan teman2 di 
milis ini. Demikian juga sebaliknya sehingga kita dapat benar2 
melaksanakan halalbihalal (yang menurut Gus Mus bukan istilah atau 
tradisi Arab)...

Salam,

D4us

NB: terlampir mungkin ada sebuah cuplikan dari milis lain yang bisa 
dibaca sambil ngabuburit.....


*KH. Luqman Hakim *

*Menyongsong Perdamaian Dunia dengan Sufisme Islam*

Dunia sufi, sebagai inti sari Islam, sebenarnya berpotensi besar untuk
berkontribusi bagi terciptanya perdamaian dunia. Dengan menyelami 
sufisme,
umat Islam diharapkan tidak lagi mencerna suatu masalah dari apa yang 
tampak
di permukaan, tetapi dapat memandang segala sesuatunya dari sisi 
hakikat.
"Melalui sufisme, manusia diajak untuk berserah diri secara total 
kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa," ujar KH Luqman Hakim (46), 
pembimbing dan pengajar dunia sufi di Jakarta. **

Bagi sufisme, proses menjalani takdir kehambaan merupakan hal penting.
Ketika nilai-nilai sufisme sudah dipraktikkan dalam diri, seseorang 
bisa menjadi semakin spiritualis. "Ia tidak lagi akan kaku di dalam 
memandang segala persoalan," tutur Kiai Luqman, yang juga menjabat 
sebagai Pemimpin Redaksi Majalah *Sufi* serta jadi pengasuh majelis 
pengajian sufi di Jabodetabek. Kelenturan di dalam memandang suatu 
persoalan itulah yang pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi 
bagi upaya-upaya menciptakan perdamaian dunia.

*SP* berkesempatan berbincang dengan KH. Luqman Hakim di The WAHID
Institute, seusai pengajian "Sufi Islam dan Perdamaian Dunia" yang
diselenggarakan untuk menyambut ulang tahun ke-4 The WAHID Institute, 
Senin (8/9) malam.

Apa inti sari pengajaran di dunia sufi, berikut wawancara khusus *SP* 
dengan KH. Luqman Hakim, sang mursyid sufisme.

*Mengapa tertarik menekuni sufisme? *

Sufisme adalah pilihan yang tidak ditekuni banyak orang. Dunia sufi 
itu sebenarnya soal *nucleus*, yakni inti sari Islam itu sendiri. 
Spiritnya. Kami mencoba membangun sumber-sumber air yang lebih jernih 
di Jakarta sebagai wilayah perkotaan, supaya keterasingan seseorang 
dalam kehidupan per- kotaan tidak *membikin* dia kian gersang secara 
spiritual. 

Ada ayat yang sering dikutip kaum pluralis, yakni, "*Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku 
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling 
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa 
di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha 
Mengenal* (QS Al-Hujurat:13) ".

Isilah *li ta'arafu *dalam ayat itu maknanya banyak sekali. Tetapi, 
dalam perspektif sufi, *li ta'arafu* bukan sekadar kenal-mengenal dan 
saling mencerdaskan, melainkan juga saling mengenalkan kemakrifatan 
Allah kepada sesama.

*Untuk mengatasi kegersangan jiwa, apa yang bisa dilakukan dengan 
sufisme? *

Ketika jiwa gersang, manusia sedang melesat keluar dari orbit 
spiritnya. Dia mencoba membangun kerajaan sendiri, atau planet-planet 
sendiri, di dalam hidup ini. Manusia kemudian terlepas dari fitrahnya.

Dunia sufi adalah dunia paling primordial dalam spirit dunia Islam, 
yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, 
yang kemudian disempurnakan para sufi. Saya hingga sekarang masih 
optimistis, nilai-nilai sufistik adalah nilai-nilai yang bisa 
mendamaikan dunia. Sebab, sufi memandang segala sesuatu tidak dengan 
kaku. Misalnya, kotoran bagi orang-orang syariat tentu dipandang 
sebagai najis yang harus disingkirkan. Tetapi, sufi tidak memaknai 
kotoran cuma dengan cara seperti itu. Bagi penganut sufisme, kotoran 
tidak semata-mata dipandang najis, tetapi bisa juga untuk pupuk.

*Bisa disimpulkan sufisme memandang segala sesuatu tidak dari tampilan
permukaan, tetapi dari hakikat? *

Dalam wacana sufi ada pengungkapan yang berbunyi semacam ini, "Cahaya 
para sufi mendahului wacananya". Sementara itu, para ulama cenderung 
punya pendekatan, "Wacana para ulama dan cendekiawan mendahului 
cahayanya". Jadi, para sufi berpendapat, bukan karena adanya dorongan 
'oh, enaknya saya berkata seperti itu' lalu ia berkata seperti itu, 
tetapi memang karena sudah seharusnya ia berbicara seperti itu.

Munculnya wacana menjadi bagian sistematik kosakata yang bergantung 
pada kebiasaan-kebiasaan intelektual seseorang. Kalau dia seorang 
penyair, kalimat-kalimatnya menjadi syair yang indah. Wacana hanya 
menjadi semacam * screen*.

*Banyak ulama berpendapat, tasawuf hendaknya didalami jika telah 
memiliki fondasi syariat yang kuat. Anda sepakat? *

Sufisme tidak melakukan pemosisian semacam itu. Manusia kenyataannya 
adalah satu kesatuan organisme, sehingga baik hakikat maupun syariat, 
harus berjalan berbarengan. Bagi sufi, manusia mempunyai aspek 
lahiriah dan batiniah. Apabila berpuasa, misalnya, kita harus ikhlas. 
Salat juga harus khusyuk. Bagi saya, sufisme berada di wilayah 
khusyuk, ikhlas, dan rela.

Mendalami sufisme tidak harus dihadapkan pada persoalan manakah yang 
harus didahulukan, apakah hakikat ataukah syariat. Maka, dibutuhkan 
seorang mursyid, sang pembimbing yang bisa menata perilaku 
pertumbuhan batin seseorang dengan Tuhannya, Allah. Di bawah 
bimbingan seorang mursyid, diharapkan tidak ada konflik antara 
pikiran dan hati.

*Tetapi, bagaimana kita bisa mendalami hakikat sesuatu apabila 
syariat saja belum sempurna dilaksanakan? *

Sepanjang manusia masih terikat ruang dan waktu, aspek lahiriah berupa
pelaksanaan syariat memang harus semacam itu. Kalau manusia tidak 
kenal ruang dan waktu, oleh syariat dia tidak diwajibkan. Misalnya, 
orang gila, pingsan, atau tertidur, tidak diwajibkan salat.

Kesadaran ruang dan waktu pasti hubungannya dengan aspek fisikal. 
Tuhan mewajibkan orang salat karena manusia masih berada di dunia. 
Alam fisikal semesta ini bergantung pada orang salat. Tidak heran 
apabila ada ungkapan bahwa kiamat akan ditunda sepanjang ada manusia 
masih menyeru, "Allah, Allah, Allah!"

Salat berbentuk sujud dan rukuk karena memiliki makna-makna luar 
biasa yang berhubungan dengan gerak-gerik kosmologis dan astrologis, 
yaitu semesta raya ini. Kalau umat Islam sepakat, bahwa untuk selama 
satu jam seluruh  umat Islam di bumi ini berhenti salat, saya yakin 
planet-planet di seluruh alam semesta ini akan bertubrukan. Sebab, 
salat memang aspek lahiriah yang harus ditunaikan. Sufisme itu 
sendiri hanya ingin mengantarkan, supaya ketika orang salat secara 
lahiriah, batin dia juga harus ikut salat.

*Pencapaian apa yang diharapkan bisa diraih dengan mendalami 
sufisme? *

Sufisme sebenarnya hanya untuk memosisikan kembali bahwa kita, 
manusia, adalah hamba dengan segala haknya, dan Allah adalah Tuhan 
dengan segala hak-Nya. Jadi, jangan sampai ada lagi pertanyaan ketika 
manusia menghadap Tuhan nanti. Sebab, ketika besok kita menghadap 
Allah, tidak akan ada lagi pertanyaan dari diri kita begitu sampai di 
hadapan Dia. Yang ada hanya "bengong abadi" dalam transformasi 
kenikmatan yang terus-menerus.

Penyadaran-penyadar an itu perlu mendekonstruksi cara pandang 
kemudian. Misalnya, mayoritas umat Islam selalu mengandalkan amal 
kebajikan. Seakan-akan amal kebajikan itu paspor untuk masuk ke 
surga. Dunia sufi membongkar hal-hal semacam itu. Dinolkan kembali. 
Jadi, yang diandalkan manusia itu seharusnya yang menciptakan amal 
kebajikan, yakni Allah. Yang diandalkan bukanlah amal kebajikan 
semata.

