ceritanya agak telat, tapi masih bisa dibaca, silakan.

sumber Situs Berita Rakyat Merdeka

RUMAH KACA, ranah sastra merdeka

Rabu, 06 Juni 2007, 21:31:24 WIB

Menunggu Bapak Pulang

Cerpen: Hujan

MALAM ini aku tidak lagi berpikir tentang kepulangan bapakku. Sebab sudah pasti 
dia tetap tak akan pulang. Lagi pula seandainya aku masih menunggu bapak dan 
menanyakan tentang keberadaannya pada emak, pasti emak akan menjawab dengan 
kata-kata yang itu-itu saja.

"Malam ini jangan kau tunggu lagi bapakmu Gam, sudahlah. Mungkin minggu depan 
dia pulang. Mungkin bulan depan. Mungkin juga tahun depan. Atau mungkin juga…".

Begitulah, jawaban emak. Aku tahu, setiap kali dia menjawabnya pasti dengan 
perasaan yang sedih.

Aku rindu bapak. Mak, aku bilang aku rindu bapak. Tapi, walaupun aku rindu, aku 
sudah lupa dengan wajah bapak.

Itu sudah setahun yang lalu. Ketika suatu malam sekelompok orang mendobrak 
pintu rumah kami. "Lari!" teriak emak. Aku tidak tahu apa-apa ketika itu. 
Tiba-tiba semua gelap. Kande yang menempel di dinding gedek rumah kami 
dipadamkan seseorang.

Sebuah hentakan keras, membuatku terkencing-kencing. Emak menangis. Suara benda 
beradu terdengar dari luar. Suara itu menuruni tangga rumah panggung kami. 
Masih dapat kudengar lamat-lamat suara bapak mengaduh. Suaranya yang merdu 
ketika melantunkan ayat-ayat suci berubah parau malam itu. Bahkan masih 
terdengar sakit suaranya di telingaku.

Emak menyalakan kembali kande yang menempel di dinding. Ku dekati si Inong, 
adik ku yang masih dalam gendongan. "Bapak di mana Mak?" tanyaku dengan suara 
bergetar. Emak menggeleng. Dia menoleh pada si Inong, sambil menghapus keringat 
yang ada di dahinya. Pukul sepuluh malam ketika itu. Tak satu pun tetangga yang 
mau menghibur kesedihan hati emak. Lantas aku berjinjit berusaha menggapai 
kande. Aku memeriksa dan membersihkan pipisku. Aku tahu, mungkin bapakku tak 
akan pulang malam itu.

Semua hening. Hanya pendaran nyala kande yang tersisa. Inong terlelap dalam 
dekapan Emak. Perlahan aku melihat bayangan hitam itu menghampiriku dan 
membimbingku ke kamar. "Tidurlah, mungkin besok bapak pulang" kata emak 
menghiburku. Tak kulihat tetes air matanya. Tak kulihat tetes air matanya.

Paginya, orang-orang bertanya pada emak tentang peristiwa semalam. Hanya 
sekedar bertanya. Setahuku, mereka cuma berbasa-basi saja. Sebab setahuku lagi, 
hampir semua penduduk yang tinggal di kampung kami itu sudah tidak memiliki 
anggota keluarga yang lengkap. Untuk berlebaran saja, tidak mungkin bisa 
mengumpulkan seluruh anggota keluarga. Makanya, pertanyaan mereka kepada emak, 
pagi itu kusimpulkan sebagai sebuah basa-basi. Tak lebih. Temanku si Fahmi, 
malah tidak punya siapa-siapa lagi.

"Mak, aku lihat bapak si Fahmi tertidur di bawah tangga meunasah . Padahal ‘kan 
tidak boleh ada orang tidur di luar rumah. Bapak yang ada di pos itu yang 
bilang padaku Mak. Eh, tapi waktu ku dekati, kok bapaknya si Fahmi lebih besar 
Mak. Mungkin masuk angin ya Mak?" ujarku suatu waktu. Kini aku tahu, bahwa 
bapak si Fahmi tidak sedang tertidur. Tapi mati karena dipukuli orang.

