Temans, lagi, cerita saya dimuat di situs berita Rakyat Merdeka Online.
silakan dibaca, dan dikomentari.
tabik
hujan
RUMAH KACA
ranah sastra merdeka
Jumat, 06 Juli 2007, 23:38:12 WIB
Hujan Pun Turun Deras
Oleh: Hujan
Yakin, Hakkul Yakin! Andalah Guru itu!.
Betul! sahut yang lain serempak.
Saiman lunglai. Menundukkan wajah. Sementara kepungan orang-orang yang ingin
tahu jalannya persidangan itu semakin sesak.
Dua belas jam yang lalu:
Di sebuah tempat, Saiman masih dikelilingi sahabat-sahabatnya. Dengan gamang
dan suara bergetar dia menyampaikan khotbah terakhirnya.
Terus terang aku sangat takut untuk memenuhi panggilan komandan polisi pamong
praja itu. dia berhenti sejenak, menarik nafas dalam dan membuangnya
pelan-pelan sekali.
Ruangan itu hening. Di meja pertemuan, hanya tersisa remah-remah roti, sebotol
kosong coca-cola, cangkir-cangkir kopi yang setengah isi serta tarian asap
tembakau yang keluar dari bibir-bibir kelu.
Masri, salah seorang yang hadir dalam pertemuan itu kemudian bangkit. Dan
berbisik kepada Saiman. Permisi, aku harus membeli nasi buat bekal esok pagi,
bisik Masri.
Saiman berdehem dan mengangguk. Masri beranjak meninggalkan kumpulan
pemuda-pemuda itu. Ruangan hening kembali. Yang terdengar hanya detik jarum jam
dinding yang berdetak semakin kencang.
Pasti dia! Pasti dia penghianatnya, tuding Suta sambil menunjuk ke arah Masri
yang telah menghilang di balik pintu.
Sabar, tenang. sergah Saiman. Jikalau memang benar adanya, dia telah
menghianatiku, aku pasrah. Itu sudah jalanku. gumam Saiman. Suaranya nyaris
tak terdengar. Sementara teman-temannya yang lain semakin tegang. Khusu
menantikan pergantian jam.
***
Bukan, saya bukan dia. Anda semua pasti keliru. Saiman memelas. Wajahnya
masih tertunduk ke lantai. Sementara kedua tangannya masih terkulai di antara
dua pahanya.
Andalah dia, mengapa tidak mengaku saja? Mengakulah! Kami sudah capek menunggu
kehadiran Anda. Kami sudah muak dengan kehadiran oran g-orang yang selama ini
mengaku sebagai Anda. tanya komandan polisi pamong praja.
Saiman tetap bungkam. Hanya janggutnya yang menggantung seperti sarang lebah
yang terayun-ayun oleh angina yang melindap masuk ruangan interogasi.
Selama ini, kami telah menghukum bagi setiap penipu yang berani mengaku
sebagai Anda! Kami telah mempersiapkan tempat bagi Anda. Maka, sekarang
mengakulah!
Saiman tetap menundukkan wajahnya. Sementara hadirin semakin menyesaki ruangan
interogasi. Semuanya ingin bertatap muka dengan Imam Mahdi yang asli.
Sementara itu, sepuluh jam yang lalu:
Saiman masih meratap di atas tempat duduknya. Sembilan sahabatnya telah pergi,
meninggalkan dia untuk berjaga-jaga di depan rumah, sebuah tempat yang telah
mempersatukan sebelas pesepak bola kampung yang tak sengaja terkenal tiba-tiba.
Saiman masih mengingat-ingat semua paragrap tentang hidupnya. Seingatnya, dia
hanya seorang guru honor yang tak tamat kuliah. Tak punya pacar, sederhana,
bertani sagu, membuka bengkel, ikut pengajian, bermain layangan. Kebetulan saja
dia suka bermain sepak bola. Berkumpul dengan Masri, Suta serta delapan teman
mereka yang lain. Kemudian mendirikan rumah yang mereka sebut Rrumah Kaca,
tempat sehari-harinya mereka menghabiskan waktu.