*Penyerahan diri secara total kepada Tuhan apakah tidak cukup 
dilakukan dengan syariat? *

Tidak. Ada kalimat Imam Maliki yang mengatakan, "Siapa yang melakukan
syariat tanpa tasawuf, dia bisa fasik". Artinya, dia menjadi orang 
yang keras kepala, sombong, merasa paling hebat dan benar sendiri. 
Sebaliknya, "Siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat, dia akan 
*zindiq*". Di situ, kehadiran Tuhan hanya dipersepsikan secara 
kebatinan belaka. Cuma semata-mata berbekal *eling*. Sufisme berupaya 
memosisikan kembali, bahwa jika manusia mengenal Tuhan itu Maha Esa, 
maka apa hubungan diri dia dengan keesaan Tuhan itu sendiri.

Saya berpendapat, sufisme mengalami penyimpangan kalau dia 
meninggalkan syariat. Memang, ada orang yang kelihatan tidak 
bersyariat. Tetapi, hal itu karena dia sudah melesat dari batasan-
batasan ruang dan waktu. Ada suasana ekstase. Tetapi, suasana ekstase 
itu pun merupakan proses, dan bukan sesuatu yang bersifat final.

*Bagaimana sufisme Islam bisa berkontribusi bagi perdamaian dunia? *

Sufisme adalah salah satu nilai yang kalau dipraktikkan seseorang, 
maka dia bisa semakin spiritualis apa pun profesinya. Sebab, di dalam 
sufisme, ada proses perlawanan terus-menerus terhadap diri sendiri. 
Dari sinilah seseorang membangun paradigma atau cara pandang hidup 
yang sering kali jadi berbeda.

Ada berbagai nilai yang ingin saya kembangkan dalam literatur-
literatur komunitas sufi, misalnya "Doa lebih utama daripada 
dikabulkan", "Berjuang lebih utama daripada sukses", dan "Beribadah 
lebih utama daripada pahala". Sebab, orang-orang sering hanya mencari 
ijabah, pahala, dan sorga. Itu semua adalah nafsu. Bagi sufisme, yang 
terpenting adalah proses menjalani takdir kehambaan.

*Dari sudut pandang sufisme, bagaimana Anda memandang umat Islam di
Indonesia saat ini? *

Ada posisi umat Islam di negara ini yang mirip orang "*kebelet*" mau 
ke kamar kecil. Saking tidak sabaran, ia menggedor-gedor pintu. Islam 
"*kebelet *" ini dengan modal pengetahuan dia yang sedikit tentang 
Islam, ingin agar segala sesuatunya selesai atas nama Islam.

Nah, setelah masuk ke bilik air, ada yang namanya Islam "*ngeden*"
(mengejan, Red). Ia paksakan segala sesuatunya atas nama Islam, tetapi
sesungguhnya itu nafsu belaka.

Para sufi sering kali menganjurkan anekdot itu. Ketika ingin menghadap
Tuhan, jangan kita seperti orang "*ngeden*". Orang yang sangat ingin 
cepat selesai, *kepingin* instan. Ada ayat yang sering diklaim oleh 
para penganut Islam "*kebelet*" ini, yaitu "Masuklah Islam secara 
*kaffah*". Tetapi, bagi para sufi, lebih tepat jika anjuran yang 
disampaikan kepada manusia adalah "Masuklah ke dalam perdamaian 
secara total".

*Mengapa konflik kekerasan banyak terjadi di negara-negara Islam, 
padahal tidak sedikit di antara mereka yang mengenal sufisme? *

Harus diingat, perdamaian semu juga sedang berkembang pesat. Artinya,
perdamaian hipokrit. Seakan-akan ada perdamaian. Ini sama halnya 
dengan demokrasi semu, yakni seakan-akan berdemokrasi. Di dunia Islam 
juga ada hal-hal semu semacam itu. Maka, saya cenderung menyebutkan, 
"Masuklah dalam perdamaian secara total", dan bukannya "Masuklah 
dalam Islam secara *kaffah*(total, Red)".

Di sini, paradigma perdamaian dalam dunia sufi mengacu pada perilaku. 
Sebab,hal ini yang akan membangun sebuah peradaban atau kultur. Hal 
ini harus dibangun melalui pendidikan tentang hak-hak kehambaan. 
Sebab, dengan kesadaran hak-hak sebagai seorang hamba, manusia akan 
punya "perasaan memiliki", yang pada akhirnya memunculkan perasaan 
cinta secara terus-menerus bersama Tuhan.

Melalui kebersamaan dengan Tuhan, kehidupan secara organis akan
proporsional. Kalaupun terjadi sesuatu yang menyangkut tindak 
kekerasan atau antiperdamaian, semuanya akan diselesaikan dengan cara-
cara seperti paradigma sufi.

PEWAWANCARA: ELLY BURHAINI FAIZAL

(*Suara Pembaruan*, Ahad, 14 September     r  2008 )

Kirim email ke