Saya telah membaca sejarah Indonesia, pada saat itu merdeka sudah
diumumkan. Tetapi karena masa transisi maka kabarnya ada beberapa kali
perubahan bentuk negara dari RI menjadi RIS kemudian menjadi RI kembali.
UUD juga berubah dan kembali menjadi UUD 45. Itu terjadi karena banyak
orang yang memiliki konsep bernegara selain karena masih adanya tekanan
dari Belanda dulu. Ibukotapun sempat berpindah beberapa kali dari Jakarta,
Yogya, dan Bukittinggi (reff : http://id.wiki.org).
Kemerdekaan pada saat itu merupakan sebuah idaman dan sebuah situasi baru
masyarakat, begitu tiba pada realitanya yang menjadi berbeda dari
imajinya, mungkin oleh beberapa pihak sulit diterima. Seperti kita membaca
cerita novel atau Kho Ping Hoo, begitu menonton filmnya yg dibuat orang
kok aktor yang dulu dibayangkan cantik malah tidak tampak cantik.
Sayangnya baik cerita Indonsia merdeka dan cerita Kho Ping Hoo, selalu
menampilkan fakta berdarah darah sebagai simbol keunggulan pelakunya.
barangkali disitu tantangan penulisan sejarah, bagaimana idealisme yg
diperjuangkan bisa ditampilkan utuh dg "menunjukan usaha dan
pengorbanan pelakunya".
Dan mungkin saja disitu kita bisa melihat sebuah idealisme yg dijunjung
tinggi banyak orang malah berubah menjadi sebuah artefak yang tidak
bermakna dikemudian hari, menjadi patung patung yang bisu yang bisa
digeser oleh orang ke arah mana saja dan dimana saja didudukan karena pada
saat itu masyarakat telah menganggap bahwa bentuk fisik "idealisme itu
telah menjadi sebuah faktor estetika" di rumahnya dan dikantornya dan
berubah menjadi patung patung yang membisu.
Kita mungkin tidak ingin idealisme yg berubah menjadi bentuk fisik dan
berguna bagi orang banyak menjadi "sebuah patung yg menghalangi
pemandangan atau ingatan generasi mendatang". Kita tak ingin membuat jalan
jalan layang idealisme yg tak terpakai, dan penuh dengan ilalang. Padahal
jalan jalan itu telah dibangun dengan keringat, dana dan waktu para
penjunjung idealisme itu. Biarkanlah generasi penerus menikmati jalan
jalan yg terbentuk dari transformasi idealisme itu menjadi fasilitas yg
menunjang kehidupan mereka.
Dapatkah kita berhenti sejenak sambil menarik napas, dan hati bersyukur
kepada Nya untuk mengenang masa kisruh pasca merdeka dulu, dan memikirkan
idealisme apa yg akan diterapkan pada Internet Indonesia agar anak cucu
orang Indonesia walau bukan cucu pejabat atau cucu orang kaya masih bisa
menikmati manfaatnya.
Energi mereka adalah tulang punggung bangsa Indonesia kelak, maka
penyaluran dan pengarahan atau rencana penempatan energi mereka secara
baik akan amat tergantung dari masyarakat sekarang, termasuk kita kita
dalam bagaimana merencanakan, membangun dan mengembangkan kapasitas
kapasitas ataupun menjalankan fungsi fungsi dari transofrmasi idealisme
Internet tersebut ke dalam sarana sarana publik yang berguna bagi
masyarakat Indonesia sekarang dan nanti.
Wassalam
-marno-
On Thu, 14 Jul 2005, Indra S wrote:
Pak Sekjen,
Kalau mengingat masa lalu, kami SANGAT BERTERIMA-KASIH kepada ISP-ISP pertama,
yang
berusaha "memasyarakatkan internet" (kalo bahasa jawanya "NGE-LARISIN")
sehingga kami
semua bisa ber-internet-ria.
Kalau-lah masalah DNS server dan domain bertautan, kenapa sekarang tidak
dikenakan Charge
untuk hosting domain?
Belajar dari pengalaman domain dotcom saya, saya beli US$ 8.75/tahun untuk
domain saja,
kalau mau hosting DNS ada charge tambahan. Hosting DNS-nya, saya cari sendiri
di server
lain (yg gratisan aja).
Kalau yang berjalan selama ini, domain id gak beda jauh dengan dotcom. Bayar ke
ccTLD (dh
IDNIC), trus pasang/cari DNS server sendiri.
Kenapa konsep terakhir dari bp Budi ttg Registrar-Registry tidak dijalankan
saja? toh yang
jadi Registrar itu hampir semuanya anggota APJII !!! Kalau konsep ini
dijalankan, bisa
jadi seperti yang domain dotcom juga kok.
Kalau memang mau model Managed Services, buat apa kita malu kepada orang asing
pengelola
Dotcom diluar?
Asal memang semua TRANSPARANT dan tidak tilep-tilepan, saya rasa semua akan
setuju kok.
Apalagi dengan services yang sama domain ID sekarang ini lebih mahal dari .com,
.net,
.org, bahkan .biz !!!
Kami menggunakan domain id, hanya untuk identitas & patriotisme saja kok.
Kalau masalah gengsi, lebih bergengsi dotcom lho. Lihat saja di
angkutan-angkutan
umum/barang di jalanan... stiker-stiker di kaca mereka tulisannya pakai dotcom:
"asalaja.com", "yangpentinghappy.com", "ayu-adine.com", dll. Domain-domain
tsb, gak bakal
kita lihat di whois-nya internic !!
Salam.
----- Original Message -----
From: "APJII" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, July 13, 2005 18:11
Subject: Re: [ccTLD-ID] bingung apjii -cctld
Pada waktu itu, belum ada pelayanan domreg untuk publik
serta kebijakan2nya, para ISP yang duluan nyalain dns mesinnya
banyak permintaan2 domain dari calon pelanggannya, minta
ke mana? Lahir lah program tersebut di atas,
jadi merupakan strategic plan dari pelayanan internet ke publik
melalui pembentukan APJII.
Ga ada hidden agenda :-)
Masalahnya adalah kelembagaannya saja.
Salam Internet Bahagia,
-teddy