Sinting! mana mungkin dia itu Ratu Adil? Mana ada Ratu Adil yang seperti
dia? Wajah bodoh, dekil, miskin. Ah
pokoknya sama sekali tak menarik! Jauh
dari anganku selama ini! samar-samar terdengar suara dari sebuah ruangan di
Rumah Kaca.
Saiman mendengar percakapan itu. Agaknya, para sahabatnya masih tetap meragukan
dia. Saiman bangkit. Hatinya semakin mantap. Dia yakinkan lagi, kalau dia bukan
Mahdi, seperti yang selama ini warga cari-cari.
***
Hari semakin terang. Gelombang orang-orang semakin berdatangan. Saiman tak
mengerti. Tak habis mengerti. Sekarang dia telah menjadi tontonan oran g-orang.
Itu Saiman, guru honor di SD anak kita. bisik seorang ibu yang datang ke
kantor polisi pamong praja pagi ini. Saiman termangu, sambil mengelus-elus
janggut tipisnya yang menjuntai indah.
Kami mohon dengan sangat, Anda mengaku saja. bujuk Komandan memecah galau
Saiman. Selama ini, kami memang telah membuat kekeliruan. Dan karena
kekeliruan itu kami tak bisa lagi lurus berjalan di jalan kebenaran. sambung
Komandan.
Kami akui, maksud saya, saya akui, selama ini warga benar-benar bodoh. Dan
tenggelam dalam kealpaan. Larut dalam kekeliruan. Kami membutuhkan sokoguru.
Kami merindukan Mesiah! kata Komandan lagi sambil menopangkan lutunya di
lantai, bersimpuh di depan Saiman.
Saiman bergeming. Gundah hatinya semakin menjadi. Dia tak mungkin mengakui
sesuatu yang dia tak tahu. Saiman terlalu lugu dan jujur terhadap keterbatasan
yang dimilikinya.
Anda mau apa? Mobil? Istri-istri yang cantik? Istana di Pondok Indah, atau
apa?. Guru, kami pasti akan memenuhinya. Kecuali satu hal, yakni jadi
presiden, kata Komandan lagi.
Betul, Guru mau apa? Anak gadis saya? Saya akan beri. Saya punya dua. Andaikan
Anda mau keduanya, saya rela. Rela, sambung seorang hadirin. Saiman terpana.
Dia tak tergoda dengan bujuk Komandan atau pun tawaran oran g itu.
Delapan jam yang lalu:
Surgaku itu nyata. ujar Saiman. Suta dan teman-teman yang lain mendengarkan
keluh Saiman. Selama ini, kalian sudah banyak membantu mewujudkan
mimpi-mimpiku,
Tidak, Guru, potong Suta. Mimpimu adalah mimpi kita semua. Dalam hati kami,
semua ide dan pengharapanmu adalah doa alam semesta. Kami percaya, bahwa surga,
bahwa majapada yang ada dalam kepalamu, adalah tempat yang menyenangkan. Tak
akan adalagi kemiskinan. Tak ada lagi orang-orang yang curiga pada tetangganya.
Dan yang pasti, surgamu itu pastilah sebuah tempat yang paling indah untuk kita
menghabiskan waktu bersama-sama bermain bola.
Kenang-kenanglah aku, kenang-kenanglah semua kata-kataku. Jangan marah pada
Masri. Jangan marah pada Komandan polisi pamong praja. Jangan salahkan
siapa-siapa. Ini hanyalah sebuah proses yang memang harus kulalui. kata Saiman
Guru, kau memang Mahdi, kau memang Ratu Adil, kau lah perwujudan segala
kebaikan dan keadilan yang pernah diciptakan Tuhan. Kami akan selalu ingat
ajaranmu. ujar Suta.
Aku siap menggantikan posisimu sebagai kapten kesebelasan. Aku pastikan, tak
akan ada anak-anak SD yang akan kehilangan dirimu. Kami siap mengajar, meski
tanpa dibayar.
Kami siap Guru, demi cita-citamu. tambah Raka, seorang temannya yang termuda.
