Ya, maunya sih begitu,

Tapi, berhubung aktor utama adalah Mr. T A P, demokrasi adalah sesuatu yang
sangat dipertanyakan. Sebagai anggota ISOCID, saya invoke kewajiban
mengadakan Annual General Meeting of Members, yang tidak pernah diadakan
sejak ISOCID diresmikan pada Desember 2002. Kewajiban ini jelas dicantumkan
di bagian bylaws di situs www.isoc-id.org yang dikelola oleh T A P sendiri,
bahkan bylaws nya juga dibuat oleh T A P dengan bantuan seorang rekannya.
Hak anggota untuk mengadakan Annual General Meeting of Members juga jelas
dicantumkan, bahwa kalau Executive dan Supervisor gagal mengadakan pada
waktu yang ditentukan, anggota manapun berhak mengadakannya. "Waktu yang
ditentukan" itu adalah tiap tahun paling lambat bulan Juni, jadi kalau kita
anggap tahun 2003 baru jadi, dan belum perlu General Meeting, maka pada
tahun 2004, itu sudah wajib, dan sudah telat setahun!

Apa tanggapan T A P begitu saya mengumumkan mengadakan Annual General
Meeting of Members, dengan topik "Election" ? Walaupun dia tahu bahwa
berdasarkan chapters policy yang dapat dibaca di situs www.isoc.org, para
pengurus yang pertama kali hanya boleh menjabat setahun, setelah itu harus
ada election, namun tanggapan dia adalah mengumumkan kemana-mana bahwa saya
sudah tidak ada hubungan dengan ISOCID, dan dia seenaknya menunjuk sendiri
pengurus-pengurus baru.
Saya diwajibkan oleh ISOC untuk mengirimkan undangan meeting resmi ke milis
yang dikelola oleh T A P, tapi tentu saja saya sudah di "banned". Sewaktu
ada anggota lain berani bertanya di milis tersebut, mengapa T A P caranya
seperti itu, dia juga langsung di "banned".

Secara pribadi, saya tidak ada masalah kalau T A P masih mau jadi Chairman
ISOCID, tapi caranya harus yang benar, harus lewat proses election untuk
memperpanjang masa jabatannya, bukan dengan cara "ini punya gue, lo mau
apa".

Nah, itulah sebabnya saya sangat keberatan dengan dibentuknya yayasan IDNIC
oleh T A P. Dia tidak mengerti dan tidak menghargai aturan, bahkan yang
dibuatnya sendiri. Yang terutama bagi dia adalah kepentingan dirinya sendiri
bagaimana mungkin dia bisa mengerti dan menghargai kepentingan umum?
Jangan-jangan nanti begitu ccTLD dipegang T A P, dispute domain name
langsung menjamur karena dia tidak mengerti aturan dan tidak bisa
membereskan. Lebih gawat lagi, orang ini terkenal dengan style "coporate
raidersnya". Sampai saat ini, dia belum pernah berhasil membangun satu
perusahaan pun sampai jalan dengan baik, sistimnya selalu ambil, pecahkan,
jual. Mengingat manusia sulit berubah dari karakter aslinya, bagaimana nasib
para pengguna domain .id kalau strategi ini ternyata diterapkan juga ke
Yayasan IDNIC?

Jadi sekali lagi, concern saya disini bukan APJII ataupun ISP, tapi spesifik
T A P, dan oknum-oknum lain yang sealiran dengan dia. Kalau dengan bu Ai dan
pak Johar yang di IDC misalnya, orangnya baik dan terbuka. Dengan pak Budi
Rahardjo sendiri, saya sangat menghargai, karena dalam beberapa kali
"berdebat", selalu dijawab dengan terbuka, sementara kalau dengan T A P,
asal sudah ditanya dasar peraturan, selalu diam seribu bahasa, dan tiba-tiba
salah satu karyawannya (atau T A P sendiri yang menyamar ?) akan nyeletuk
menyampaikan pembelaan. Soal ini saya punya bukti-bukti no IP dari
email-email yang digunakan untuk mengirim komentar-komentar yang mendukung T
A P, semuanya terdaftar atas nama perusahaan T A P. Yang saya herankan,
mengapa mereka tidak pake telkomnet instan saja kalau mau menyamarkan
identitas?

Mengapa saya mau mengurusi hal ini? Daripada saya promosi diri sendiri, yang
ingin tahu saya orangnya seperti apa, dapat bertanya ke para dekan fakultas
I.T. di kampus-kampus yang sudah setuju menandatangani MOU kerjasama
pendidikan dengan saya atas nama ISOCID, antara lain UPN "Veteran" Jakarta,
Ukrida, Trisakti, Dharma Persada, STMIK Jakarta.
Ingin tahu lebih lanjut T A P sebenarnya orangnya seperti apa ? Tanyakan
saja ke orang-orang yang pernah jadi partner bisnisnya.

salam,

Irwan Effendi


----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Irwan Effendi" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, July 29, 2005 10:09 PM
Subject: Re: [ccTLD-ID] Soal keterlibatan ISOCID di "yayasan IDNIC"




Dh,

Jaman sekarang semua dipilih langsung dari rakyat oleh rakyat
dari anggota oleh anggota.

Sebaiknya Pil Kaya (yayasan) atau Pil KO (ketua organisasi)
meniru gaya-gaya pilkada tapi TANPA kerusuhan, bakar-bakaran,
money politic, bagi-bagi indo mie, serangan fajar, dll.

Supaya nggak jadi PIL KADAL!

salam pemilihan langsung,

+ Hanny
· Hosting Linux/WINDOWS2003 (ASP, ASP.NET Framework)
· Web Hosting | Reseller | Dedicated Servers | 1999-2005
· http://www.tadulako.com

Friday, July 29, 2005, 8:22:48 PM, Irwan Effendi <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

IE> Rekans,

IE> Kemaren berdiskusi dengan pak Budi Rahardjo, soal keterlibatan ISOCID di
IE> "Yayasan IDNIC".

IE> Kesimpulannya, berikut baik buruknya adalah sbb:

IE> Jika ISOCID tetap ikut,
IE> sisi baik:
IE> dapat ikut mengontrol "sepak terjang" yayasan sehingga tidak merugikan
IE> masyarakat

IE> sisi jelek:
IE> pasti akan dijadikan embel-embel (atau umbul-umbul) karena IDNIC akan
selalu
IE> menyertakan ISOC dan ISOCID sebagai daftar "pendukung"

IE> Jika tidak ikut:
IE> sisi baik:
IE> bisa tetap netral dan berkonsentrasi di misi ISOC

IE> sisi jelek:
IE> kalau IDNIC yang baru "bertingkah", tidak bisa apa-apa karena ISOCID
berada
IE> diluar, jadi penonton saja.


IE> Secara pribadi, saya berpendapat, bisa ikut dengan syarat bahwa ketua
IE> yayasan nanti dipilih secara terbuka, bukan dengan kasak-kusuk dan main
IE> angkat orang yang bisa disetir. Kalau itu tidak bisa dipenuhi, mendingan
IE> jangan ikutan.

IE> Bagaimana dengan pendapat rekan-rekan ?

IE> salam,

IE> Irwan Effendi








Kirim email ke