info milist tetangga
--- On Thu, 11/13/08, ZAINUDDIN LOSI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: ZAINUDDIN LOSI <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppi_ukm] RENCANA STRATEGIS AMERIKA SERIKAT UNTUK MENGUASAI INDONESIA
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, November 13, 2008, 6:35 AM
Sumber: http://hizbut- tahrir.or. id/2008/11/ 13/rencana- strategis-
amerika-serikat- untuk-menguasai- indonesia/
rencana strategis amerika serikat
untuk menguasai indonesia
(Rekomendasi Militer AS untuk Indonesia)
Disusun oleh: Lathifah Musa
HTI-Press. Ideologi manapun di dunia ini memiliki metode (thoriqoh/jalan)
untuk meluaskan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia. Metode perluasan
Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang saat ini masih mendominasi dunia, telah
berkembang sesuai zaman. Meski demikian, penjajahan tetap menjadi hal mendasar
dalam Kapitalisme. Baik untuk menyebarluaskan ideologi ataupun mengeksploitasi
negara-negara lain demi kepentingan para Kapitalis. Amerika Serikat memaksakan
dominasi politik, militer dan ekonomi di dunia Islam dalam rangka
mengeksploitasi manfaat-manfaat materialnya. Di samping itu AS juga berusaha
menyebarkan Kapitalisme pada banyak bidang, baik ekonomi, politik, pendidikan,
budaya dan lain-lain.
Khiththah Politik (Strategi Politik) didefinisikan sebagai politik umum
yang dirancang untuk mewujudkan salah satu tujuan yang dituntut oleh penyebaran
ideologi tertentu. Sedangkan uslub politik (cara-cara politik) adalah
politik khusus mengenai suatu bagian langkah yang mendukung perwujudan atau
pengokohan khiththah politik. Strategi politik memungkinkan senantiasa berubah
sesuai perubahan dan perkembangan konstelasi politik internasional.
Hal yang penting difahami adalah, bahwa ketika upaya menancapkan
hegemoninya belum berhasil maka negara-negara Barat tidak akan mengubah (fikroh
dan thoriqoh) ideologinya, namun hanya akan mengubah strategi (khiththah)
dan cara-cara (uslub) politiknya untuk merancang strategi dan cara-cara politik
baru. Di sinilah kaum muslimin harus mengetahui dan memahami rancangan strategi
politik dan cara-cara negara-negara Barat, khususnya AS dalam menancapkan
hegemoninya di Indonesia. Jika sebuah cara (uslub) politik dapat digagalkan,
akan hancurlah strategi (khiththah) politik dan akhirnya gagal pula rencana
musuh-musuh Islam. Hendaknya perjuangan politik kaum muslimin diarahkan untuk
membongkar strategi politik dan cara-caranya (kasyful khuththath), dan
pada saat yang sama diarahkan untuk memerangi ideologi Kufur (yakni memerangi
fikroh dan thoriqohnya) .
Tulisan ini mengungkapkan temuan media massa terhadap Rancangan Strategi
Politik AS di Asia Tenggara berikut cara-caranya. Sebagai wilayah muslim
terbesar dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, Indonesia menjadi perhatian
dan sasaran penting dalam Rancangan Strategis ini.
Dokumen Rencana Strategis
Dokumen The National Security Strategy of USA September
2006 menguraikan intisari sebuah konsep keamanan nasional AS yang
menitikberatkan pada konsekuensi- konsekuensi kondisi internal negara-negara
lain. Titik tekan yang dipandang sebagai akar masalah bagi AS pada
negeri-negeri muslim adalah kurangnya demokrasi (the lack of democracy).
Perhatian terhadap keamanan fisik warga dan teritori AS pada waktu yag sama
harus diiringi pemahaman bahwa menghilangkan ancaman ”terorisme” (Islam
ideologis dipandang juga sebagai inspirasi teror terhadap eksistensi AS) bukan
hanya membawa persoalan tersebut ke pengadilan dan menghapuskan kapasitas
operasi para teroris, namun juga harus menyelesaikan ”akar penyebab” terorisme.