"Tapi kenapa dipukuli ya Mak?" tanyaku lagi. Emak diam saja. Dia tak sanggup 
menjawab pertanyaanku.

Waktu itu, bapakku masih ada di ladang. Sorenya ketika dia pulang memungut 
getah, dia melihat Teungku Leman, uwaknya si Fahmi terkapar dengan darah yang 
keluar dari kepala.

Dengan ketakutan, bapak melaporkan penemuannya itu kepada Geuchik. "Teungku 
Leman guru mengaji kami. Kenapa dia di tembak ya? Apakah ajarannya salah?" 
sejak peristiwa penemuan mayat Teungku Leman, bapak jadi sering terlihat 
ketakutan. Malahan, kadang-kadang bapak tidak tidur di rumah.

"Ke mana bapak, Mak?" tanyaku. "Sttt… tidurlah," jawab emak. Setiap aku 
bertanya emak selalu begitu. Kadang-kadang aku ingin bertanya, "Kenapa Emak 
selalu Sttt… setiap kali aku tanya bapak ke mana?". Tapi aku selalu takut. 
"Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti ini semua" jawab emak nanti mengulangi 
jawaban yang sudah-sudah.

Setiap bapakku pergi, emak biasa tidak tidur semalaman dan bergadang menjaga 
pintu, sambil memandangi kande di dinding gedek rumah kami. Kadang-kadang emak 
juga melantunkan isi Qur’an. Suara emak memang merdu. Aku selalu ketiduran 
setiap kali aku duduk menghadap jendela kamar, dengan niat menunggu bapak 
pulang. Aku tak pernah benar-benar bisa menunggui bapak sampai pagi.

Menurut emak, bapak pergi ke gunung untuk mengutip getah. Tapi waktunya kadang 
kala tidak beratur dan bapak sering menginap di luar sampai berhari-hari. Aku 
sendiri tidak pernah tahu kalau kami memiliki ladang yang luas di atas gunung.

Aku pernah berniat mengikuti bapak dari belakang ketika pada suatu hari dengan 
tergesa-gesa dia meninggalkan rumah dan mengayuh sepeda dengan kencang. Tapi 
dengan sigap sepasang tangan menghentikanku. Pundakku dicengkram dengan kuat. 
Sakit sekali. Aku tidak bisa bergerak. "Gam, di mana bapak?" Tanya orang itu. 
Wajahnya dingin sekali. Begitu juga dengan orang yang berdiri memegang senjata 
di sampingnya. Aku takut sekali. "Bapak ke ladang, mengambil getah," jawabku 
polos saja. Sejak pertemuan itu, aku tak berani lagi berada jauh-jauh dari 
rumah. Takut orang itu akan kembali lagi dan menanyakan tentang keberadaan 
bapakku yang masih misteri.
***
Suatu malam sebuah mobil kijang berhenti di depan rumah kami. Beberapa orang 
turun dan langsung saja menghampiri emak yang pada saat itu sedang menumbuk 
emping. "Dimana suamimu?" Tanya mereka kasar. "Pergi ke Medan," jawab emak 
lantang. Aku tahu, pada saat itu emak sedang berbohong. Karena setahuku bapak 
pergi ke gunung untuk mengambil getah karet.

Salah seorang dari mereka kemudian menghampiriku. Orang itu berkumis tipis, 
wajahnya tenang sekali. Dia mengeluarkan uang dari saku kemejanya. "Di mana 
bapak?" tanyanya lembut. Aku menatap emak. Cahaya kande yang pendar-pendar 
menambah warna pucat di wajah emak. "Di Medan," ketusku menirukan emak.

Orang itu sangat kecewa, karena tidak dapat mendapat berita dari mulutku. Namun 
dia tetap memberikan uang itu padaku. "Kalau bapak sudah pulang, kasih tahu 
saya yah, saya ada di pos depan itu,".

Itu adalah kali terakhir orang-orang itu menanyakan keberadaan bapak. Seminggu 
setelah kejadian itu bapak pulang. Sepedanya dimasukkan ke dalam rumah dengan 
terburu-buru. Emak langsung mendekap bapak sambil membisikkan sesuatu ke 
telinga bapak.