Aku mencintai kalian semua. Aku bangga pernah satu tim dengan kalian semua,
***
Saya bukan Mahdi, saya bukan Ratu Adil. Keliru. Ini sama sekali kebohongan.
bantah Saiman.
Bohong! Anda pasti bohong! Tolong jangan paksa kami untuk melakukan hal yang
bodoh! Kami sudah pintar sekarang. Kami sudah bisa membedakan mana yang benar.
Dan kami yakin seribu persen, kami benar! Andalah Mesias itu! Anda tak lagi
bisa mengelak. Tak bisa menghindar! Ngaku saja, Anda sang Ratu Adil yang selama
ini banyak dirindukan orang! tekan Komandan polisi.
Ruangan itu semakin gaduh. Hadirin tambah penasaran dengan pengakuan Saiman
yang mengingkar.
Saya siap bersaksi, bahwa dia ini adalah Mesiah yang selama ini kita nanti.
kata seorang kakek yang hadir di antara kerumunan orang.
Saya ingat, oran g inilah yang telah menyelamatkan saya dari kesesatan. Suatu
hari, anak muda ini muncul di ladangku. Lalu dia merobohkan dinding gedek saya.
Tak lama setelah saya memperhatikan ulahnya, lewat konvoi tentara. cerita
bapak Tua itu.
Lantas apa yang terjadi? tanya Komandan.
Ajaib, ajaib Komandan, Pemuda ini telah menyelamatkan harta saya! Padahal saat
itu saya memang telah dicari-cari karena korupsi. Dan harta itu saya simpan di
bawah tanah. Tempat berdirinya tapak gedek yang dirobohkan Pemuda ini, kata
Bapak tua itu sambil menunjuk Saiman yang tengah tergagap-gagap.
Hadirin tertawa. Komandan juga ikut tertawa. Ruangan bergemuruh suara tawa.
Tawa dari orang-orang rakus dan jahil di abad modern. Tawa dari orang-orang
yang menjadikan korupsi sebagai suatu kebiasaan, dan kepalsuan sebagai pakaian
sehari-hari.
Betul, dia sang Guru, dia Mahdi seperti dalam kitab suci! Dia Mesiah yang
dinantikan
.
Pekik semua oran g disertai tawa girang. Saiman semakin tergagap. Cemas pada
nasibnya. Cemas pada kenyataan. Barang tentu dia bukan sang Guru yang dimaksud
warga. Namun bisa jadi pula dia adalah Mesiah. Dia tak begitu paham apa maunya
dunia. Dia hanya ingin pergi dari kantor polisi pamong praja untuk mengajar,
dan sore harinya, pergi ke lapangan untuk bermain bola.
Saiman tak akan mungkin habis berpikir. Mengapa dirinya diburu warga. Mengapa
dirinya dituduh sebagai Mahdi, Ratu Adil ataupun Mesiah. Saiman hanya tahu
dirinya adalah pemain bola, tepatnya gela ndang kiri. Itulah posisinya. Posisi
yang akan selalu diisinya.
Enam Jam lalu:
Ingat-ingat pesanku wahai temanku. Kekompakan adalah kunci dari kemenangan.
Meski sepeninggalku kelak kalian akan kehilangan kapten, namun tetaplah
bermain, seolah-olah aku ada di antara kalian di lapangan. kata Saiman sambil
tengadah ke langit. Dini hari itu adalah saat paling khidmat yang pernah ada di
dalam hidupnya.
Suta, kupercayakan murid-muridku kepadamu. kata Saiman lagi sambil
memalingkan wajah.
Suta melengos, menarik nafas panjang. Siap perintah Guru.
Saiman berdehem, dia baru ingat sekarang, mengapa semua temannya memanggil dia
Guru. Tentulah ini semua ada hubungannya dengan profesinya yang memang guru
honor di sebuah SD. Bagi dia, panggilan itu mungkin saja sebuah panggilan
kehormatan. Tapi mungkin juga adalah sebuah ejekan.
Anda Guru! Anda Guru kami. Guru seluruh dunia, pembebas kebodohan manusia.