Departemen Pertahanan Keamanan AS dalam Quadrennial Defense Review
Report 2006, memandang bahwa keterlibatan AS dalam peperangan tidaklah
hanya di medan pertempuran sesungguhnya, namun juga dalam kancah perang
ide/pemikiran. Dokumen RAND Corporation 2006 bertajuk Building Moderate Muslim
Networks menyebutkan kemenangan AS yang tertinggi hanya bisa dicapai ketika
ideologi Islam (yang AS menyebut sebagai ideologi para ekstrimis. red)
didiskreditkan dalam pandangan mayoritas penduduk di tempat tinggal mereka dan
di hadapan kelompok yang diam-diam menjadi pendukungnya. (Today, as
recognized by the Defense Department in its Quadrennial Defense Review Report,
the United States is involved in a war that is “both a battle of arms and a
battle of ideas,” a war in which ultimate victory will be achieved only “when
extremist ideologies are discredited in the eyes of their host populations and
tacit supporters.”)
Memoderatkan Muslim Indonesia
Strategi politik AS untuk menguasai Indonesia adalah dengan strategi
menghidupkan
kultur moderat yang kuat di negeri ini. Dengan cara inilah diharapkan akan
muncul perlawanan terhadap Islam Ideologi dan menguatkan dukungan terhadap
berbagai kebijakan Amerika yang menunggangi jargon-jargon Demokrasi-HAM dan
Kesetaraan Gender.
AS melakukan klasifikasi sekaligus karakterisasi sesuai kepentingannya
bahwa muslim-muslim moderat adalah mereka yang saling berbagi dimensi-dimensi
kunci dari kultur demokrasi. Inilah yang akan menjadikan Indonesia terkendali
di bawah AS. AS menentukan bahwa muslim moderat yang diinginkan AS memiliki
sikap-sikap antara lain :
1. Mendukung demokrasi dan HAM yang difahami secara internasional
(HAM versi Amerika)
2. Menghargai perbedaan/keragaman terutama penghargaan terhadap
kesetaraan gender dan minoritas relijius (Perbedaan dalam konteks pluralisme
bukan pluralitas)
3. Penerimaan terhadap sumber hukum non sektarian (tidak menerima
hukum yang bersumber dari syariat Islam karena disebutkan intepretasi syariah
tidak kompatibel dengan demokrasi)
4. Perlawanan terhadap terorisme dan bentuk-bentuk
kekerasan lainnya yang tidak legitimate (bentuk legitimate ini telah
memiliki bingkai tersendiri, sebagaimana yang disahkan dalam konferensi dan
konvensi internasional)
Strategi untuk membangun Jaringan MuslimModerat
Strategi umum untuk membangun Jaringan Muslim Moderat dilancarkan melalui
4 langkah yaitu pendidikan demokrasi, media, kesetraan gender dan advokasi
kebijakan.
1. Pendidikan
Demokrasi
Secara khusus diwujudkan dalam program-program dengan
menggunakan teks-teks dan tradisi-tradisi Islam untuk pengajaran yang mendukung
nilai-nilai demokrasi dan pluralistik. Perintah-perintah
dalam agama dan politik yang dipandang sektarian, sangat sempit dan terbelakang
disebarkan dengan radikal dan konservatif. Dengan demikian madrasah-madrasah
harus dimasuki oleh sebuah kurikulum yang mempromosikan demokrasi dan
nilai-nilai pluralistik. Sebagaimana di berbagai wilayah yang lain dimana agama
dan masyarakat saling bersilangan (berhadapan) , Indonesia adalah pemimpin dalam
pendidikan demokratis yang relijius. Universitas Islam Negeri dan sistem
pendidikan Muhammadiyah telah mengembangkan teksbook untuk mengajarkan
pendidikan sipil dalam konteks Islami. Mata ajaran tersebut bersifat wajib
untuk seluruh mahasiswa yang memasuki universitas- universitas ini. Beberapa
pengajar muslim meskipun memiliki watak
moderat, kurang kemampuannya untuk mengkaitkan pengajaran Islam secara
eksplisit dengan nilai-nilai demokrasi.
Sebagai tanggapan terhadap kelemahan tersebut, Asia
Foundations telah mengembangkan sebuah program untuk membantu usaha-usaha ulama
moderat menggali teks dan tradisi bagi pengajaran yang otoritatif yang
mendukung nilai-nilai demokratis. Hasilnya adalah sekumpulan bahan penulisan
fiqih (hukum-hukum Islam) yang mendukung demokrasi, pluralisme dan kesetaraan
gender. Teks-teks ini berada dalam jalur pemikiran muslim yang progresif dan
sangat dibutuhkan secara internasional.
Institusi-institusi seperti Lembaga Kajian islam
Sosial (LKiS) yang berbasis Nahdlatul Ulama memegang suatu prinsip bahwa
dibandingkan menciptakan sekolah-sekolah Islam secara khusus, muslim seharusnya
menjamin bahwa semua institusi ditanamkan dengan nilai-nilai keadilan sosial
dan toleransi. “I” pada LKiS (yang bermakna islam) dengan bebas ditulis dalam
huruf kecil untuk menggarisbawahi bahwa LKiS melawan tipe-tipe islamisme yang
menitikberatkan pada superioritas Islam diatas agama lainnya. LKiS secara
khusus terlibat dalam training-training pesantren, sekolah-sekolah terpadu
Islam. Dampak dari kerja ini adalah munculnya gerakan-gerakan demokrasi muslim
yang berhubungan erat di Indonesia dengan beberapa kriteria unik : (1) ulama
pria yang berkampanye untuk kesetaraan gender dan (2) organisasi yang berbasis
akar rumput yang memberikan kapasitas bagi gerakan untuk mencapai jangkauan
yang luas pada tingkat akar rumput dalam satu langkah yang tidak bisa dicapai
oleh kelompok-kelompok sekular berbasis perkotaan.
2. Media
Dilakukan dengan mendukung media-media moderat. Hal
ini sangat penting untuk melawan dominasi media yang anti demokrasi dan
didukung oleh elemen muslim konservatif (maksudnya muslim ideologis)
Penyebaran/ diseminasi informasi pada sebagian besar
dunia muslim didominasi oleh elemen- anti demokrasi yang radikal dan
konservatif. Pada faktanya, tidak ada media-media moderat pada beberapa negara.
Sebuah alternatif bagi media radikal adalah alat kritis dalam perang ide.
Indonesia menyediakan sebuah model dengan sejumlah
contoh media moderat “agama dan Toleransi” yang mencapai hingga 5 juta
pendengar. Program radio mingguan Jaringan Islam Liberal melalui 40 stasiun
radio. Institut untuk Advokasi warga negara dan pendidikan memproduksi radio
talk mingguan yang mencapai pendengar hingga 1 juta melalui lima stasiun radio
di Sulawesi Selatan. Stasiun Televisi TPI, menampilkan opini mingguan dalam
tema kesetaraan gender dan Islam yang mencapai 250.000 pemirsa di Jakarta.
Talkshow TV bulanan tentang Islam dan Pluralisme yang mencapai 400.000 pemirsa
di Jogjakarta. Media-media moderat ini telah menghasilkan dampak dalam
perubahan suara diskursus Islam di Indonesia.
3. Kesetaraan Gender.
Isu hak-hak perempuan adalah sebuah medan pertarungan
utama (major battleground) dalam perang ide di dunia Islam. Promosi
kesetaraan gender adalah komponen kritis dari beberapa proyek untuk
memberdayakan muslim moderat. Nuriyah, istri Gusdur misalnya telah
mempublikasikan studi exegetical yang bertujuan untuk menghapuskan
poligami melalui reintepretasi konsep Al quran. Nuriyah menyimpulkan bahwa
Qurani ideal adalah monogami dan bahwa adalah hak perempuan untuk secara bebas
memilih pasangan seharusnya tidak dibatasi. AS mendukung beberapa pesantren
yang berafiliasi dengan NU- yang mendirikan crisis center untuk
korban-korban kekerasan domestic, publikasi tulisan terkait isu-isu perempuan
dalam fiqh serta membangun jaringan muslim moderat dari NGO-NGO yang
mempromosikan keadilan gender seperti Rahima dan Fahmina. Beberapa isu
potensial yang digarisbawahi antara lain terkait status personal perkawinan,
perceraian, penahanan anak-anak, pewarisan dan tuduhan bahwa perempuan terancam
perlakuan diskriminatif di bawah syariah.
4. Advokasi
kebijakan.
Kelompok Islam memiliki agenda-agenda politik dan
karenanya muslim moderat sekuler, liberal juga harus terlibat dalam advokasi
kebijakan sebagaimana kelompok Islam. Aktivitas advokasi sangat penting untuk
membentuk lingkungan politik dan hukum dalam dunia Islam. Advokat-advokat
kepentingan publik dan kelompok-kelompok advokasi (aktivis HAM, pemantau
korupsi, think tanks dll) pada faktanya telah berkembang di dunia
Islam dewasa ini dan peran mereka sangat diperlukan oleh AS.
