Git... novelnya dah aku baca sebagian, soalnya rada-rada padet nih... jadi
nggak bisa koemn apa-apa. Tapi menurut gw dah oke kok tinggal ngirim aja ke
penerbit. Bisa ke penerbit Cinta, Gagas atau Ke GPU juga kayaknya bisa tuh...
sante aja, nggak usah ragu. Habis ngirim naskah, lupain dan bikin lagi. Ato
kalo masih ragu, kamu lihat-lihat ke toko buku dan baca-baca kira-kira penerbit
mana yang menurut kamu bisa kamu kirimin tuh naskah.
oke Git, salam dan sukses
sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kawan, ternyata bersahabat dengan sunyi itu menyenangkan juga meski
gemerlap riuh masih selalu kurindukan.
Kau tahu? Dari kesunyian ini aku belajar memaknai keberadaanmu di
selasar hidupku. Ya, sebuah makna yang tak akan pernah kutemukan
jika kita terus bersama.
Inikah rasa kehilangan? Entah.
Berkali-kali kudengar orang-orang bicara bahwa kita akan paham akan
arti keberadaan sesuatu jika sesuatu itu telah pergi. Entah. Tapi
itulah yang kali ini kurasakan. Sejak kepergianmu setahun lalu, aku
sedikit paham mengapa Dia menghadirkan dirimu di degup hidupku dan
jadi salah satu bagian perjalananku.
Andai kesadaranku ini datang lebih awal sebelum pergimu. Ah, tapi
rasanya tak mungkin. Aku yakin, andai pergimu tak pernah ada aku tak
akan pernah mengerti tentang semua ini.
Kawan, ternyata kau dan aku saling melengkapi. Saat aku kekanak-
kanakkan kau menjadi seorang dewasa yang memberi rambu-rambu agar
aku tak terjerumus pada bahaya. Pula sebaliknya.
Saat aku keras, kau jadi pelunak meski pertengkaran adalah jalannya.
Bahkan saat aku tersedu ratapi luka hati, kau membawaku pada
sejumput bahagia meski ejekan adalah caramu.
Kawan, kini kusadari bahwa cacian ekstrimmu adalah cambuk yang
membuat kuda terpacu untuk berlari. Pula halnya dengan kritik pedas
yang berlompat dari bibir jontormu yang dulu sempat kutinju. Dan
diammu adalah luka yang kutoreh tanpa pernah kutahu. Mungkinkah
pergimu karena itu?
Kawan, ada hal yang buatku tak habis pikir tentang pergimu. Kau
pergi bagai angin yang tak bisa ktangkap dengan indera penglihatan.
Bahkan punggungmu yang dulu sempat kutendang dengan segenap amarah
lesap di detik-detik yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Adakah kau marah kepadaku?
Apakah ini adalah sebuah pelajaran yang sengaja kau berikan padaku
agar kelak aku mengerti tentang makna hakiki persahabatan. Pula
tentang bagaimana rasa sakit karena kehilangan. Atau jangan-jangan
kau ingin membuangku sebagai masa lalu yang tak layak mendapatkan
pengakuan sejarah di buku harianmu. Atau mungkin juga kau pergi
karena kau sendiri yang tak pernah paham akan makna persahabatan
kita. Entah.
Kawan, tiga malam ini mimpiku selalu berkisah tentang langkah-
langkah yang pernah kita tempuh. Apakah ini isyarat rindu? Entah.
Yang jelas saat ini aku makin akrab dengan sunyi meski aku belum
terbiasa untuk melupakan gemerlap masa lalu kita. Sejujurnya aku
sama sekali tak ingin melupakan masa lalu itu, tetapi bayangan masa
lalu denganmu membuatku makin dahaga: inginkan perjumpaan denganmu!
Dan semua itu benar-benar menyakitkan. Bahkan saat aku direngkuh
bahagia, separuh bahagiaku terasa kosong.
Kawan, andai kau datang kembali, aku tak yakin bisa melepaskan
persahabatanku dengan sunyi ini.
10/09/06 to Zaenal Mutakin
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.
[Non-text portions of this message have been removed]
|| cerkit ||
arsip : www.gmail.com
login : cerita.kita
pwd : ramebanget
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/cerkit/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/cerkit/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/