Pahlawan penumpas penyakit kami, penyebar cinta! sorak hadirin yang ada di
ruangan.
mengakulah Guru, bimbing kami ke arah kebenaran! Kenalkan kami kepada kasih
Sang Hyang! Guru
. Ijinkan kami menyentuh kakimu
berkahi kami kata orang-orang
yang berkerumun semakin liar. Komandan polisi pamong praja memerintahkan
pasukannya untuk membangun bari kade pengawalan Saiman. Aksi tolak menolak pun
terjadi.
Jam tiga pagi tadi:
Pintu Rumah Kaca digedor. Berhamburanlah pasukan pamong praja masuk. Suta dan
teman-temannya mencoba dengan keras menahan laju pasukan pemerintah itu.
Hormati kami selaku tuan rumah, tukas Suta sambil menarik tangan seorang
polisi.
Saiman
. tunjuk seseorang di antara polisi yang berhasil menembus kawalan
teman-teman Saiman. Dia Masri, penyerang dalam tim sepak bola. Saiman masih
mengenali Masri.
Saiman, maafkan aku. kata Masri sambil mendekat dan mencium Saiman.
Masri, Penghianat! Mampus saja kau! teriak Suta yang tak terbendung lagi
marahnya. Suasana kacau, Rumah Kaca doyong. Semua berhamburan, saling jibaku
memperebutkan Saiman.
Polisi pamong praja terpaksa melepaskan beberpa tembakan peringatan, Sudah,
cukup my men. Jangan ikut campur urusanku. Cukup kau ingat saja pesanku, kata
Saiman dibawah todongan senjata milik polisi pamong praja.
Saiman, Kau bukan Dia. Kau teman kami. Kau Guru kami, kau kapten kami, seru
Suta sambil mencoba menahan polisi yang hendak menggiring Saiman.
Sudah terlambat sobat. Terus terang aku memang tak pernah percaya pada kalian.
Nanti, sebelum jam sekolah dimulai, tiga kali kau akan menyangkalku. Tiga kali
kau akan mengakuiku sebagai Guru, balas Saiman terburu-buru. Suta melengos.
Dendam kesumat di dadanya mulai menyala. Dia harus mengejar Masri yang kabur.
Masri, kau jemput ajalmu, Maki Suta. Sekarang formasi bubar. Kita akan
bertemu nanti sore. Tapi bukan di sini. Di sebuah tempat nanti, perintah Suta
kepada teman-temannya.
***
Jam di dinding ruang interogasi sudah menunjuk angka enamlebihtigapuluh.
Matahari sembunyi di balik awan gelap yang semakin menjuntai rendah di atas
langit kota kami.
Interogasi terhadap Saiman masih berlangsung. Kali ini ruangan sudah tak mampu
lagi menampung hadirin yang datang, sehingga Komandan polisi pamong praja
terpaksa memindahkan lokasi interogasi ke lapangan sepak bola
Saiman di halau bak kerbau. Digiring kanan-kiri menuju lapangan rumput yang
biasa dijadikannya sebagai ajang senang-senang bersama sepuluh temannya.
Sementara itu kabar keberadaan sang Mesiah telah sampai ke pelosok negeri yang
paling pelosok. Semuanya hadir dan mau memastikan bahwa Saiman adalah Guru yang
dijanjikkan seperti yang ada di dalam kitab suci.
Dengan sekejap lapangan bola yang menjadi saksi kehebatan Saiman dalam
membombardir gawang lawan telah dipenuhi Guru mania. Dipenuhi oran g-orang yang
rindu pada kebenaran.
Lihat janggutnya, dia Sang Guru, kata seorang perempuan muda gemas, tatkala
melihat Saiman didudukkan di atas sebuah mimbar.
Guru, berilah sepotong khotbah
pinta yang lain. Saiman masih bungkam.
Sementara diam-diam dia memperhatikan kehadiran Suta di antara kerumunan
orang.
Hei, kau. Kau yang selalu berada di samping Guru. Akuilah, kalau lelaki yang
ada di atas mimbar itu benar-benar Guru, kata Komandan polisi pamong praja
menangkap lengan Suta.
Suta terpojok. Apalagi ketika seorang polisi lainnya menyerahkan sebuah toa ke
tangan Suta. Bicara atau mati! kata polisi itu.
Tenang, tenang hadirin. Kawan kita ini, Suta, akan memberikan kesaksian. Jadi
dimohon diam. kata Komandan polisi.
Hadirin senyap sejenak. Tinggalah pasukan pamong praja yang membangun pagar
betis di lokasi interogasi Saiman.
Suta muncul dan berdiri persis di depan Saiman. Lelaki itu dengan gamang
memandang Saiman. Kalau benar ini memang jalanmu, maka ini memang jalanmu,
bisik Suta kepada Saiman. Lantas Suta membalikkan badan dan menghadap kepada
hadirin.
Dengan sayu ditatapnya ribuan orang yang sudah hadir di lapangan itu, kemudian
diangkatnya toa.
Iya, benar sekali, lelaki itu, yang kami kenal sebagai Saiman, adalah Guru.
Dia adalah Guru, Guru, Guru, Guru, Guru, Guru, Gu
Saiman menagis mendengar kesaksian Suta. Suta, Suta, kenapa kau lakukan ini?
gumam Saiman sambil menundukkan wajah ke atas rumput lapangan yang hijau.
Langit makin mendung. Hujan tumpah perlahan membasahi lapangan sepak bola.
Lihat, ini hujan. Ini rahmat. Ini suara ilahi. Ini pertanda, kalau lelaki ini
adalah Mahdi kata seorang hadirin
Dia Ratu Adil yang riil, kata yang lain.
Dia Mesiah yang sebenarnya, sambung orang lain lagi.
Bergelombang mereka meyakini kalau hujan yang turun pagi ini adalah pertanda
kemahdian Saiman.
Ayo minta berkah, minta ampun, minta taubat,
Ayo,
Tobat,
Berkah,
Guru,
Minta uang sekalian,
Minta kode buntut juga,
Minta voucher ke surga,
Minta
.
Tanpa komando lagi, orang-orang yang hadir itu menerabas bari kade dan pagar
betis yang dibangun polisi pamong praja. Ribuan oran g menusuk langsung ke
mimbar di mana Saiman didudukkan. Memukul polisi pramong praja yang menjaga
Saiman.
Guru
.. teriak mereka sambil berusaha menggapai-gapai Saiman. Saiman
menghindar ke kiri dan ke kanan. Tempat duduknya oleng, mimbarnya doyong.
Saiman beranjak dari duduk, namun akhirnya dia tergelincir karena hujan yang
turun semakin deras.
Guru, berkati kami
.
Saiman tak bisa bergerak. Bajunya ditarik, ke kanan dan kiri. Saiman
diperebutkan, seperti ketika dulu dia memperebutkan si kulit bundar bersama
teman-temannya di lapangan bola.
Aku dapat sejumput janggutnya, teriak ibu-ibu yang berhasil menarik janggut
Saiman.
***
Setengah jam berlalu. Saiman terbaring kaku di lapangan. Bajunya robek, luka
cakar menganga di sekujur tubuhnya. Darahnya mengalir, bersama air hujan yang
turun semakin deras saja.
Lihat sekarang dia mati, siapa yang bertanggung jawab?
Betul, gimana sih? Masa kita harus membunuhnya dua kali?
Bah, yang macam mana pula kalian, makanya antri dong,
Ah, dia mati lagi,
Bubar ah, bubar..
Dari atas tribun Masri hanya bisa memandang ke arah temannya yang telah tak
bernyawa.
Sudah kukatakan padamu, hari ini tak ada yang bisa membedakan nabi dan
pencuri. cibir Masri.
Maafkan aku Saiman. Jangan kau pikir aku rela mati bunuh diri. Sudah lah.
Bagaimanapun ini bukan seperti yang tertulis di kitab suci. Sambung dia sambil
mengembangkan payung dan berjalan di tengah hujan.
Palmerah, 5 Juli 07 <
---------------------------------
Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car
Finder tool.