Pilar-pilar Jaringan Pengembangan Muslim Moderat
Untuk mencapai keberhasilan strategi ini, diperlukan jaringan-jaringan
yang akan menanamkan dan mengembangkan kultur moderat ini. Di wilayah Asia
Tenggara, pilar-pilar jaringan ini meliputi:
Sekolah-sekolah Islam, Institusi pendidikan
relijius moderat (Pesantren dan Madrasah) Universitas- universitas Islam.
Media Institusi-institusi pembangun Demokrasi (Democracy-Building
Institutions)Usaha pembangun jaringan regional (Regional
Network-Building Efforts)
Partner Kunci Keberhasilan Strategi
Demi kesuksesan rencana, diperlukan partner-partner kunci yang mengemban
ideologi atau mendukung pengembangan ideologi
Kapitalisme- Sekularisme- Liberalisme. Mereka ini antara lain:
Intelektual dan akademisi muslim liberal dan
sekuler (Liberal and secular muslim academic and intellectuals)Kelompok
terdidik muda yang moderat dan relijius
(young moderate religious scholar)Aktivis-aktivis komunitas (community
activist)Kelompok-kelompok perempuan yang terlibat dalam
kampanye kesetaraan gender women (groups engaged in gender equality
campaigns)Penulis dan jurnalis moderat (moderates
journalist and writers)
Upaya-upaya Membangun Jaringan Regional
Dokumen RAND tersebut juga menyebutkan bahwa Asia Tenggara adalah
panggung regional utama dalam upaya menghubungkan muslim moderat lokal dan
nasional dan organisasi dengan jaringan regional. Sebagai pelopor dari usaha
ini adalah International Center for Islam and Pluralism (ICIP) yang
didirikan di Jakarta dengan dukungan Asia Foundation. Misi ICIP adalah
membangun jaringan NGO muslim dan aktivis muslim progresif dan intelektual di
Asia Tenggara (dan secepatnya di seluruh dunia) dan bertindak sebagai kendaraan
untuk menyebarluaskan ide-ide para pemikir muslim moderat dan progresif secara
internasional. ICIP telah melakukan workshop-workshop regional tentang Islam
dan Demokrasi, yang pertama di Manila bersama dengan PCID pada September 2005
dan yang kedua di Jakarta pada Desember 2005. Menteri Luar Negeri Thailand
Surin Pitsuwan bahkan telah menyarankan untuk memanfaatkan ICIP untuk
menghubungkan komunitas pondok di Thailand Selatan dengan pesantren progresif
di Indonesia.
Penutup
Pengkajian yang mendalam tentang khiththah politik negara-negara
Kapitalis terhadap negeri-negeri muslim sangatlah penting dan mendesak untuk
dilakukan. Secara khusus bagi para pengemban dakwah di Indonesia yang memiliki
harapan dan cita-cita untuk menyelamatkan negeri ini dengan penegakan Khilafah
Islamiyah. Dengan demikian, perjuangan politik menjadi lebih fokus untuk
membongkar serta melawan strategi politik dan cara-cara yang dilancarkan
musuh-musuh Islam.
Penguasaan terhadap konstelasi politik internasional dan pengaruhnya
dalam skala nasional akan memudahkan kita untuk merancang cara-cara baru dan
kreatif dalam rangka mengubah pemikiran dan perasaan umat. Kemampuan membaca
jaringan-jaringan
musuh dan membangun jaringan-jaringan ideologis di tengah-tengah umat akan
menghancurkan jaringan musuh yang sesungguhnya lebih rapuh daripada sarang
laba-laba. Hal ini sekaligus akan memberi jalan untuk meraih kepemimpinan di
tengah umat.
Satu kunci keberhasilan bagi pengemban dakwah hanyalah senantiasa
berpegang teguh pada fikroh dan thoriqoh di atas landasan aqidah Islam. Semoga
Allah SWT akan memberikan kecemerlangan berfikir untuk menggulirkan strategi
politik yang tinggi dengan cara-cara yang benar dan tepat.
Wallaahu a’lamu bish shawab.
SUMBER:
KONSEPSI POLITIK HIZBUT TAHRIR. Edisi Mu’tamadahKANTOR JURU BICARA (NATHIQOH
ROSYMIYAH) MUSLIMAH
HIZBUT TAHRIR INDONESIAHASIL KAJIAN TIM KAMPUS NASIONAL
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
br>
Cepat sebelum diambil orang lain!