Malamnya bapak mengutarakan niatnya kepada kami semua, kali ini bapak akan 
pergi lama, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Emak hanya terdiam sewaktu 
mendengar cerita bapak. Bapak juga menyuruh emak untuk pindah dan menjual 
ladang karet kami di gunung.
"Sebenarnya bapak mau pergi ke mana?" tanyaku. Tapi bapak diam dan cuma 
mengelus kepalaku. "Gam, belajar yang baik ya," kata bapak. Suaranya tercekat 
ketakutan.

Sebuah ketukan kasar memecahkan keheningan rumah kami. Bapak bangkit dan 
berlari ke belakang pintu. Nyala kande terlihat liar dan serasa ingin membakar 
rumah kami. Pintu didorong paksa. Sekelompok orang menenteng senjata menerobos 
masuk ke dalam rumah. "Bapak," teriak ku. Mereka berjumlah lebih dari sepuluh. 
Rumah kami serasa ambruk karena derap sepatu mereka. "Farza…" Suara emak 
berdesing nyaring seperti peluru. Seseorang mengambil kande yang menempel di 
gedek rumah. Kemudian meniupnya. Gelap. Di luar rumah terdengar suara raungan 
bapak. "Emak," aku menangis. Tak sadar, celanaku basah. Aku sangat ketakutan 
malam itu.

***
Setelah kejadian itu aku tidak lagi bertemu dengan bapakku. Kehidupan di rumah 
kami juga sudah menjadi biasa. Mungkin ini dikarenakan juga oleh situasi 
kampung kami yang memang sepi. Terlebih ketika satu persatu lelaki dewasa 
hilang dibawa malam. Sedang para remaja, berbondong-bondong pergi ke luar dari 
kampung. Aku pernah mendengar cerita dari si Fahmi, bahwa abangnya juga sudah 
pergi, naik ke gunung. Sekarang kampung kami telah sepi dari lelaki. Yang 
tinggal cuma kami. Bocah-bocah lelaki dan seorang imam desa, Teungku Jamil 
namanya. Dia sudah 72 tahun, telinganya juga sudah pekak.

Malam ini, setahun kemudian, aku masih duduk berjaga sambil menatap pada 
kilauan kande yang asapnya membumbung hitam ke langit-langit ruangan. "Belum 
tidur, Gam?" Tanya emak. Suaranya semakin menua. Emak melintas di hadapanku 
sambil mengenakan mukena. Sekarang aku sudah cukup besar untuk mengetahui 
kebenaran kisah bapakku.

"Sebentar lagi Mak." jawabku pelan. Jawaban ini selalu berulang pada setiap 
malam. Namun aku tak pernah jenuh dengan jawaban itu. Dan emak juga, dia selalu 
sabar menanyakan hal yang sama padaku setiap malam. "Jangan tunggu lagi 
bapakmu, bapak tidak akan pulang, sudahlah. Mungkin minggu depan dia pulang. 
Mungkin bulan depan. Mungkin juga tahun depan. Atau mungkin juga…".

"Mak, malam ini sudah Agam putuskan untuk tidak menanti bapak lagi. Agam mau 
mencari bapak saja." Kataku.

"Ke mana Gam?" Tanya emak sambil menarik selimut si Inong. "Tidak tahu Mak," 
jawabku sambil beranjak ke arah kande yang menempel.

Kali ini aku sudah tidak lagi berjinjit untuk menjangkaunya. Aku sudah besar 
sekarang. Keadaan telah membuatku cepat besar dari usiaku sebenarnya.
Untuk itulah tekadku sudah bulat, besok pagi-pagi aku harus ke gunung.

Lantas kande itu ku tiup. Sekarang hanya gelap yang tersisa. Secercah sinar 
rembulan menembus kisi-kisi gedek rumah kami. "Bapak," bisikku pelan pelan 
sekali.

Jakarta, 23 Mei 05

Catatan: Kande (Aceh)= Pelita 

 
---------------------------------
Don't get soaked.  Take a quick peak at the forecast 
 with theYahoo! Search weather shortcut.

Kirim email ke