----- Pesan Diteruskan ----
Dari: Demak - ku (Versi - BETA) <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 18 Juni, 2009 15:03:13
Topik: Demak-ku
Demak - ku (Versi - BETA)
Demak-ku
________________________________
Wonosari, Desa Unggulan Produksi Lele
Posted: 17 Jun 2009 05:02 PM PDT
Bicara produk unggulan ekonomi demak, tidak melulu berupa belimbing, atau jambu
merah delima dan jambu citra nya. Produk perikanan baik laut maupun darat telah
lama menjadi andalan kabupaten demak. Salah satunya adalah budidaya Ikan Lele.
Bila anda seorang pengusaha makanan, atau pengusaha suplayer ikan lele, adalah
tepat bila anda melirik ke desa Wonosari. Berikut ini adalah laporan budidaya
ikan lele di Desa Wonosari yang saya salin utuh dari koran harian Suara Medeka
kolom Demak edisi Selasa 16 Juni 2009.
DESA Wonosari, Kecamatan Bonang berada sekitar 7,5 kilometer dari Demak kota.
Saat memasuki desa tersebut, ada patung lele ukuran besar di perbatasan desa.
Sebagian besar jalannya telah dibangun dengan konstruksi beton bertulang.
Di sisi kanan dan kiri jalan terlihat petak-petak kolam ikan lele. Rumah warga
juga banyak yang dikelilingi kolam berbagai ukuran. Setiap pagi warga disibukan
dengan pemberian makan pada ikan yang memiliki ciri khas berkumis tersebut.
Begitu pakan ditebar, ribuan lele pun berebut. Pemandangan demikian cukup
menarik dan menjadi hiburan yang tidak ada duanya bagi petambak.
’’Perasaan ikut senang, karena banyaknya ikan yang berebut. Jadi, lebih
bersemangat memberi pakan. Selain itu, adanya perebutan berarti mereka
kondisnya sehat,’’ kata H Jamal, seorang petambak.
Tak jarang ia mengajak anaknya untuk melihat ikan ketika sedang diberi makanan
berupa konsentrat. Di desa berpenduduk 2.000 jiwa lebih itu, menurut Ketua
kelompok pembudi daya lele Sari Mina, Heru Eko Catur, terdapat 500 warga yang
menggantungkan hidup pada tambak lele. Mereka memiliki lahan seluas 30 hektare
dengan 1.500 kolam berbagai ukuran.
Lele dijadikan pilihan, karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik. Ikan
ini bisa beradaptasi di air yang kondisinya keruh. Selain itu, permintaan pasar
juga tidak pernah surut. Kebanyakan tengkulak datang sendiri dan mengirim ke
warung-warung makan.
Catur menuturkan, pada tahun 1980-an, desanya tergolong daerah tertinggal.
Selain perekonomian warga di bawah garis kemiskinan, sarana-prasarana desa
tidak memadai. Kondisi semua ruas jalan rusak parah dan tidak ada akses
komunikasi telepon. Hanya sebagian warga yang memiliki penerangan listrik.
Namun, pada tahun 1991 ia mencoba memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak
produktif untuk kolam. Tiga bulan melakukan perawatan dengan baik, ternyata
hasilnya memuaskan. Hampir 98 bibit ikan yang dimasukkan bisa dipanen.
Dari tahun ke tahun, jumlah warga yang membudidayakan bertambah. Kini hampir
sebagian besar mengandalkan penghasilan dari tambak air tawar. Setiap hari Desa
Wonosari mampu memproduksi lele sebanyak tujuh 7 ton. Bahkan, belum lama ini
menjadi desa petambak lele terbaik tingkat Jateng.
Tingkat kesejahteraan mereka makin bertambah seiring dengan langkah
pengoptimalan lahan. Jika sebelumnya tanggul kolam dibiarkan ditumbuhi rumput,
sekarang dipakai untuk tanaman jambu merah delima dan citra. Ternyata hasil
dari tanaman jambu tidak kalah dengan hasil beternak lele.
’’Memang seperti berkah berlimpah, karena dalam satu lahan bisa menghasilkan
dua kali pendapatan. Pengembangan jambu dan lele ini dikenal dengan istilah
bule,’’ ujarnya.
Keripik dan Abon
Belakangan ini, inovasi terus dilakukan oleh warga sekitar. Jika biasanya hanya
membudidayakan lele dan menjual ke tengkulak, mereka mengembangkan dengan usaha
pascapanen. Seperti dengan membuat keripik lele, abon lele, dan lele panggang
atau ikan asap.
Pengembangan usaha yang mulai diterapkan setelah mendapat bimbingan dan
penyuluhan dari Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Perindustrian
Perdagangan telah membuahkan hasil. Berbagai ikan siap konsumsi itu banyak
diminati masyarakat.
Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Demak Ir Maryono MSi, pembudidayaan
lele telah mengubah perekonomian Desa Wonosari. Perekonomian sebagian
masyarakat mengalami peningkatan. Indikatornya antara lain perubahan mata
pencaharian.
Sedikitnya ada 63 orang yang semula berprofesi sebagai petani dan buruh tani
kini berubah menjadi pengusaha, kemudian 86 orang menjadi pedagang. Kepemilikan
kendaraan bermotor termasuk mobil pada tahun 1990-an hanya sekitar 16 unit,
kini menjadi 200 unit lebih. ’’Ada peningkatan SDM, karena setiap tahun 10
lebih warga meneruskan ke jenjang pendidikan S1,’’ paparnya.
Demikian juga warga yang menunaikan ibadah haji. Hampir setiap tahun sembilan
orang berangkat ke Mekah untuk berhaji. (Hasan Hamid-37)
Report Courtesy of Suara Merdeka Selasa 16 Juni 2009.
Images Courtesi of www.arthazone.com
You are subscribed to email updates from Demak - ku (Versi - BETA)
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. Email delivery powered
by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/