Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (1) 
<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-1.html>
 


<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-1.html>
  


????? ??? ???? ??????? ??????? ??? ?? ?? ??? ????? ??? ???

Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? 
Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha 
Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama 
kita, melakukan shalat tarawih dan idul fitri di samping kita, namun ternyata 
sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di 'peristirahatan 
umum' ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita?

Dalam dua buah hadits, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan kondisi 
dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan 
melewati bulan Ramadhan:

Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam 
sabdanya:

?? ??? ????? ?????? ???????? ??? ?? ?? ???? ?? ????

"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan 
pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan 
Muslim)

Golongan kedua digambarkan oleh beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dalam 
sabdanya:

?? ???? ??? ?? ????? ????? ??????

"Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga." (HR. Ibnu 
Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata: "Hasan Shahih."

Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung dengan usaha kita dan 
taufik dari Allah ta'ala.

Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan 
keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan 
dan orang-orang mulia.

Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong 
musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan 
nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut (Agar Ramadhan Kita 
Bermakna Indah, nasihat yang disampaikan oleh Syaikh kami Dr. Ibrahim bin 'Amir 
ar-Ruhaili pada malam Jum'at 27 Sya'ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. 
Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun):

Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah Ta'ala

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Dalam menyambut kedatangan 
musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan 
taufik dari Allah ta'ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal 
kepada-Nya."

Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang 
dikisahkan Mu'alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon 
pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba agar dapat menjumpai bulan 
mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini 
merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.

Ibnu Taimiyah menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, 
dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan sebelum 
beramal, ketika beramal dan setelah beramal:

a. Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap 
tawakal kepada Allah dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan 
meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat 
bahwa salah satu indikasi taufik Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan-Nya 
kepada hamba-Nya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah 
kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri.

Menghadirkan rasa tawakal kepada Allah adalah merupakan suatu hal yang paling 
penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; untuk menumbuhkan 
rasa lemah, tidak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan 
sempurna, melainkan semata dengan taufik dari Allah. Selanjutnya kita juga 
harus berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya 
Allah membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang 
paling agung yang dapat mendatangkan taufik Allah dalam menjalani bulan 
Ramadhan.

Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ketika akan beramal 
karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta'ala sebagai makhluk yang 
lemah:

???? ??????? ?????

"Dan manusia dijadikan bersifat lemah." (QS. An-Nisa: 28)

Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan 
memberi taufik-Nya pada kita.

b. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang 
hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Dua hal inilah yang merupakan dua syarat diterimanya suatu amalan di 
sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Di antaranya: 
Firman Allah ta'ala,

??? ????? ??? ??????? ???? ?????? ?? ?????

"Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah 
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

?? ??? ???? ??? ???? ????? ??? ??

"Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari 
kami maka amalan itu akan tertolak." (HR. Muslim)

c. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istigfar atas 
kurang sempurnanya ia dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah 
(pujian) kepada Allah Yang telah memberinya taufik sehingga bisa beramal. 
Apabila seorang hamba bisa mengombinasikan antara hamdalah dan istigfar, maka 
dengan izin Allah ta'ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.

Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai 
manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun! Makhluk ini mulai 
menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, "Hai fulan, kau telah berbuat 
begini dan begitu... Kau telah berpuasa Ramadhan... Kau telah shalat malam di 
bulan suci... Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna..." Dan 
terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga 
tumbuhlah rasa 'ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang 
menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa 
rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta'ala.

Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap 'ujub; pasalnya, orang yang 
merasa silau dengan dirinya sendiri (bisa begini dan begitu) serta silau dengan 
amalannya berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri 
serta amalannya.

Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah:

???? ??????? ?????? ??? ????? ????????. ?? ??????? ?? ??? ?????? ??? ????? ??? 
??????? ??? ???????

"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan 
(menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian 
saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan 
dari kiri mereka." (QS. Al-A'raf: 16-17)


(bersambung)

Anniversary Homepage: http://www.sulzer.com/175 

Anniversary Games: http://www.experience-sulzer.com


CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke