Teman-teman...
Saya mau sedikit berbagi cerita dan kesedihan nih....
di ex kampus saya, UPI-Bandung, "dulu" ada sebuah masjid bernama Al-
Furqon. Kenapa dulu? Ya, karena sekarang udah nggak ada. Dia jadi 
salah satu "korban" kejahatan pembangunan kampus. Padahal belum 
genap dua bulan saya dan teman-teman seangkatan saya resmi 
melepaskan status kemahasiswaan dari kampus itu. Rasanya baru 
sekejap, eh, saat saya iseng jalan ke kampus, banyak hal berubah 
termasuk sirnanya masjid Al-Furqon.

Ada apa dengan Al-Furqon? Ya, mungkin bagi teman-teman memang bukan 
apa-apa. Tetapi bagi saya, tempat itu adalah tempat yang paling 
banyak menyimpan kenangan bagi saya dan teman-teman saya.
Teman-teman yang udah pernah baca CERKIT vol. 11 kemaren mungkin 
masih ingat dengan cerpen saya yang judulnya "Menunggu". Masjid Al-
Furqon itulah yang saya maksudkan. Masjid yang berhadapan dengan 
sebuah menara putih yang menjulang bagai Monas, dan sebuah taman 
rumput dengan sebatang pohon palm di tengahnya. Taman rumput itu 
dikelilingi oleh selasar yang biasa dijadikan tempat berkumpul para 
mahasiswa. Nah, di selasar utara, tepatnya di dekat tempat penitipan 
sepatu, di situlah saya dan teman-teman saya biasa berkumpul seusai 
kuliah sambil menunggu mata kuliah lain. Tiap waktu kosong, kami 
selalu menyempatkan diri untuk beristirahat di tempat itu. Bahkan di 
saat liburan tiba, saat kami ingin saling bertemu, SELASAR-lah 
tempat kami berkumpul. SELASAR oh... SELASAR ... (hiks...hiks...)

Dari SELASAR itu lahirlah komunitas independen SELASAR, yang pada 
awalnya diisi dengan kegiatan pengajian kelas. Kemudian di akhir 
2005 dikembangkan ke bidang penerbitan yang dikelola oleh saya 
sendiri. Sayangnya, melalui SELASAR saya hanya mampu menerbitkan 2 
antologi puisi, yaitu "Pagi di Buntiris" dan "Untuk Ibu". Dari 
SELASAR pun tercetus penerbitan buletin Qalam Rata yang dipimpin 
oleh kawan saya, yaitu Yadi Mulyadi. Sedangkan saya menempati posisi 
sebagai redaktur cerpen. Tak hanya itu yang lahir dari SELASAR, di 
situ jugalah kami (Satrasia Nondik 2002) biasa melakukan rapat 
koordinasi setiap kali melakukan kegiatan, seperti 
pergelaran "Kanigara Senja", "Petang di Taman", "Workshop Editing", 
study tor, dan lain sebagainya. Semua kami lakukan dengan penuh 
kegembiraan dan SEMANGAT! Ya, karena semangat kami memang terlalu 
dini untuk mati. 

Sebetulnya masih banyak tumpukan kenangan yang kini tertimbun di 
dalam bongkahan-bongkahan batu. Termasuk kenangan saya saat menunggu 
seseorang di mana penantian saya tersebut harus berakhir dengan 
sebuah kekecewaan karena orang itu pergi dibonceng cowok lain pake 
motor (GUBRAK!) hehehehe!!!

Yah, mau bagaimana lagi? tidak ada yang bisa saya perbuat selain 
menyimpan sisa-sisa kenangan dan juga mengenang semangat yang pernah 
ada di SELASAR. Dengan harapan kami akan terus bersemangat untuk 
melangkah ke depan.

SELASAR kini udah nggak ada, selain serpih kenangan yang akan 
terpajang di jagat ingat kami. Bahkan kami sendiri pun sudah jarang 
saling jumpa karena kami sedang menempuh jalan masing-masing, 
tentunya dengan semangat yang dulu pernah membara di SELASAR.

Teman-teman CERKIT, teruslah bersemangat seperti semangat yang 
pernah berkobar dalam dada kami saat SELASAR masih kokoh berdiri dan 
jadi payung di atas kepala kami. Hari masih pagi, semangat kita 
terlalu dini untuk mati.

^Sigit Rais^  



Kirim email ke