*Wah kalau lomba sampai dibatalin spt itu kok rasanya aneh ya, apalagi krn alasannya terlalu banyak pesertanya. Berarti panitianya tidak siap. Moga-moga kasus ini tak terulang lagi.
On 1/30/07, sigit rais <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yupz mbak Rin, kita memang harus ngasih penghargaan setinggi-tingginya buat panitia dan juri yang ngurusin lomba tulis menulis, terutama buat "dedengkot" yang mencetuskan lomba. Bukankah ini pertanda baik bahwa tulis-menulis itu memang pueeenting banget.... Mungkin hal berat seperti itulah yang kadang membuat hati para panitia lelah (kata sundanya sih "Cape Hate"). Ya, seperti panitia lomba cerpen salah satu majalah musik remaja (lupa namanya). Mereka ngadain lomba. Nah, bertahun2 tak kunjung ada kabar. Ternyata saya dapat kabar dari seorang kawan bahwa lomba dibatalkan dengan alasan naskah yang masuk terlalu banyak. Ini pertanda bahwa ngurusin lomba itu emang susah banget. Tul nggak temen2...? btw tentang lomba apsas, saya juga ikutan yang lomba "Srikanda" lho Mbak Rin. Apa mbak Rin juga jurinya? O iya, kalo yang masuk 20 besar lomba itu cerpennya bakal dibikin buku nggak yah? Kalo kata Kang Bondet sih ada rencana ke situ. Btw sukses dan semangat ya... finally aku jadi sadar kalo mengarungi jagat raya tulis-menulis itu harus penuh semangat dan perjuangan....
