UNJUK RASA ALAM
  --) Fiyan Arjun (--
   
           Bumi menydiakan cukup untuk setiap kebutuhan manusia, tetapi tidak 
untuk ketamakan manusia. (Mahatma Gandhi)
   
           Di awal tahun 2007 ini sudah berapa banyak airmata anak bangsa jatuh 
di bumi pertiwi ini. Satu persatu bencana silih berganti. Ruang kosong publik 
menghiasi berita duka diberbagai media; media cetak maupun media eletronik. 
Sunguh ironi dan bahkan menyedihkan bila kita merunut sebab musabab bencana 
yang terjadi di negeri ini.
   
           Lalu siapakah yang patut disalahkan?
   
           Mungkin itulah yang menjadi pertanyaan disetiap kisi-kisi hati kita. 
Kita selalu menganggap semua itu adalah perbuatan yang dibuat Tuhan dalam 
rangka menegur, menguji dan mengutuk umat-Nya yang tidak lagi bersikap peduli, 
terlebih pada alam. Selebihnya kta pasrah terhadap keadaan. 
   
           Lantas adakah faktor lain penyebab dari semua itu? Apakah agama yang 
kita anut masing-masing tidak mengajarkan bagaimana, menjaga keseimbangan alam 
(ekosistem)? Atau, manusianya sendiri yang kurang memahami ajaran-ajaran 
tentang teologi? Entahlah! Sehingga dengan tanpa peduli dan acuh kita telah 
merusak ekosistem yang ada—sampai akhirnya bencana menimpa secara berkala. 
Bertubi-tubi. Ditambah minusnya moralitas kita terhadap sesama. Klop! Menambah 
deretan ujian dari Tuhan terus-menerus melimpahi kita.
   
           Kita, manusia merupakan makhluk yang selalu dilanda kegelisahan 
rasional. Maksudnya, manusia itu tak pernah merasa puas. Selalu berusaha 
memperbaiki dan mencari yang terbaik bagi hidup dan mencari yang terbaik bagi 
hidup dan kehidupannya. Akumulasi dari serangkaian rasional manusia yang 
dikelolah secara baik tercermin dalam kegiatan yang disebut pembangunan. Dengan 
demikian kegelisahan rasional merupakan benih bagi dirinya untuk menjadi 
makhluk pembangun.
   
           Sayangnya potensi ini malah disalahgunakan manusia untuk 
mengeksplotasi bumi. Dampaknya, keseimbangan lingkungan berpeluang besar 
menjadi penyebab terjadinya kerusakan dan pencemaran serta pemusnah lingkungan. 
Namanya juga manusia memang mahkluk  yang gampang lalai dan dan mudah lupa. 
Alam diciptakan sebagai pelengkap kebutuhan hidupnya, tidak serta merta 
dipelihara dengan baik, agar anak cucunya nanti juga bisa ikut menikmati juga. 
Namun karena ketamakan, makhluk yang dianggap utama ini sering kali terjebak 
untuk mengambil segala sumber daya alam yang bisa dikuasai. Akibatnya bumi 
merintih; longsor tejadi dimana-mana, lapisan ozon semakin menipis dan bumi 
semakin tua. Jadi pantaslah jika manusia mempunyai predikat manusia yang tak 
pernah puas! Tapi gampang lupa dan terlalu linier-parsialistik. Memandang 
kehidupan terus bergerak maju kedepan saja dan semua memegang posisi terus 
bergerak maju kedepan saja dan semua memegang posisi masing-masing secara 
terpisah
 untuk mencari tahu itu sejauh mana kita “sadar” akan satu hal yang sudah 
semestinya digugat, dibangunkan dan dipraktekan yakni bagaimana kita menganggap 
lingkungan tempat tinggal kita tempat mengais rezeki, bersosialisasi dan 
berargumentasi ini sebagai satu kesatuan dari esensi manusia pemimpin di bumi. 
Ini bukan hanya sekedar kajian melainkan kita diharuskan berpikiran holistik. 
   
           Musibah yang terjadi akhir-akhir ini dinegeri kita sebenarnya sudah 
terkoyak-koyak sebelumnya secara ekonomi, politik sosial-budaya ini masih harus 
menerima penderitaan lewat tanah longsor di Padang Sumatra Barat, banjir 
bandang di Aceh, tenggelamnya  KM Senopati Nusatara di perairan Jepara Jawa 
Tengah, disusul pula dengan tenggalamnya kapal Tri Star 1 di sungai Musi, 
Banyuasin, Sumtera Selatan dan terakhir hilangnya maskapai penerbangan Adam Air 
Boeing 727-400 K1 574 difokuskan di perairan Majene Tana Toraja.—entah kemana 
raibnya sampai sekarang belum ada titik terang ditemukan badan kapal tersebut. 
   
           Sebegitu jahatkah Tuhan pada kita?
   
           Tidaklah Dia melihat betapa sadar dan religius nya bangsa ini yang 
begitu lama dalam keterpurukan. Lalu sejauh ini apakah kita masih menunggu 
jawaban dari doa-doa kita?
   
           Semestinya manusia memang harus menyadari bahwa alam  pun punya 
kebijakan terhadap diri sendiri. Meskipun tanah, air, udara, hewan dan tumbuhan 
tidak bisa berbicara apalagi mengeluarkan undang-undang seperti Badan-Badan 
resmi dinegeri ini, tapi alam pun mampu bebuat sesuatu. Dan atas kehendak-Nya, 
siapapun yang tidak mau mengharagai kebijakan alam, maka ia akan menuai badai 
sendiri, bisa jadi musibah demi musibah yang kita alami ini merupakan salah 
satu dari benuk unjuk rasa alam kepada manusia. Mungkin? Bahwa manusia bukan 
saja bertindak merugikan. Alam pun bisa juga membalas kesemena-menaan manusia.
   
           Kesimpulan sementara ini kita memang (harus) sadar benar –penyebab 
bencana ini adalah perbuatan tangan-tangan manusia juga, manusia yang tamak, 
melulu melihat sesuatu dengan materi sebagai tujuan hidup hingga apa yang 
disediakan oleh Tuhan diambil menjadi halal. Alam adalah suatu kesatuan dengan 
manusia. Merusak alam berarti merusak manusia. Menyatu dengan alam, melebur 
dengan alam adalah memaknai penciptaa-Nya. Karena alam adalah pengejawatahan 
dari Dzat-Nya. 
  07012007/15:30

 
---------------------------------
Access over 1 million songs - Yahoo! Music Unlimited.

Kirim email ke