Teman-teman, Sabtu, 2 Desember lalu saya menghadiri kegiatan potluck Book Festival di Bandung (sama teh Ryu juga lho). Dalam kegiatan itu ada diskusi beberapa buku, antara lain buku "Lelaki Pembawa Senja" karya Nazla Luthfiah, "4ever" karya Selma Ramadhiane, "Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku" karya Akmal Nasery Basral, dan buku karya Andrea Hirata yaitu "Laskar Pelangi" dan "Sang Pemimpi".
Acara tersebut berjalan cukup menyenangkan bagi peminat buku. Selain diperjualbelikan buku-buku yang "menyenangkan", para peserta yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan diskusi pun dihadiahi buku-buku. Dan nggak tanggung-tanggung, bukunya adalah buku-buku baru yang sedang didiskusikan. Banjir buku neegh.(Hehe, teh Ryu kayaknya ngeborong cukup banyak buku tuh). Akan tetapi, sebagai peserta nomor satu (maksud saya yang paling pertama masuk dan ngisi buku tamu), saya cukup nggak nyaman juga. Pasalnya, sejak saya menyimpan bokong saya di kursi potluck untuk pertama kalinya, sekitar pukul 10:20, sejak saat itulah panitia terlihat mulai " riweuh beberes". Ngedekor panggung, masang sound system, dan masang hal-hal lain. Padahal dalam jadwal acara dimulai pukul 10:00. Yah, tapi terlepas dari itu acaranya keren kok walau terasa kurang nikmat karena diadakan di sebuah halaman dalam yang terang benderang. Layar yang menayangkan video via projector pun kalah kuat unjuk gigi sama cahaya matahari meski berfiltrasi oleh awan mendung. Bagaimana pun, bagi saya, acara peluncuran buku, apalagi kalau diisi dengan kegiatan pertunjukan panggung, seperti performance art, pembacaan puisi, dll, rasanya lebih nikmat dan "puguh" kalau digelar pada malam hari atau kalau acaranya siang ya di tempat tertutup, semisal auditorium CCF, gedung AACC, Rumentang Siang, Sunan Ambu STSI, Auditorium UPI (hehe, ex kampusku harus kusebut dong! Cinta almamater gitu loh!), dan lain sebagainya (di Bandung mah seueur pisan, punten anu teu acan kasebut). Tapi ini menurut saya lho, selera dan "kahayang" orang kan beda-beda. Ya, meski begitu, kita (yang datang) perlu ngasih aplaus buat Renjana organizer selaku pelaksana yang bekerja sama dengan Potluck dan sejumlah penerbit buku, dan berbagai pihak sponsor. Kita kasih semua jempol yang ada di tubuh kita deh, hehehe, sukur-sukur yang jarinya jempol semua (ups! punten ah!). Pasalnya, acara itu dihadiri oleh banyak banget tokoh-tokoh masa kini (hehe, nggak apa-apa ya saya pake istilah ini) di bidang kepenulisan dan bapak sepuh guru besar UI, Bapak Sapardi Djoko Damono. Adapun tokoh-tokoh kepenulisan masa kini yang saya maksudkan adalah Kurnia Effendi, Akmal Nasery Basral, Mang Jamal, Nazla Luthfiah, Andrea Hirata, Danny Junus, dan lain-lain yang turut serta sebagai penyaji dalam forum diskusi. Di luar itu terlihat hadir juga penulis-penulis hebat asal Bandung seperti Mbak Anjar `Beraja', Widzar Al-Ghiffary, Ryu Tri Pamungkas, dan lain-lain. Rame deh! Tapi sayang nggak ada konsumsinya yah. Oiya. Di akhir acara, katanya sih (kata teh Ryu), ada acara Klinik Naskah. Sayang saya terlanjur pergi menikmati hujan di malam munggu di tempat lain, jadi tidak mengikuti acara tersebut. Konon dalam acara tersebut banyak banget peserta yang ngumpulin naskahnya untuk diterbitkan. Ya, kita doakan saja moga karya mereka bisa segera diterbitkan dan bisa segera kita nikmati. Nah, setelah mengikuti diskusi yang rasanya cuma sebentar-sebentar tersebut saya dapat banyak sekali penyegaran. Ya, setidaknya motivasi untuk menulis direfresh lagi. Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal setelah mengikuti diskusi novel karya Andrea Hirata Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Tentu teman-teman cerkit udah pada baca kan? Buku itu emang bagus dan inspiratif banget, terutama buat yang peduli sama dunia pendidikan. Nah, tapi setelah baca buku best seller itu (meski baru sedikit), saya dan beberapa teman saya menemukan sebuah "keanehan". Begini, novel itu kan bercerita tentang kehidupan seorang anak 10 tahun dengan menggunakan sudut pandang first person (pake tokoh "aku"). Nah, tapi yang bikin saya heran tu bocah kok pemikirannya menakjubkan banget. Bahkan bagi saya terlalu berlebihan untuk anak seumuran itu. Rasanya tidak ada filtrasi dalam jembatan yang menghubungkan antara pengarang dengan tokoh "aku" selain perbedaan usia. Ringkasnya, pemikiran tokoh aku yang ada dalam novel itu kesannya adalah pemikiran orang dewasa (Andrea Hirata). Aduh, maaf belibet ngejelasinnya. Nah, dalam kesempatan ini saya sebetulnya mau mengajak merenung pada semua teman-teman, sekaligus bertanya, kira-kira gimana sih caranya nulis dengan menggunakan tokoh "aku" di mana tokoh tersebut jauh di luar kita supaya bayang-bayang kita sebagai penulisnya hilang dalam tulisan itu. Semisal, penulis A sebagai perempuan berumur 20 tahun, nulis cerpen menggunakan tokoh "aku" sebagai seorang kakek-kakek sekarat, gimana sih caranya biar pemikiran tokoh Kakek-kakek tuh bener-bener muncul mandiri, nggak nyampur sama pemikiran si A yang jelas-jelas seorang perempuan muda yang lagi "kumincir" (kucing kaleee). Atau contoh lain, penulis B, mahasiswa, umur 19 tahun, mau nulis tentang pelik kerusuhan Mei '98 dan menempatkan dirinya sebagai tokoh "aku" sebagai anak kecil berumur 7 tahun. Nggak mungkin kan anak kecil 7 tahun ngomongin pertarungan politik atau idealisme seorang mahasiswa. Atau jika penulisnya adalah seorang laki-laki pengamat komunis berusia 34 tahun yang menggunakan tokoh "aku"-nya sebagai istri seorang penggiat komunis di tahun 1965 yang hidupnya hanya sebagai seorang ibu rumah tangga yang nggak ngerti apa-apa tentang komunis. Gimana caranya supaya si penulis bisa menyampaikan pelik hidup "kiri" melalui frame tokoh "aku" (si ibu-ibu tadi). Aduh, maaf belibet lagi menguraikannya, maklum saya ngetik tulisan ini pagi buta, jadi roh saya belum ngumpul semuanya, hehehe. Nah, jadi saya mohon tanggapannya ya. O ya, mau nyombong nih, dalam acara tersebut saya dapet hadiah buku karena jadi peserta yang datang paling pagi lhooo...hehehehe, nggak penting yah. Dan buku yang saya dapat adalah buku untuk anak-anak tulisan Pak Bambang Trim MQS, hehehe...mungkin saya memang masih harus bersinggungan dengan wilayah anak-anak. Yu ah, "Semangat" ~hari masih pagi, semangat kita terlalu dini untuk mati~ Sigit Rais =don't forget to add my friendster [EMAIL PROTECTED]
